Komunitas Filsafat™ » Beranda Filsafat » » Tentang Pengetahuan (4)

Tentang Pengetahuan (4)

Gaosur Rohim Friday, April 12, 2013 2 Comments
Tentang Pengetahuan 4
Ilmu mencoba menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian. Dalam usaha menemukan penjelasan ini, terutama penjelasan yang bersifat mendasar dan postulasional, maka ilmu tidak bisa melepaskan diri dari penafsiran yang bersifat rasional dan metafisis. Pengkajian ilmu yang hanya sekedar pada kulit luarnya saja, yang tanpa berani mengemukakan postulat-postulat yang bersumber penafsiran metafisis, tidak akan memungkinkan kita sampai kepada teori Fisika Nuklir. Paling-paling mendapatkan pengetahuan yang tidak berbeda jauh dari akal sehat yang lebih maju.


Menurut BERTRAND RUSSELL (-) dalam bukunya, The Scientific Outlook, ilmu mempunyai dua buah peranan. Pada satu pihak sebagai metafisika, sedangkan pada pihak lain sebagai "akal sehat yang terdidik" (educated commom sense).1) Lalu bagaimana caranya agar kita dapat mengembangkan ilmu yang mempunyai kerangka penjelasan yang "masuk akal" dan sekaligus mencerminkan kenyataan yang sebenarnya ? Berkembanglah dalam kaitan pemikiran ini, metode experimen yang merupakan "jembatan" antara penjelasan teoretis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris.

Metode Experimen, dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan Islam, ketika ilmu dan pengetahuan lainnya mencapai "titik kulminasi" antara Abad ke-9 Masehi hingga Abad ke-12 Masehi.2) Semangat mencari kebenaran yang dimulai oleh pemikir-pemikir Yunani, dan hampir padam dengan jatuhnya Kekaisaran Romawi, dihidupkan kembali oleh kebudayaan Islam. H. G. WELLS (-) dalam bukunya, The Outline of History, menyatakan bahwa : Jika orang Yunani adalah Bapak Metode Ilmiah, maka orang Muslim adalah Bapak Angkatnya. Memang, sepanjang perjalanan sejarah, maka lewat orang-orang Muslimlah, dan bukan lewat kebudayaan Latin, dunia modern sekarang ini mendapatkan kekuatan dan cahayanya.3) Experimen ini dimulai oleh ahli-ahli al-kimia yang memungkinkan pada awalnya didorong oleh tujuan untuk mendapatkan obat ajaib untuk tetap awet muda (elixir vitae) dan rumus membuat emas dari logam biasa, namun secara lambat laun berkembang menjadi paradigma ilmiah.

Metode experimen ini, pertama kali diperkenalkan di dunia Barat oleh filsuf bernama ROGER BACON (1214-1294 M.) dan kemudian dimantapkan kembali sebagai paradigma ilmiah atas perjuangan FRANCIS BACON (1561-1626 M.). Sebagai penulis yang ulung dan fungsinya sebagai Lord Verulam,4) maka Francis Bacon berhasil meyakinkan masyarakat ilmuwan untuk menerima metode experimen sebagai kegiatan ilmiah. Singkatnya, maka secara wajar dapat disimpulkan bahwa secara konseptual, metode experimen dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim, dan secara sosiologis, metode experimen dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. (Meskipun Francis Bacon sendiri secara tidak jujur tidak pernah menyebutkan para pendahulunya).

Dewasa ini, memang banyak kecenderungan untuk memperkecil sumbangan dunia Timur terhadap munculnya Reanissance dalam peradaban Barat.5) Misalnya, dalam buku The History of the World karangan RENE SEDILLOT (-), disebutkan bahwa warisan Islam terhadap peradaban manusia adalah "pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanah pun yang ditanami". Padahal justru sebaliknya, lewat terjemahan yang dilakukan pada peradaban Islam antara Abad ke-9 Masehi dan Abad ke-12 Masehi itulah maka filsafat Yunani bisa dibaca manusia sekarang ini. (Menarik untuk dicatat, bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam tersebut dimulai dengan perkembangan Filsafat, dan kemunduran ilmu pun dimulai dengan kematian Filsafat).6)

Demikian juga pertanian di Spanyol (Andalusia), misalnya, mendapatkan warisan peradaban Islam yang bermanfaat sampai hari ini, yakni dalam bentuk sistem irigasi yang bersumber pada penghargaan bangsa Arab yang sangat tinggi terhadap air yang sangat langka di padang pasir.7) Kesalah-pahaman semacam ini, menurut ahli sejarah yang terkemuka, yakni GOERGE SARTON (-), sering disebabkan oleh "sentimen nasionalisme dan prasangka" yang bisa dilakukan oleh siapa saja apakah mereka itu sarjana Muslim, Hindu, Barat, atau lainnya.8)

Usaha pengembangan metode experimen yang berasal dari Timur ini, mempunyai pengaruh penting terhadap cara berpikir manusia, karena dengan demikian, maka berbagai penjelasan teoretis bisa diuji, apakah sesuai dengan kenyataan empiris ataukah tidak. Dengan demikian, maka berkembanglah metode ilmiah yang menggabungkan cara berpikir deduktif dengan cara berpikir induktif. Dalam Pohon Silsilah Logika 9), bisa kita lihat perkembangan logika ilmiah yang merupakan pertemuan antara Rasionalisme dengan Empirisme. GALILEO GALILEI (1564-1642 M.) dan ISAAC NEWTON (1642-1727 M.) merupakan pionir yang menggunakan gabungan berpikir deduktif dengan induktif ini dalam penyelidikan ilmiah mereka.10) Penelitian CHARLES ROBERT DARWIN (1809-1882 M.) yang membuahkan teori evolusi-nya juga menggunakan metode ilmiah.

Deskripsi secara mendalam tentang metode ilmiah, ditulis oleh KARL PEARSON (1857-1936 M.) dalam bukunya yang sekarang sudah menjadi klasik yang berjudul The Grammar of Science. Buku yang sangat menarik itu diterbitkan sekitar tahun 1890, yang disusul oleh buku JOHN DEWEY (1859-1952 M.) yang berjudul How We Think yang terbit pada tahun 1910. Secara filsafati, John Dewey mengupas makna dan langkah-langkah dalam metode ilmiah.

Dengan berkembangnya metode ilmiah dan diterimanya metode ini sebagai paradigma oleh masyarakat keilmuan, maka sejarah kemanusiaan menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat. Dirintis oleh NICOLAUS COPERNICUS (1473-1543 M.), JOHN KEPLER (1571-1630 M.), GALILEO GALILEI (1564-1642 M.) dan ISAAC NEWTON (1642-1727 M.), ilmu mendapatkan momentumnya pada Abad ke-17 Masehi dan seterusnya tinggal landas.

ALFRED NORTH WHITEHEAD (-) menyebutkan periode antara 1870-1880 adalah sebagai "titik kulminasi" perkembangan ilmu, dimana HELMHOLTZ (-), PASTEUR (-), CHARLES ROBERT DARWIN (1809-1882 M.) dan JAMES CLERK MAXWELL (-) berhasil mengembangkan penemuan ilmiahnya.11) Gejala ini sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena metode ilmiah memanfaatkan kelebihan metode-metode berpikir yang ada, dan mencoba untuk memperkecil kekurangannya.

Pengetahuan ilmiah tidak sulit untuk diterima, karena pada dasarnya adalah akal sehat, meskipun ilmu bukanlah sembarang akal sehat, melainkan "akal sehat yang terdidik". Pengetahuan ilmiah tidak sulit untuk dipercaya, sebab dia bisa diandalkan, meskipun tentu saja tidak semua masalah bisa dipecahkan secara keilmuan. Itulah sebabnya maka kita masih membutuhkan berbagai pengetahuan lain untuk memenuhi segala kebutuhan kita, sebab bagaimanapun majunya ilmu, secara hakiki dia adalah terbatas dan tidak lengkap.


Semoga ada manfaatnya....!







1. Bertrand Russell, The Scientific Outlook (New York: W. W. Norton, 1959), hlm. 97.
2. Untuk pembahasan yang lebih lengkap mengenai sumbangan Islam terhadap perkembangan ilmu, bacalah buku Saleh Iskandar Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan Modern (Jakarta: Girimukti Pasaka, 1981).
3. H. G. Wells, The Outline of History (London: Cassell and Company, 1951), hlm. 624.
4. Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 115.
5. E. W. F. Tomlin, The Western Philosophers (New York: Harper, 1963), hlm. 118.
6. Suriasumantri, loc. cit.
7. Bertrand Russell, A History of Western Philosophy (New York: Simon & Schuster, 1945), hlm. 423.
8. George Sarton, The Study of the History of Mathematics and Science (New York: Dover, 1936), hlm. 20.
9. Suriasumantri, op. cit., hlm. 116.
10. Harold A. Larrabee, Reliable Knowledge (Boston: Houghton Mifflin, 1964), hlm. 97.
11. Alfred North Whitehead, Science Philosophy (New York: Philosophical Library, 1948), hlm. 106.








2 comments:

  1. thank's gan infonya gan,, i like that gan ,,,, berguna banget nih gan buat ane gan,,,,

    ReplyDelete

Komentar, kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami terima dengan tangan terbuka.
Komentar Anda akan dianggap SPAM jika:
- Menyematkan Link Aktif
- Mengandung dan/atau Menyerang SARA
- Mengandung Pornografi

Tidak ada CAPTCHA dan Moderasi Komentar di sini.

Entri Populer

 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.