Apa itu Filsafat Ilmu?

Gaosur Rohim Wednesday, December 22, 2010 3 Comments
Apa itu Filsafat Ilmu?
Pada dasarnya Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan), yang secara spesifik mengkaji tentang hakikat-hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Sedangkan ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Secara metodologis, ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam (natural sciences) dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Namun karena permasalahan-permasalahan tekhnis yang bersifat khas, maka Filsafat Ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial.


Meskipun secara metodologis bahwa ilmu "TIDAK" membedakan antara ilmu-ilmu alam (natural sciences) dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences), akan tetapi karena adanya permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas itulah, maka Filsafat Ilmu ini kerap kali dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Sebenarnya pembagian ini lebih merupakan "pembatasan" dari masing-masing bidang yang ditelaahnya, yakni ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial. Namun sama sekali "tidak" mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom.

Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-pengetahuan lainnya secara filsafat, tetapi "tidak" terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam (natural sciences) dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences), di mana keduanya pun mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama.

Filsafat Ilmu, juga merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yakni seperti :

  • Obyek apa saja yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut ? Bagaimana nisbat (hubungan) antara obyek tersebut dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? dsb....
  • Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ? Hal apa saja yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa saja kriterianya ? Cara/teknik/sarana apa saja yang dapat membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ? dsb....
  • Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan ? Bagaimana kaitannya antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana cara penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitannya antara tekhnik "prosedural" yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional ? dsb....

Nah, pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok pertanyaan yang pertama, disebut landasan ontologis. Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok pertanyaan yang kedua, disebut landasan epistemologis. Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok pertanyaan yang ketiga, disebut landasan aksiologis.

Semua pengetahuan apakah itu ilmu, seni, atau pengetahuan apa saja, pada dasarnya mempunyai ketiga landasan ini (yakni ontologis, epistemologis, dan aksiologis). Kalaupun berbeda, yang membedakannya hanyalah "materi perwujudannya", serta sejauh mana "landasan" dari ketiga aspek ini dikembangkan dan dilaksanakan.

Dari semua pengetahuan, maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya telah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Serta dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. Nah, dari pengertian inilah, sebenarnya berkembang pengertian ilmu sebagai disiplin, yakni pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakan "aturan-aturan mainnya" dengan penuh "tanggung jawab" dan kesungguhannya.

Jadi, untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya, maka 3 pertanyaan (dari 10 mabadi ilmu) yang dapat diajukan adalah :

  1. Apa saja yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi) ?
  2. Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tsb (epistemologi) ?
  3. Untuk apa pengetahuan tersebut dipergunakan (aksiologi) ?

Dengan mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan ini, maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khazanah kehidupan manusia.

Setiap jenis pengetahuan, pasti mempunyai ciri-ciri yang "spesifik" mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan. Jadi, ontologi ilmu berkaitan dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu berkaitan dengan aksiologi ilmu, dan seterusnya.

Jadi jika kita ingin membicarakan ontologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan epistemologi ilmu dan aksiologi ilmu; Jika kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi ilmu dan aksiologi ilmu; Jika kita ingin membicarakan aksiologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi ilmu dan epistemologi ilmu.

Pada dasarnya ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya, dan terbatas pada "ruang lingkup" pengalaman k0ita (lihat pembahasan selanjutnya dalam Ruang Lingkup Penjelajahan Ilmu). Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu, dengan tujuan untuk menjawab permasalahan-permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi manusia. Bahkan, kadang digunakan dalam menawarkan berbagai macam kemudahan kepadanya.

Pengetahuan ilmiah, alias ilmu, dapat diibaratkan sebagai alat bagi manusia dalam "memecahkan" berbagai macam persoalan (problematika kehidupan) yang dihadapinya. Nah, pemecahan tersebut pada dasarnya adalah dengan menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol gejala-gejala alam atau apa saja yang berkaitan dengannya (seperti telah dituangkan dalam Apa Hakikat dan Kegunaan Ilmu ?). Maka oleh sebab itulah, sering dikatakan bahwa dengan ilmu, manusia mencoba "memanipulasi" dan "menguasai" alam. (Lihat pembahasan selanjutnya dalam Tentang Pengetahuan).

Sekali lagi, jika kita mengetahui jawaban atas ketiga pertanyaan diatas (yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi), maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai macam jenis pengetahuan yang terdapat dalam khazanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita dapat mengenali berbagai macam pengetahuan yang ada, seperti ilmu, seni, dan agama. Serta mampu meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing, yang saling memperkaya kehidupan kita. Dengan ilmu, hidup jadi mudah.... Dengan seni, hidup jadi indah.... Dengan agama, hidup jadi terarah....

Jadi, tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar, maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan fungsi dan kegunaannya secara maksimal, namun kadang kita salah dalam menggunakannya.
Ilmu dikacaukan dengan seni....
Ilmu dikonfrontasikan dengan agama....
Bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu ?


Semoga ada manfaatnya...!







Etimologi Filsafat

Gaosur Rohim Sunday, December 12, 2010 0 Comments
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan, atau bahkan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu, berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri; Apakah sebenarnya yang kita ketahui tentang ilmu ?  Apa saja yang telah kita ketahui tentang filsafat ? Apa fungsi dan kegunaannya ? Bidang apa saja yang sebenarnya ditelaah filsafat?


Kata falsafah atau filsafat, dalam Bahasa Indonesia merupakan kata serapan yang diambil dari bahasa Arab  فلسفة , juga diambil dari bahasa Yunani φιλοσοφία (philosophia). Dalam bahasa Yunani, kata ini merupakan kata majemuk yang berasal dari kata philia ( persahabatan, cinta, dsb...) dan sophia (kebijaksanaan). Sehingga jika diartikan secara harfiyahnya, filsafat adalah : seorang "pecinta kebijaksanaan" atau seorang "pecinta ilmu". (dikutip dan disadur dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia).

Kata filosofi yang diambil dari Bahasa Belanda, juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia, seseorang yang mendalami bidang filsafat (falsafah) disebut filsuf.

Definisi (ta'rif) kata filsafat, bisa dikategorikan sebuah "problem" falsafi pula. Tetapi, paling tidak, bisa dikatakan bahwa "filsafat" adalah studi yang mengkaji (mempelajari) seluruh 'fenomena' kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan saja, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk problem tertentu, memberikan argumentasi dan alasan-alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Serta akhir dari proses-proses itu, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah proses yang disebut dialektik.

Dialektik ini, secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah "bentuk dialog". Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika berbahasa.

Secara sederhana, logika merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang prinsip-prinsip dan metode penalaran. Sedangkan penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir untuk menghasilkan suatu kesimpulan (natijah) berdasarkan keterangan-keterangan yang telah diketahui (lihat pembahasan selanjutnya dalam Rangkuman Logika).

Logika juga merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam Matematika dan Filsafat. Nah, hal inilah salah satu yang membuat filsafat menjadi suatu ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri "eksak" di samping nuansa khas filsafat, yakni spekulasi, keraguan, dan 'couriousity' ketertarikan.

        Pengetahuan dimulai dengan rasa 'ingin tahu'....
        Kepastian dimulai dengan rasa 'ragu-ragu'....
        Dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya....

Dalam tradisi Filsafat Barat, dikenal dengan adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Tema-tema itu adalah ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, dan AKSIOLOGI.

1. Tema yang pertama yaitu ontologi
Ontologi membahas tentang masalah-masalah keberadaan (metafisik) sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata), misalnya seperti keberadaan alam semesta, makhluk hidup, tata surya, dan sebagainya.

2. Tema yang kedua yaitu epistemologi
Epistemologi adalah tema yang mengkaji dan membahas tentang pengetahuan (EPISTEME secara harfiyah dapat diartikan sebagai "pengetahuan"). Epistemologi mengkaji dan membahas berbagai hal tentang pengetahuan, seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.

3. Tema yang ketiga yaitu aksiologi
Aksiologi merupakan tema yang membahas tentang masalah nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam kehidupan manusia.

Dalam membangun tradisi filsafat, banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama, menaggapi, dan meneruskan karya-karya para pendahulunya. Sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat tersebut dibangun. Oleh karenanya, filsafat dapat diklasifikasikan berdasarkan daerah geografis, latar belakang agama dan budayanya.

Dewasa ini, filsafat biasa dibagi menjadi 2 kategori besar : pertama berdasarkan wilayahnya, kedua berdasarkan latar belakang agama dan budayanya. Berdasarkan wilayah, filsafat dapat dibagi menjadi : Filsafat Barat, Filsafat Timur, dan Filsafat Timur Tengah. Bedasarkan latar belakang agama dan kebudayaannya, filsafat pun dapat dibagi menjadi : Filsafat Islam, Filsafat Kristen, Filsafat Budha, Filsafat Hindu, dan sebagainya.


Filsafat Barat
Filsafat Barat sebenarnya adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis pada universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini mulai berkembang sejak tradisi falsafi orang-orang Yunani Kuno.

Tokoh utama dalam tradisi Filsafat Barat ini adalah : PLATO (427-347 S.M.), Irsathotholees atau ARISTOTELES (384-322 S.M.), THOMAS AQUINAS (1225-1274), Cartesius atau RENE DESCRATES (1596-1650) yang juga dikenal sebagai "bapak filsafat modern", IMMANUEL KANT (1727-1804), George Hegel (1770-1831), Arthur Schopenhauer (1788-1868), Karl Heinrich Marx (1818-1883), FRIEDRICH NIETZSCHE (1844-1900), JEAN-PAUL SARTRE (1905-1980), dan lain-lain.

Filsafat Timur
Filsafat Timur merupakan tradisi falsafi yang terutama berkembang di wilayah Benua Asia, khususnya di negara India, Tiongkok, dan daerah-daerah lainnya yang pernah dipengaruhi budayanya. Salah satu ciri khas dari Filsafat Timur ini ialah "begitu dekatnya hubungan filsafat dengan agama". Meskipun hal ini juga kurang lebihnya bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan. Tetapi di dunia Barat, filsafat 'an sich' masih lebih menonjol daripada agama.

Tokoh utama dalam tradisi Filsafat Timur ini adalah : SIDDHARTA GAUTAMA (563-483 S.M.), BOEDHIDHARMA (?), LAO TZE/LAO TSU/LAO TSE (570-470 S.M.), Kong Hu Cu alias CONFUCIUS (551-479 S.M.), ZHUANG ZOU/ZHUANG ZI (369-286 S.M.), MAO ZEDONG (1893-1976), dan lain-lain.

Filsafat Timur Tengah
Filsafat Timur Tengah ini sebenarnya mengambil tempat yang sangat "istimewa". Sebab kalau kita lihat dari segi sejarah, para filsuf dalam tradisi ini juga sebenarnya bisa dikatakan merupakan Ahli Waris dari tradisi Filsafat Barat. Karena, yang pertama-tama menjadi para filsuf Timur Tengah adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam (dan juga beberapa orang Yahudi), yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah, dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafi mereka. Lalu mereka menerjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani itu.

Bahkan ketika Eropa, setelah runtuhnya kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahan, dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama. Bahkan terjemahan mereka pun dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa.

Tokoh utama dalam tradisi Filsafat Timur Tengah ini adalah : Avicenna alias IBNU SINA (370-428 H. / 979-1037 M.), AL-FAROBI (259-339 H. / 871-941 M.), IBNU MASKAWAIH (330-421 H. / 939-1030 M.), HUJJATUL ISLAM AL-GHOZALI (450-505 H. / 1058-1111 M.), IBNU BAJJAH (475-533 H. / 1082-1138 M.), IBNU THUFAIL (506-581 H. / 1110-1185 M.), IBNU RUSYDI (520-595 H. / 1126-1198 M.), AL-KINDI (193 H. / 808 M.), dan sebagainya.

Mengenai tahun kelahiran Al-Kindi diduga pada masa-masa terakhir dari kehidupan ayahnya yang meninggal pada zaman Khalifah Harun Arrasyid. Al-Kindi meninggal pada tahun 193 H. / 808 M. Jadi, kira-kira disekitar permulaan abad ke-9 Masehi atau sekitar tahun 185 H. / 801 M. yang diduga oleh T.J. De Boer dan Syeikh Musthofa Abdul Raziq.

Demikian juga, terdapat banyak pendapat yang berbeda-beda mengenai sekitar tahun wafatnya Al-Kindi, yakni :

  1. L. Massignon (orientalis Perancis), mengatakan bahwa Al-Kindi meninggal sekitar tahun 246 H. / 869 M.
  2. C. Nallino (orientalis Itali), mengatakan bahwa Al-Kindi meninggal sekitar tahun 260 H. / 873 M.
  3. T.J. De Boer (orientalis Belanda), juga mengatakan bahwa Al-Kindi meninggal sekitar tahun 257 H. / 870 M.
  4. Syeikh Musthofa Abdul Raziq (ex. rektor Universitas Al-Azhar), mengatakan bahwa Al-Kindi meninggal sekitar tahun 252 H. / 864 M.







 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.