Showing posts with label Ke Arah Pemikiran Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Ke Arah Pemikiran Filsafat. Show all posts

Apa Saja Bidang Telaah Filsafat?

Gaosur Rohim Tuesday, February 15, 2011 12 Comments
Apa Saja Bidang Telaah Filsafat?
Selaras dengan dasarnya yang spekulatif, maka filsafat menelaah segala masalah yang yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pioneer, filsafat mempermasalahkan hal-hal yang pokok. Terjawab masalah yang satu, filsafat pun mulai merambah kepada pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Dalam tiap kurun zaman, tentu saja mempunyai masalah-masalah yang merupakan "mode" pada waktu itu. Filsafat yang sedang pop dewasa ini, mungkin mengenai UFO; apakah cuma kita satu-satunya "manusia" yang menghuni semesta ini ? Sekiranya diperkirakan terdapat 60 planet yang mempunyai kondisi seperti bumi, apakah cuma kita yang berpenghuni ? Mungkinkah surga dan neraka berada di jagat raya ini meskipun di galaksi lain ? Ataukah benda-benda langit itu pernah berpenghuni dan saling menghancurkan setelah mencapai abad teknologi nuklir ? (Bacalah buku Carl Sagan yang berjudul The Cosmic Connection, sebagai hiburan di waktu senggang).

Selaras dengan usaha peningkatan kemampuan penalaran manusia, maka Filsafat Ilmu pun menjadi ngetop. Sedangkan dalam masa-masa mendatang, maka yang akan menjadi perhatian khalayak ramai, kemungkinan bukan lagi filsafat ilmu, melainkan Filsafat Moral yang "berkaitan" dengan ilmu.

Seorang professor yang penuh humor, mendekat permasalahan yang dikaji filsafat dengan sajak seperti berikut :

                    What is a man ?
                    What is ?
                    What ?

Maksudnya adalah, bahwa dalam hal ini ada terdapat 3 tahapan untuk menyikapi permasalahan-permasalahan tersebut, yakni :

Tahap Pertama
Pada tahap mula sekali, filsafat mempersoalkan siapakah manusia itu : Hallo, siapa kau ? Tahap ini dapat dihubungkan dengan segenap pemikiran ahli-ahli filsafat sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang yang rupa-rupanya tak kunjung selesai mempermasalahkan makhluk yang satu ini. Kadang kurang kita sadari, bahwa tiap ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial (social sciences), mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya. Mungkin ada baiknya jika kita mengambil contoh yang agak berdekatan, yakni ilmu ekonomi dan manajemen. Kedua ilmu ini mempunyai asumsi yang berbeda-beda tentang manusia.

Ilmu ekonomi, misalnya, mempunyai asumsi bahwa manusia adalah makhluk ekonomi, yang bertujuan mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan menjauhi ketidaknyamanan semungkin bisa. Dia adalah makhluk hedonis yang tak pernah merasa cukup. Atau dalam proposisi ilmiahnya : mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Sedangkan ilmu manajemen, mempunyai asumsi yang berbeda tentang manusia. Karena bidang telaahan ilmu manajemen, lain halnya dengan ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi, bertujuan menelaah hubungan manusia dengan barang atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan ilmu manajemen, bertujuan untuk menelaah tentang "kerja sama" antar sesama manusia, untuk mencapai suatu tujuan yang disetujui bersama (atau dengan kata lain, musyawarah untuk mufakat).

Cocokkah asumsi bahwa manusia adalah Homo Oeconomicus bagi manajemen yang tujuannya menelaah "kerja sama" antar sesama manusia ? Saya rasa, TIDAK ! Apakah motif ekonomis yang mendorong seseorang untuk ikut menjadi sukarelawan memberantas kemiskinan dan kebodohan ? Saya rasa, juga BUKAN ! Dan untuk itu, ilmu manajemen mempunyai beberapa asumsi tentang manusia tergantung dari perkembangan dan lingkungannya masins-masing; seperti makhluk ekonomi, makhluk sosial, dan makhluk aktualisasi diri.

Mengkaji permasalahan-permasalahan manajemen dengan asumsi manusia dalam kegiatan ekonomis, bisa menyebabkan timbulnya kekacauan dalam analisis yang bersifat akademik. Demikian juga, mengkaji permasalahan-permasalahan ekonomi dengan asumsi yang lain di luar makhluk ekonomi (katakanlah makhluk sosial, seperti asumsi dalam manajemen), bisa menjadikan ilmu ekonomi menjadi moral terapan, mundur sekian ratus tahun ke Abad Pertengahan. Sayang, bukan....???

"....The right (assumption of) man on the right place....". Mungkin kalimat ini perlu kita gantung di tiap-tiap pintu masing-masing disiplin keilmuan.

Tahap Kedua
Tahap yang kedua ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang berkisar tentang ada (wujud), tentang hidup, dan tentang eksistensi manusia. Apakah hidup ini sebenarnya ? Apakah hidup itu hanya sekedar peluang dengan nasib yang melempar dadu acak (random) ? Bila asumsi Tuhan itu adil, maka penciptaan haruslah diacak. Bila asumsi Tuhan itu adil, Tuhan tidak melempar dadu. (Nah, disinilah salah satu letak perbedaan antara ni'mat (nikmat) dengan istidroj). Ataukah hidup ini sama sekali absurd, tanpa arah tanpa bentuk, bagaikan amoeba yang berzigzag ? Dan nasib adalah bagaikan sibernetik dengan "umpan balik" pilihan probabilistik ? Atau barangkali suatu maksud ?

Ketika 2 abad berselang setelah Bruder Juniper menciptakan sastra klasiknya, yakni The Bridge of San Luis Rey yang sangat termasyhur itu, satu-satunya jembatan yang paling indah di seluruh Peru ambruk, hingga melemparkan 5 orang ke dalam jurang yang sangat dalam itu. Adalah hal yang sangat sulit untuk mengetahui kehendak Tuhan, namun sama sekali tidak berarti bahwa hal ini tidak akan pernah bisa kita ketahui, dan mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berpihak kepada kita, hingga mengatakan bahwa Tuhan terhadap kita adalah bagaikan lalat yang dibunuh kanak-kanak pada suatu hari di musim panas. (Bacalah buku Fajar Kurnia Harseno yang berjudul Introspeksi, sebagai bacaan di waktu senggang, agar kita tak terlalu jauh belok dari tikungan per-empat-an tadi. Barangkali kita "salah jalan". Hehe....).

               Dengan nasib jadi algojo yang kejam;
               memaku mimpi,
               harapan, kasih sayang;
               cemas, bimbang, rengkah,
               nafsu;
               di atas kayu silang ?!

Ah, spekulasi macam begini hanya omong kosong percuma yang buang-buang waktu saja.

               O science metaphysical
               And very very quizzical
               You only make this maze of life the mazier....

Mungkin ada seorang ilmuwan berkata : "Sama sekali tidak ada hubungannya dengan permasalahan keilmuan Saya....". (Hmm..., dikiranya ilmu itu cuma rumus-rumus, laboratorium, teori, itu saja !). Dan ketika  laboratorium riset genetika menghasilkan penemuan yang menyangkut hari depan manusia, akankah dia cuma mengangkat bahu dan berkata : "Mengapa ribut-ribut ? Bikin saja semua manusia IQ-nya 160 secara massal, habis perkara !". (Aduh, ilmuwan macam begini bukan saja picik, namun juga berbahaya. Dia benar-benar tidak tahu di tidaktahunya).

Namunpun demikian, jika kita ingin menggumuli permasalahan-permasalahan semacam itu; baik tentang genetika, social engineering, atau bahkan bayi tabung; maka asas-asasnya tidak terdapat dalam ruang lingkup teori-teori ilmiah. Kita harus berpaling kepada filsafat (bukan berpaling dari filsafat), kemudian memilih-milih landasan moral; apakah suatu kegiatan ilmiah secara etis dapat dipertanggungjawabkan atau tidak.

Tahap Ketiga
Tahap pertama beres, tahap kedua juga beres. Nah, pada tahap yang ketiga ini skenarionya bermula pada suatu pertemuan ilmiah "tingkat tinggi", dimana seorang ilmuwan berbicara panjang lebar ngalor ngidul tentang suatu penemuan ilmiah dalam risetnya. Setelah berjam-jam dia bicara, dia pun menyeka keringatnya, dan berkata kepada hadirin : "Adakah kiranya yang belum jelas ?". Salah seorang bangkit dan seperti seorang yang pekak memasang kedua belah tangan di samping telinganya : "Apa....??!". (Waah, rupanya sejak tadi dia tak mendengarkan apa-apa).

Memang, pemuda yang satu itu sejak tadi tidak mendengarkan apa-apa, sebab tidak tertarik mendengarkan apa-apa, karena tidak ada apa-apa yang berharga untuk didengarkan. Pemuda nyentrik nan keren itu, baru mau mendengarkan pendapat yang bersifat ilmiah, jika pendapat itu dikemukakan lewat cara/proses/prosedur ilmiah. Jadi meskipun seorang pembicara mengutip pendapat sekian pemenang hadiah Nobel, mengemukakan sekian fakta yang aktual; namun bila bagi dia tidak jelas yang mana masalah yang mana hipotesis, yang mana kerangka pemikiran yang mana kesimpulan, yang keseluruhannya terkait dan tersusun dalam penalaran ilmiah, bagi dia tetap saja semua itu hanya sekedar GIGO (maksudnya keluar dari telinga kiri G dan keluar telinga kanan juga G).

G-(arbage)-In-G-(arbage)-Out : pemeo dalam bahasa komputer bahwa input bagi komputer itu sampah, maka yang keluarnyapun juga sampah.

Filsuf kelahiran Austria, yakni Ludwig Josef Johann Wittgenstein, atau yang lebih akrab dengan nama LUDWIG VON WITTGENSTEIN (1889-1951) dalam bukunya Tractatus Logico Philosophicus mengatakan : "Tugas utama filsafat bukanlah sekedar menghasilkan sesusun pernyataan filsafati, tetapi juga menyatakan sebuah pernyataan sejelas mungkin. Masalah filsafat sebenarnta adalah masalah bahasa". Nah, dengan demikian maka epistemologi dan bahasa merupakan gumulan utama para filsuf dalam tahap ini. Bahasa, termasuk juga matematika, yang secara filsafati bukan cuma merupakan ilmu, melainkan sebagai bahasa non-verbal. Adalah merupakan pokok pengkajian filsafat sejak abad 20 kemarin.

Jika masih ada ahli teknologi yang memandang  rendah terhadap bahasa, maka kemungkinan besar dia sudah terlalu jauh "ketinggalan kereta". (Ketiduran barangkali...!). Bukankah ada peribahasa mengatakan : Batas bahasaku adalah batas duniaku? Semoga ilmuwan ini tidak bertemu dengan orang pekak yang katanya menjengkelkan itu; yang tanpa timbang rasa melemparkan segerobak pendapat kita ke tong sampah. Hancur jadi abu !

Bahkan pernah, ungkapan rasa jengkel seorang penguji kepada seorang promovendus : "Masalah utama dengan disertasi Anda, ialah bahwa Anda berlaku seperti seorang pemborong bahan banguna, dan bukan arsitek yang membangun gedung. Memang batanya banyak sekali, bertumpuk di sana sini, tapi tidak merupakan dinding; kayunya menumpuk sekian meter kubik, namun tidak merupakan atap. Sebagai ilmuwan, Anda harus membangun kerangka dengan bahan-bahan tersebut, kerangka pemikiran yang original dan meyakinkan, disemen dengan penalaran dan pembuktian yang tidak meragukan....". (Waduuh, gaawat !).

Ah, daripada disebut pemborong bahan bangunan, lebih baik cape sedikit balajar lagi. Memang, lebih baik mengasah parang daripada sekian ratus halaman dari disertasi kita sia-sia dibuang orang. Sayang, kan ?


Mudah-mudahan ada manfaatnya !







Filsafat Peneratas Pengetahuan, Benarkah?

Gaosur Rohim Friday, January 21, 2011 2 Comments
Filsafat Peneratas Pengetahuan, Benarkah?
Filsafat itu memperlihatkan kepada kita, apa yang hidup dalam diri manusia yang telah menjadi sadar. Filsafat itu menjelaskan kepada kita, apa yang dicari manusia pada zaman tertentu, apa yang hidup dan bergerak di dalam bagian terdalam hidup manusia pada suatu zaman. Ternyata bahwa tiap zaman memiliki filsafatnya sendiri-sendiri, yang berusaha menurut keyakinannya masing-masing untuk memperbaiki hidup manusia.


Meminjam pemikiran William James Durant alias WILL DURANT (1885-1981) dalam bukunya The Story of Philosophy, filsafat dapat diibaratkan sebagai pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri.1). Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan, yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang "memenangkan" tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmulah yang membelah gunung, merambah hutan, dan menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Setelah penyerahan dilakukan, maka filsafat pun pergi. Dia kembali "menjelajah" laut lepas, berspekulasi, dan meneratas.

Seorang yang skeptis, mungkin akan berkata : "Sudah lebih dari 2.000 tahun orang berfilsafat, namun selangkahpun dia tidak maju....". Oke Boss, sepintas lalu kelihatannya memang demikian, namun kesalahpahaman ini sebenarnya dapat segera dihilangkan sekiranya kita tahu bahwa filsafat adalah marinir yang merupakan pioneer, bukan pengetahuan yang bersifat memerinci. Filsafat menyerahkan daerah-daerah yang sudah dimenangkannya kepada ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.

Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam (natural sciences) maupun ilmu-ilmu sosial (social sciences), bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat. Misalnya seperti ISAAC NEWTON (1642-1727), menulis hukum-hukum fisikanya sebagai Philosophiae Naturalis Principia Mathematica pada tahun 1686. Dan ADAM SMITH (1723-1790) yang juga dikenal sebagai "bapak ilmu ekonomi", menulis buku yang berjudul The Wealth of Nations pada tahun 1776, dalam fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow, Skotlandia.

Newtonlah orangnya, yang telah memberikan alas kepada fisika yang klasik, yang menjanjikan suatu perkembangan yang tiada batasnya. Hukum-hukum fisika itu kemudian diterapkan kepada ilmu-ilmu pengetahuan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena Ilmu Pasti, Biologi, Filologi, Sejarah, dll.., telah mencapai hasil yang sangat penting. Harapan manusia diarahkan kepada filsafat. Hal ini menyebabkan filsafat tidak dapat berkembang dengan baik. Seberapapun manusia mengusahakan filsafat, ilmu ini disamakan dengan ilmu pengetahuan alam dalam cakupannya yang seluas-luasnya. Kegiatan "berpikir" disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan Newton.

Metode yang dipakai di dalam filsafat biasanya adalah induksi. Manusia berpangkal dari gejala-gejala, dan mencoba mengembalikannya kepada beberapa asas dan hukum yang bersifat umum, sesuai dengan cara Newton dalam menyelidiki alam yang "tidak" organis ini.

Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy), sedangkan nama asal ekonomi adalah filsafat moral (moral philosophy). Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu, maka terdapat taraf peralihan. Dalam taraf peralihan ini, maka bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh, melainkan sektoral. Di sini manusia tidak lagi mempermasalahkan masalah moral secara keseluruhan, melainkan hanya sekedar dikaitkan dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi.

Walaupun demikian, dalam taraf ini, secara konseptual, sebenarnya ilu masih "mendasarkan diri" kepada norma-norma filsafat. Ekonomi, misalnya, masih merupakan penerapan etika (applied ethics) dalam kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai adalah normatif dan deduktif berdasarkan asas-asas moral yang filsafati.

Pada tahap selanjutnya, ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat, dan mendasarkan diri sepenuhnya kepada hakikat alam sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan, ilmu masih mendasarkan diri kepada norma-norma yang seharusnya. Sedangkan pada tahap terakhir, ilmu mendasarkan diri kepada penemuan alamiah sebagaimana adanya.

Dalam menyusun pengetahuan tentang alam dan isinya ini, maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif, melainkan hanya sekedar "kombinasi" antara deduktif dan induktif, dengan jembatan yang berupa "pengajuan hipotesis" yang dikenal sebagai metode logico-hypothetico-verifikatif. (Tunggu pembahasan selanjutnya dalam Metode Ilmiah). William James Durant alias WILL DURANT (1885-1981) dalam bukunya The Story of Philosophy, juga mengatakan bahwa : "Tiap-tiap ilmu dimulai dengan filsafat, dan diakhiri dengan seni. Muncul dalam hipotesis, dan berkembang ke keberhasilan....". (Will Durant, The Story of Philosophy, 1933), hlm. 2.

Seorang yang dikenal dengan tokoh filsafat Positivisme, yakni AUGUSTE COMTE (1798-1857), dalam bukunya Philosophy, Religion and Science, membagi tiga tingkat perkembangan pengetahuan tersebut ke dalam : tahap religius, tahap metafisik, dan tahap positif.

Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia itu berlangsung dalam 3 tahap (3 zaman), yakni :

  1. Tahap Teologis (Zaman Religius)
  2. Tahap Metafisik (Zaman Metafisis)
  3. Tahap Ilmiah (Zaman Positif)

Perkembangan yang demikian itu, berlaku bagi perkembangan pemikiran perorangan maupun bagi perkembangan pemikiran seluruh ummat manusia.

1. Tahap Teologis (Zaman Religius)
Pada zaman/tahap teologis ini, manusia mengarahkan rohnya kepada hakikat 'bathiniah' segala sesuatu, kepada "sebab pertama" dan "tujuan terakhir" segala sesuatu. Jadi, pada zaman/tahap ini, manusia sangat percaya kepada kemungkinan adanya pengetahuan atau pengenalan yang mutlak. Oleh karena itu, manusia berusaha memilikinya. Mereka yakin, bahwa dibelakang tiap-tiap kejadian tersirat suatu pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus.

Pada taraf pemikiran ini, terbagi dalam 3 tahap, yakni : tahap pertama yaitu tahap yang paling bersahaja atau primitif, ketika manusia menganggap bahwa setiap benda memiliki jiwa (animisme); tahap kedua yaitu tahap ketika manusia menurunkan kelompok-kelompok hal-hal tertentu, seluruhnya masing-masing diturunkan dari suatu kekuatan adikodrati yang melatarbelakanginya sedemikian rupa, sehingga tiap kawasan gejala-gejala mempunyai i'tikadnya sendiri-sendiri (politeisme); dan tahap ketiga adalah merupakan tahap yang tertinggi, yaitu di mana ketika manusia "mengganti" i'tikadnya yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh tertinggi, yakni dalam monoteisme.

2. Tahap Metafisik (Zaman Metafisis)
Pada tahap ini sebenarnya manusia hanya mewujudkan suatu perubahan (reformasi) saja dari tahap teologis (religius). Karena, kekuatan-kekuatan yang bersifat adikodrati hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan yang bersifat abstrak, dengan pengertian-pengertian, atau dengan pengada-pengada yang bersifat lahiriah, yang kemudian dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat umum yang disebut alam. Dan yang dipandang sebagai "asal segala penampakan" atau gejala-gejala yang bersifat khusus.

3. Tahap Ilmiah (Zaman Positif)
Sedangkan pada tahap/zaman positif ini, adalah zaman ketika manusia tahu bahwa tak ada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang bersifat mutlak (absolute), baik pengenalan teologis (religius) maupun pengenalan metafisik (metafisis). Manusia tidak mau lagi melacak asal usul dan tujuan terakhir seluruh alam semesta ini, atau melacak hakikat yang sejati (bil quwwah) dari "segala sesuatu" yang berada dibelakang "segala sesuatu".

Nah, pada tahap ilmiah ini, manusia mulai berusaha menemukan hukum-hukum "kesamaan" dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal, atau yang disajikan kepadanya, yaitu dengan "pengamatan" dan dengan memakai akalnya masing-masing.

Pada tahap ini, pengertian "menerangkan" berarti : fakta-fakta yang bersifat khusus dihubungkan dengan suatu fakta yang bersifat umum. Tujuan tertinggi dari tahap/zaman ini akan tercapai apabila semua gejala telah dapat disusun dan diatur dibawah suatu fakta yang bersifat umum saja (misalnya : gaya berat).

Kesimpulan :

  • Dalam tahap pertama, yakni tahap teologis (religius), maka hanya asas-asas religilah yang dijadikan "postulat ilmiah", sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabatan dari ajaran-ajaran religi.
  • Pada tahap kedua, yakni tahap metafisik (metafisis), manusia mulai berspekulasi tentang metafisika (keberadaan) wujud yang menjadi obyek (maudhu') penelaahan yang terbebas dari dogma religi, serta mengembangkan sistem pengetahuan diatas dasar postulat metafisik tersebut.
  • Sedangkan pada tahap ketiga, yakni tahap ilmiah (positif), adalah tahap pengetahuan ilmiah (ilmu), di mana asas-asas yang dipergunakannya pun diuji secara positif dalam proses suatu "verifikasi" yang bersifat obyektif.






1. William James Durant, The Story of Philosophy (New York : Simon & Schuster, 1933).







Apa Ilmu dan Filsafat itu ?

Gaosur Rohim Saturday, January 08, 2011 4 Comments
Apa Ilmu dan Filsafat itu ?
Berawal dari serangkaian spekulasi semua pengetahuan yang ada, kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan, yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa mengetahui kriteria tentang apa yang disebut benar, tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas kebenaran. Tanpa mengetahui kriteria tentang apa yang disebut baik atau buruk, tidak mungkin kita berbicara tentang moral. Tanpa mengetahui wawasan tentang apa yang disebut indah atau jelek, tidak mungkin kita berbicara tentang seni (kesenian).


Alkisah.... Suatu hari, bertanyalah seorang awam kepada filsuf yang arif bijaksana, "Coba sebutkan kepada Saya, ada berapa macam jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya...?!".
Filsuf itu menarik nafas panjang, dan lalu berpantun :

           Ada orang yang tahu di tahunya;
           Ada orang yang tahu di tidaktahunya;
           Ada orang yang tidak tahu di tahunya;
           Ada orang yang tidak tahu di tidaktahunya....

Penuh hasrat dalam ketidaktahuannya, orang awam itu langsung menyambung : "Bagaimana caranya agar Saya bisa mendapatkan pengetahuan yang benar ?". Filsuf itu kembali menjawab : "Mudah saja ! Ketahuilah apa yang kau tahu, dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu...!".

Pengetahuan dimulai dengan rasa "ingin tahu", kepastian dimulai dengan rasa "ragu-ragu", dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang "telah kita ketahui", dan apa yang "belum kita ketahui".

Berfilsafat berarti berendah hati, bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga, berfilsafat berarti mengoreksi diri; semacam "keberanian" untuk berterus terang gitu lah, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.


Apakah Ilmu?
Secara sederhana, ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku TK, sekolah dasar, pendidikan lanjutan, atau bahkan perguruan tinggi. Nah, berfilsafat tentang ilmu, berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri : Apakah sebenarnya yang "telah" kita ketahui dan yang "belum" kita ketahui tentang ilmu ? Apa saja ciri-ciri yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu ? Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa ilmu yang sedang kita cari merupakan pengetahuan yang benar ? Kriteria apa saja yang harus kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah ? Mengapa kita harus mempelajari ilmu ?

Demikian juga berfilsafat, yang berarti kita berendah hati untuk "mengevaluasi" segenap pengetahuan yang telah kita ketahui : Apakah ilmu telah mencakup segenap pengetahuan yang seyogyanya kita ketahui dalam kehidupan ini ? Di batas manakah ilmu mulai, dan di batas manakah dia berhenti ? (lihat pembahasan selanjutnya dalam Batas Lingkup Penjelajahan Ilmu). Kemana kita harus berpaling di batas ketidaktahuan ini ? Apa saja kelebihan dan kekurangan ilmu ?
(Kasih.., mengetahui kekuranganmu, bukan berarti Aku merendahkanmu. Namun secara sadar, Aku telah memanfaatkan untuk terlebih jujur dan tulus dalam mencintaimu.... Hehe).


Apakah Filsafat?
Meminjam pemikiran Jujun Suparjan Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu bahwa seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan sebagai : seorang yang berpijak di bumi yang sedang menengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi yang seakan tak terbatas ini; Atau seorang yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah-lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang sedang ditatapnya.

Nah, karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak lagi puas mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu apa kaitan ilmu dengan moral, dia ingin tahu apa kaitan ilmu dengan seni, dia ingin tahu apa kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu akan membawa kebahagiaan dan keselamatan bagi dirinya atau malah sebaliknya.

Mungkin tidak sedikit di antara kita yang sering melihat seorang ilmuwan yang picik. Ahli fisika nuklir yang memandang rendah kepada ahli ilmu sosial. Lulusan Bahasa yang merasa lebih tinggi daripada lulusan IPA. Lulusan IPA yang merasa lebih tinggi daripada lulusan IPS. Atau yang lebih menyedihkan lagi, seorang ilmuwan yang memandang rendah kepada pengetahuan lain. Mereka meremehkan moral; mereka meremehkan ilmu, seni, agama, dan nilai-nilai estetika.

Mereka, para ahli yang berada di bawah "tempurung" disiplin keilmuannya masing-masing, sebaiknya menengadah ke bintang-bintang dan tercengang : "Lho, kok masih ada langit lain di luar tempurung kita. Ternyata masih ada langit di atas langit....". Dan dia pun lalu menyadari akan kebodohan kita sendiri. Yang Saya tahu, simpul SOCRATES (470-399 S.M.), ialah bahwa : "Saya tak tahu apa-apa !". Kerendahhatian Socrates ini, bukanlah merupakan verbalisme yang cuma sekedar basa-basi.

Seorang yang berpikir filsafati, selain menengadah ke bintang-bintang, juga membongkar tempat berpijak secara fundamental. Inilah karakteristik berpikir filsafati yang kedua, yakni sifat mendasar. Dia tidak mudah percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar : Mengapa ilmu itu bisa disebut benar ? Bagaimana proses penilaiannya berdasarkan kriteria tersebut dilakukan ? Apakah kriteria itu sendiri benar ? Lalu benar sendiri itu apa ?

Seperti halnya sebuah lingkaran, maka pertanyaan itu melingkar. Dan untuk menyusur sebuah lingkaran, maka kita harus memulai dari satu titik, yang awal dan juga sekaligus akhir. Lalu bagaimana cara menentukan titik awal yang benar itu ?

William Shakespeare, "Ah, Horatio, masih banyak lagi di langit dan di bumi selain yang terjaring dalam filsafatmu....!". desis Hamlet. Memang demikian.., jika kita mau berterus terang, tidak mungkin kita bisa menangguk semua pengetahuan secara keseluruhan. Dan bahkan kita tidak yakin kepada titik awal yang menjadi "jangkar pemikiran" yang mendasar. Dalam hal ini kita hanya berspekulasi. Dan inilah yang merupakan karakteristik berpikir filsafati yang ketiga, yakni sifat spekulatif.

Mungkin kita mulai mengerenyitkan kening dan timbul kecurigaan terhadap filsafat : "Bukankah spekulasi semacam ini suatu dasar yang tidak bisa diandalkan....?". Dan seorang filsuf akan menjawab : "Memang...!  Namun hal ini tidak bisa kita hindarkan. Untuk menyusur sebuah lingkaran, kita harus mulai dari sebuah titik, bagaimanapun juga spekulatifnya. Yang terpenting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun dalam pembuktiannya, setidaknya kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak....". Sedangkan salah satu tugas utama filsafat adalah "menetapkan" dasar-dasar filsafat yang dapat diandalkan....".

Mengenai apa yang bisa disebut logis ? Apa yang bisa disebut benar ? Apa yang bisa disebut shahih ? Apakah alam ini teratur atau memang kacau ? Apakah hidup ini ada tujuannya atau memang absurd ? Adakah hukum yang mengatur alam dan segenap sarwa kehidupan ini ? Itu semua sudah terjawab berdasarkan spekulasi tersebut.

Sekarang kita sadar, bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada, dimulai dengan spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini, kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan, yang juga merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan.

Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar dan salah, maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang  di atas kebenaran. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut baik atau buruk, mana mungkin kita bicara soal moral. Demikian juga tanpa adanya wawasan tentang apa yang disebut indah atau jelek, mana mungkin kita berbicara tentang seni (kesenian).







Apa itu Filsafat Ilmu?

Gaosur Rohim Wednesday, December 22, 2010 3 Comments
Apa itu Filsafat Ilmu?
Pada dasarnya Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan), yang secara spesifik mengkaji tentang hakikat-hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Sedangkan ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Secara metodologis, ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam (natural sciences) dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Namun karena permasalahan-permasalahan tekhnis yang bersifat khas, maka Filsafat Ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial.


Meskipun secara metodologis bahwa ilmu "TIDAK" membedakan antara ilmu-ilmu alam (natural sciences) dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences), akan tetapi karena adanya permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas itulah, maka Filsafat Ilmu ini kerap kali dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Sebenarnya pembagian ini lebih merupakan "pembatasan" dari masing-masing bidang yang ditelaahnya, yakni ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial. Namun sama sekali "tidak" mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom.

Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-pengetahuan lainnya secara filsafat, tetapi "tidak" terdapat perbedaan yang prinsipil antara ilmu-ilmu alam (natural sciences) dengan ilmu-ilmu sosial (social sciences), di mana keduanya pun mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama.

Filsafat Ilmu, juga merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yakni seperti :

  • Obyek apa saja yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut ? Bagaimana nisbat (hubungan) antara obyek tersebut dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? dsb....
  • Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ? Hal apa saja yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa saja kriterianya ? Cara/teknik/sarana apa saja yang dapat membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ? dsb....
  • Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan ? Bagaimana kaitannya antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana cara penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitannya antara tekhnik "prosedural" yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional ? dsb....

Nah, pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok pertanyaan yang pertama, disebut landasan ontologis. Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok pertanyaan yang kedua, disebut landasan epistemologis. Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok pertanyaan yang ketiga, disebut landasan aksiologis.

Semua pengetahuan apakah itu ilmu, seni, atau pengetahuan apa saja, pada dasarnya mempunyai ketiga landasan ini (yakni ontologis, epistemologis, dan aksiologis). Kalaupun berbeda, yang membedakannya hanyalah "materi perwujudannya", serta sejauh mana "landasan" dari ketiga aspek ini dikembangkan dan dilaksanakan.

Dari semua pengetahuan, maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya telah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Serta dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. Nah, dari pengertian inilah, sebenarnya berkembang pengertian ilmu sebagai disiplin, yakni pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakan "aturan-aturan mainnya" dengan penuh "tanggung jawab" dan kesungguhannya.

Jadi, untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya, maka 3 pertanyaan (dari 10 mabadi ilmu) yang dapat diajukan adalah :

  1. Apa saja yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi) ?
  2. Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tsb (epistemologi) ?
  3. Untuk apa pengetahuan tersebut dipergunakan (aksiologi) ?

Dengan mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan ini, maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khazanah kehidupan manusia.

Setiap jenis pengetahuan, pasti mempunyai ciri-ciri yang "spesifik" mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan. Jadi, ontologi ilmu berkaitan dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu berkaitan dengan aksiologi ilmu, dan seterusnya.

Jadi jika kita ingin membicarakan ontologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan epistemologi ilmu dan aksiologi ilmu; Jika kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi ilmu dan aksiologi ilmu; Jika kita ingin membicarakan aksiologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi ilmu dan epistemologi ilmu.

Pada dasarnya ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya, dan terbatas pada "ruang lingkup" pengalaman k0ita (lihat pembahasan selanjutnya dalam Ruang Lingkup Penjelajahan Ilmu). Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu, dengan tujuan untuk menjawab permasalahan-permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi manusia. Bahkan, kadang digunakan dalam menawarkan berbagai macam kemudahan kepadanya.

Pengetahuan ilmiah, alias ilmu, dapat diibaratkan sebagai alat bagi manusia dalam "memecahkan" berbagai macam persoalan (problematika kehidupan) yang dihadapinya. Nah, pemecahan tersebut pada dasarnya adalah dengan menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol gejala-gejala alam atau apa saja yang berkaitan dengannya (seperti telah dituangkan dalam Apa Hakikat dan Kegunaan Ilmu ?). Maka oleh sebab itulah, sering dikatakan bahwa dengan ilmu, manusia mencoba "memanipulasi" dan "menguasai" alam. (Lihat pembahasan selanjutnya dalam Tentang Pengetahuan).

Sekali lagi, jika kita mengetahui jawaban atas ketiga pertanyaan diatas (yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi), maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai macam jenis pengetahuan yang terdapat dalam khazanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita dapat mengenali berbagai macam pengetahuan yang ada, seperti ilmu, seni, dan agama. Serta mampu meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing, yang saling memperkaya kehidupan kita. Dengan ilmu, hidup jadi mudah.... Dengan seni, hidup jadi indah.... Dengan agama, hidup jadi terarah....

Jadi, tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar, maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan fungsi dan kegunaannya secara maksimal, namun kadang kita salah dalam menggunakannya.
Ilmu dikacaukan dengan seni....
Ilmu dikonfrontasikan dengan agama....
Bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu ?


Semoga ada manfaatnya...!







Etimologi Filsafat

Gaosur Rohim Sunday, December 12, 2010 0 Comments
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan, atau bahkan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu, berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri; Apakah sebenarnya yang kita ketahui tentang ilmu ?  Apa saja yang telah kita ketahui tentang filsafat ? Apa fungsi dan kegunaannya ? Bidang apa saja yang sebenarnya ditelaah filsafat?


Kata falsafah atau filsafat, dalam Bahasa Indonesia merupakan kata serapan yang diambil dari bahasa Arab  فلسفة , juga diambil dari bahasa Yunani φιλοσοφία (philosophia). Dalam bahasa Yunani, kata ini merupakan kata majemuk yang berasal dari kata philia ( persahabatan, cinta, dsb...) dan sophia (kebijaksanaan). Sehingga jika diartikan secara harfiyahnya, filsafat adalah : seorang "pecinta kebijaksanaan" atau seorang "pecinta ilmu". (dikutip dan disadur dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia).

Kata filosofi yang diambil dari Bahasa Belanda, juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia, seseorang yang mendalami bidang filsafat (falsafah) disebut filsuf.

Definisi (ta'rif) kata filsafat, bisa dikategorikan sebuah "problem" falsafi pula. Tetapi, paling tidak, bisa dikatakan bahwa "filsafat" adalah studi yang mengkaji (mempelajari) seluruh 'fenomena' kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Ini didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan saja, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk problem tertentu, memberikan argumentasi dan alasan-alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Serta akhir dari proses-proses itu, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah proses yang disebut dialektik.

Dialektik ini, secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah "bentuk dialog". Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika berbahasa.

Secara sederhana, logika merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang prinsip-prinsip dan metode penalaran. Sedangkan penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir untuk menghasilkan suatu kesimpulan (natijah) berdasarkan keterangan-keterangan yang telah diketahui (lihat pembahasan selanjutnya dalam Rangkuman Logika).

Logika juga merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam Matematika dan Filsafat. Nah, hal inilah salah satu yang membuat filsafat menjadi suatu ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri "eksak" di samping nuansa khas filsafat, yakni spekulasi, keraguan, dan 'couriousity' ketertarikan.

        Pengetahuan dimulai dengan rasa 'ingin tahu'....
        Kepastian dimulai dengan rasa 'ragu-ragu'....
        Dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya....

Dalam tradisi Filsafat Barat, dikenal dengan adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Tema-tema itu adalah ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, dan AKSIOLOGI.

1. Tema yang pertama yaitu ontologi
Ontologi membahas tentang masalah-masalah keberadaan (metafisik) sesuatu yang dapat dilihat dan dibedakan secara empiris (kasat mata), misalnya seperti keberadaan alam semesta, makhluk hidup, tata surya, dan sebagainya.

2. Tema yang kedua yaitu epistemologi
Epistemologi adalah tema yang mengkaji dan membahas tentang pengetahuan (EPISTEME secara harfiyah dapat diartikan sebagai "pengetahuan"). Epistemologi mengkaji dan membahas berbagai hal tentang pengetahuan, seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.

3. Tema yang ketiga yaitu aksiologi
Aksiologi merupakan tema yang membahas tentang masalah nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam kehidupan manusia.

Dalam membangun tradisi filsafat, banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama, menaggapi, dan meneruskan karya-karya para pendahulunya. Sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat tersebut dibangun. Oleh karenanya, filsafat dapat diklasifikasikan berdasarkan daerah geografis, latar belakang agama dan budayanya.

Dewasa ini, filsafat biasa dibagi menjadi 2 kategori besar : pertama berdasarkan wilayahnya, kedua berdasarkan latar belakang agama dan budayanya. Berdasarkan wilayah, filsafat dapat dibagi menjadi : Filsafat Barat, Filsafat Timur, dan Filsafat Timur Tengah. Bedasarkan latar belakang agama dan kebudayaannya, filsafat pun dapat dibagi menjadi : Filsafat Islam, Filsafat Kristen, Filsafat Budha, Filsafat Hindu, dan sebagainya.


Filsafat Barat
Filsafat Barat sebenarnya adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis pada universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini mulai berkembang sejak tradisi falsafi orang-orang Yunani Kuno.

Tokoh utama dalam tradisi Filsafat Barat ini adalah : PLATO (427-347 S.M.), Irsathotholees atau ARISTOTELES (384-322 S.M.), THOMAS AQUINAS (1225-1274), Cartesius atau RENE DESCRATES (1596-1650) yang juga dikenal sebagai "bapak filsafat modern", IMMANUEL KANT (1727-1804), George Hegel (1770-1831), Arthur Schopenhauer (1788-1868), Karl Heinrich Marx (1818-1883), FRIEDRICH NIETZSCHE (1844-1900), JEAN-PAUL SARTRE (1905-1980), dan lain-lain.

Filsafat Timur
Filsafat Timur merupakan tradisi falsafi yang terutama berkembang di wilayah Benua Asia, khususnya di negara India, Tiongkok, dan daerah-daerah lainnya yang pernah dipengaruhi budayanya. Salah satu ciri khas dari Filsafat Timur ini ialah "begitu dekatnya hubungan filsafat dengan agama". Meskipun hal ini juga kurang lebihnya bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan. Tetapi di dunia Barat, filsafat 'an sich' masih lebih menonjol daripada agama.

Tokoh utama dalam tradisi Filsafat Timur ini adalah : SIDDHARTA GAUTAMA (563-483 S.M.), BOEDHIDHARMA (?), LAO TZE/LAO TSU/LAO TSE (570-470 S.M.), Kong Hu Cu alias CONFUCIUS (551-479 S.M.), ZHUANG ZOU/ZHUANG ZI (369-286 S.M.), MAO ZEDONG (1893-1976), dan lain-lain.

Filsafat Timur Tengah
Filsafat Timur Tengah ini sebenarnya mengambil tempat yang sangat "istimewa". Sebab kalau kita lihat dari segi sejarah, para filsuf dalam tradisi ini juga sebenarnya bisa dikatakan merupakan Ahli Waris dari tradisi Filsafat Barat. Karena, yang pertama-tama menjadi para filsuf Timur Tengah adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam (dan juga beberapa orang Yahudi), yang menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah, dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafi mereka. Lalu mereka menerjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani itu.

Bahkan ketika Eropa, setelah runtuhnya kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahan, dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama. Bahkan terjemahan mereka pun dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa.

Tokoh utama dalam tradisi Filsafat Timur Tengah ini adalah : Avicenna alias IBNU SINA (370-428 H. / 979-1037 M.), AL-FAROBI (259-339 H. / 871-941 M.), IBNU MASKAWAIH (330-421 H. / 939-1030 M.), HUJJATUL ISLAM AL-GHOZALI (450-505 H. / 1058-1111 M.), IBNU BAJJAH (475-533 H. / 1082-1138 M.), IBNU THUFAIL (506-581 H. / 1110-1185 M.), IBNU RUSYDI (520-595 H. / 1126-1198 M.), AL-KINDI (193 H. / 808 M.), dan sebagainya.

Mengenai tahun kelahiran Al-Kindi diduga pada masa-masa terakhir dari kehidupan ayahnya yang meninggal pada zaman Khalifah Harun Arrasyid. Al-Kindi meninggal pada tahun 193 H. / 808 M. Jadi, kira-kira disekitar permulaan abad ke-9 Masehi atau sekitar tahun 185 H. / 801 M. yang diduga oleh T.J. De Boer dan Syeikh Musthofa Abdul Raziq.

Demikian juga, terdapat banyak pendapat yang berbeda-beda mengenai sekitar tahun wafatnya Al-Kindi, yakni :

  1. L. Massignon (orientalis Perancis), mengatakan bahwa Al-Kindi meninggal sekitar tahun 246 H. / 869 M.
  2. C. Nallino (orientalis Itali), mengatakan bahwa Al-Kindi meninggal sekitar tahun 260 H. / 873 M.
  3. T.J. De Boer (orientalis Belanda), juga mengatakan bahwa Al-Kindi meninggal sekitar tahun 257 H. / 870 M.
  4. Syeikh Musthofa Abdul Raziq (ex. rektor Universitas Al-Azhar), mengatakan bahwa Al-Kindi meninggal sekitar tahun 252 H. / 864 M.







 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.