Showing posts with label Pendahuluan. Show all posts
Showing posts with label Pendahuluan. Show all posts

Sekilas Tentang Filsafat

Gaosur Rohim Tuesday, November 16, 2010 2 Comments
Sekilas Tentang Filsafat
Segala sesuatu yang berkaitan dengan aktifitas manusia, dapat dipertanyakan dan dicari kedalamannya dengan filsafat. Atau dengan kata lain, untuk segala bidang pasti ada filsafatnya.

Sebagai kajian yang memang telah lama ada, filsafat lah yang berada di belakang munculnya ilmu-ilmu pengetahuan. Irsathotholees atau yang lebih dikenal dengan ARISTOTELES (342-322 S.M.), memulai usaha itu sejak 355 S.M. silam, dengan mendirikannya di Athena, yang disebut Lyceum.

Di sanalah Aristoteles mulai menggali tentang hakikat-hakikat pemahaman dan pengetahuan, hingga muncullah yang namanya Logika, Fisika, Politik, Ekonomi, Psikologi (ilmu jiwa), Metafisika, Meteorologi, Retrotika, Etika, dan sebagainya. Nah, dasar dari bidang-bidang ilmu pengetahuan itu adalah filsafat (lihat pembahasan selanjutnya dalam Apa Saja Bidang Telaah Filsafat?), seperti juga ilmu-ilmu lainnya yang telah dirumuskan sebelumnya oleh filsuf-filsuf awal.


Karenanya, pembelajaran filsafat menjadi sangat penting untuk dikaji dan dilakukan. Bukan hanya sekedar dipertanyakan, tetapi dengan menggunakan rasio untuk memahami dan mendalami pada bidang-bidang tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada dasarnya, sebuah ilmu tidak akan berhenti berkembang, melainkan akan terus semakin bertumbuh seiring dengan berkembangnya rasio manusia.


Kini, hampir 25 abad  silam setelah Aristoteles "memetakan" bidang-bidang ilmu pengetahuan, masing-masing dari bidang-bidang ilmu pengetahuan tersebut telah berkembang dengan pesat. Berbagai teori, hukum, konsep, pemikiran, dan sebagainya, muncul mewarnai kehidupan manusia.


Di bidang Fisika, misalnya, dengan teori relativitas fisikanya, ALBERT EINSTEIN (1879-1955) telah menciptakan perubahan fundamental dalam keseharian manusia (dalam kehidupan sehari-hari), yakni tentang ruang, waktu, materi, obyek fisik, dsb...


Kemudian di bidang Ekonomi, hukum Gossen telah mengubah konsepsi manusia tentang pemuasan terhadap kebutuhan hidupnya (layaknya manusia sebagai makhluk ekonomi).


Sedangkan di bidang Psikologi, bahwa hasil penemuan SIGMUND FREUD (1856-1935) tentang kekuatan "alam bawah sadar" yang telah menciptakan perubahan analisis perilaku manusia. Juga seperti halnya ANTON MESMER (1734-1815), yang telah membawa pengaruh dari ilmu kedokteran dan obat-obatan, khususnya psikiatri, terutama bagi pengobatan penderita penyakit jiwa. Ia memperkenalkan "hipnotisme", yang kemudian dikembangkan dan mempengaruhi timbulnya teori alam bawah sadar. Nah, aliran yang mementingkan "alam bawah sadar" dalam teori-teorinya ini, tidak lain adalah psikoanalisa, yang dipelopori oleh Sigmund Freud. 


Semua bidang ilmu pengetahuan lainnya pun ikut berkembang, terus menerus mencari dan menemukan kebenaran atas berbagai macam hal yang terjadi di dunia ini. Nah, di sinilah salah satu bukti bahwa filsafat sangat berperan. Metode berpikir filsafatlah yang membuat manusia terus gelisah dan mencari kebenaran di masing-masing bidang dengan rasio mereka.


Karenanya, pembelajaran filsafat sebenarnya perlu terus menerus ditumbuhkan dan dikembangkan di masyarakat. Dengan tujuan, agar perkembangan peradaban manusia tetap berada pada garis linier. Jadi, manusia tidak cukup begitu saja dengan kehidupannya sekarang, melainkan terus mempertanyakan hal-hal mendasar yang dijalaninya; baik yang telah dijalani, sedang dijalani, maupun yang akan dijalani. Atau dengan kata lain, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.


Memang..., kadang ketika kita sedang disibukkan dengan rutinitas kita sehari-hari, daya kritis dan imajinasi kita pun cenderung blank dan nyaris "tumpul" (menurut seorang Psikolog), mungkin karena tidak adanya tuntunan yang membuat kita berpikir "di luar kotak", menciptakan ide-ide baru, tanpa meninggalkan dan memandang rendah ide lama.

Nah, berangkat dari pemikiran tersebut, muncullah gagasan sederhana bagaimana disediakannya sebuah ruang berbagi pemikiran filosofis, yang didukung penuh oleh sumber-sumber informasi yang dapat makin mengasah kemampuan berpikir kita, dan makin mampu mengembangkan pemikiran-pemikiran mendasar demi untuk kemajuan hidup bersama.

Dengan bahasa yang sederhana, blog Komunitas Filsafat ini dimaksudkan untuk memasyarakatkan pemikiran-pemikiran filsafat secara elementer (seperti yang sudah dituangkan dalam Kerangka Pengkajian dan Pembahasan), dalam rangka pembentukan peradaban manusia, mengembangkan pembelajaran filsafat dengan "lintas bidang", sehingga terciptanya usaha bersama untuk menemukan kebenaran yang hakiki. Serta untuk meningkatkan minat baca pada buku-buku filsafat, sehingga terciptanya "komunitas" yang menekuni bidang filsafat untuk kehidupan sehari-hari.

Mari kita saling berbagi dalam ruang Komunitas Filsafat ini untuk tumbuh bersama dalam usaha mengembangkan peradaban manusia.


"....Karena hidup ini singkat, maka waktu menjadi amat berharga, bahkan terlampau berharga untuk dilewatkan begitu saja tanpa perbuatan yang bermanfaat bagi kehidupan...."
(Fajar Kurnia Harseno, "Renungan Tentang Waktu dan Pikiran Kita", dalam Introspeksi).







Apa Hakikat dan Kegunaan Ilmu?

Gaosur Rohim Thursday, November 04, 2010 4 Comments
Apa Hakikat dan Kegunaan Ilmu?
Salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu dan teknologi. Kaum ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu dan teknologi itu alpha dan omega dari segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang lebih baik. Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain di samping kebenaran keilmuan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki. Namun bila kaum ilmuwan 'konsekuen' dengan pandangan hidupnya, baik secara intelektual maupun secara moral, maka salah satu penyangga masyarakat modern itu akan berdiri dengan kokoh.


Alkisah.... Suatu hari PLATO (427-347 S.M.) mendapat pertanyaan dari seorang muridnya : "Apakah sebenarnya kegunaan dari pelajaran matematika yang telah kau berikan selama ini...?". Merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan ini, filsuf besar ini langsung memecat serta mengeluarkan murid tersebut dari sekolah.

Pada waktu itu, memang pengetahuan-pengetahuan, termasuk juga ilmu, semuanya belum mempunyai kegunaan praktis, melainkan estetis. Artinya, seperti kita sedang belajar main piano atau membaca sajak cinta saja, maka pengetahuan semacam ini lebih ditujukan kepada kepuasan jiwa, dan sama sekali bukan sebagai konsep untuk memecahkan suatu masalah. Bahkan sampai sekarang pun gejala ini masih sangat terlihat jelas dan menonjol, dimana orang-orang mempelajari berbagai pengetahuan ilmiah bukanlah sebagai teori yang mempunyai fungsi dan kegunaan praktis, melainkan hanya sekedar upaya untuk memperkaya jiwa.

Sambil minum teh serta makanan ringan (snack) lainnya, mereka berdebat tentang masalah nuklir sampai pedagang kaki lima, sekedar untuk mengasah ketajaman berpikir mereka dan mendapatkan kepuasan jiwa. Seperti layaknya olahragawan dalam seni raga orhiba, misalnya, mereka sampai merem-melek setelah kepenatan latihan sebagai ungkapan rasa kepuasan jiwa mereka.

Ilmu merupakan sekedar pengetahuan yang harus dihafal, agar bisa dikemukakan ketika berdebat. Makin hafal lantas makin hebat...!

Pengetahuan yang dikuasai harus mencakup bidang-bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul, kita bisa ikut menyambut. Makin banyak makin yahut...!

Kemampuan mengutip teori-teori ilmiah yang bersifat estetik ini, lalu berkembang menjadi status sosial. Seperti segelintir masyarakat golongan menengah, yang memaksa anak-anaknya untuk belajar main piano atau organ. ("Gengsi doong...!" Katanya !). Padahal anak ingusan itu masih lebih senang berkubang lumpur, bermain karet, bermain boneka, dsb..., ketimbang disuruh memijiti tuts.


Penempatan dan penerapan ilmu pada zaman Yunani Kuno itu, disebabkan filsafat (kefilsafatan) mereka yang memandang rendah terhadap pekerjaan yang bersifat praktis, yang pada waktu itu lazimnya dikerjakan oleh para Budak Belian (Hamba Sahaya).

Adalah hal yang kurang pada tempatnya kalau kaum yang merdeka hanya selalu memikirkan masalah yang tidak sesuai dengan status sosial mereka. Bukankah pekerjaan praktis yang selalu memeras tenaga adalah predikat kaum hamba sahaya ? Hmmm... Sebenarnya pendapat/opini semacam ini bukanlah sesuatu yang tabu, Teman ! Sebab, zaman sekarang pun masih banyak orang-orang yang beranggapan seperti itu.

Atau bahkan, "Anakku, jangan mau jadi masinis atau pekerja tekhnik ya...! Jadi pegawai negeri saja, enak lho...!!!" (...begitu katanya!).

Nah, persepsi yang salah seperti inilah yang sebenarnya menyebabkan kurang berkembangnya kebudayaan menghafal dalam sistem pendidikan kita. Ilmu tidak lagi memiliki fungsi sebagai pengetahuan yang diterapkan dalam masalah kita sehari-hari, melainkan sekedar dikenal dan dikonsumsi (dinikmati). Seperti halnya lagu Ebiet G. Ade, sajak Sutardji, atau bahkan lagu Virgiawan Listanto alias Iwan Fals.

Sekarang ini, bukan lagi hal yang mustahil apabila kita menemukan dalam sebuah lomba deklamasi, mungkin ada salah seorang peserta yang setelah mengangguk kepada dewan juri, dan kemudian spontan memekik : "H-u-k-u-u-u-m  B-o-y-l-e...!" (dengan intonasi selangit).

Sajak Sutardji, lagu Ebiet atau Iwan Fals, masing-masing fungsinya memang bersifat estetik, yang  kalau kita konsumsikan dengan baik, bisa memberikan kenikmatan bathiniah. Jiwa kita tergetar, terharu, dan tersentuh oleh komunikasi artistik, menyibakkan dunia makna yang tak terjangkau kasat mata. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah dewasa, yang selanjutnya akan mengubah sikap dan kelakuan kita.

Sebuah karya Multatuli, yakni Max Havelaar, begitu menyentuh nurani bangsa Belanda, yang membuahkan perubahan sikap terhadap penindasan dan penjajahan, yang seperti kita ketahui dalam sejarah, membuahkan perubahan terhadap kebijaksanaan politik. Meskipun patut dicatat bahwa perubahan sikap dan kelakuan itu tidak selalu menggembirakan.

Atau seperti lagu Sombre Di Manche dan novel Werther karya Goethe, misalnya, pernah menyebabkan orang-orang muda sepi dan patah hati, hingga melakukan bunuh diri... Hmmm....

Kiranya bahwa sajak atau nyanyian adalah fungsional bagi kehidupan kita, dan hal ini tidak perlu diragukan lagi, namun terdapat fungsi dan kegunaan yang berbeda antara kedua ungkapan seni tersebut dengan teori keilmuan. Seperti perbedaan antara Hukum Boyle dengan lagu Ebiet G. Ade.

Lagu Ebiet, misalnya, mengungkapkan masalah urbanisasi : "terkapar di tengah kota, berbekal tinggal sehelai sarung, namun malu balik ke desa...!" Lagu ini, mungkin menyadarkan kita kepada permasalahan-permasalahan yang merasuk ini, berkumandang dan menggelitik nurani, yang membuahkan perubahan sikap dan mungkin perilaku kita terhadap urbanisasi. Namun yang jelas, kita tidak pernah bisa memecahkan masalah urbanisasi hanya dengan menyanyi.

Lalu bagaimana...?

Ya, tentu kita harus melakukan tindakan-tindakan kongkrit dong...! Tidak dengan membentuk "Vocal Group", namun melakukan serangkaian tindakan-tindakan yang konsepsional berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang terandalkan.

Nah, untuk sementara Ebiet keluar panggung, sekarang giliran ilmuwan Ahli Urban masuk. Bukan menjinjing guitar, melainkan mengepit textbook.

Buku-buku teks ilmuwan ini, tidak jauh berbeda dengan buku-buku primbon seorang peramal (tukang ramal), yang dipergunakan untuk konsultasi dalam memecahkan masalah-masalah praktis. Ya, paling pun berbeda adalah ruang lingkupnya :

"Mbah, bagaimana ya ramalan kehiduan cucunda setelah PILKADA nanti ?"

Atau, "Prof, bagaimana ramalan situasi minyak bumi kita menjelang tahun 2020 nanti ?"

Eh, bahkan, seperti konsultasi dengan dokter, kita bukan hanya sekedar didiagnosis, namun juga diberi pemecahan-pemecahan praktis.

"Cucuku, agar ramalan yang suram ini segera lenyap, maka minumlah air putih ini tiga kali sehari, setelah membakar kemenyan...!"  (misalnya).

Atau, "Agar sumur minyak Indonesia pada tahun 2020 nanti tidak dijadikan kubangan kerbau, maka sejak dini kita harus mengembangkan kompor dengan energi nuklir...!"  (misalnya).

Jadi, buku-buku tebal ilmuwan pada hakikatnya sama saja dengan buku-buku primbon tukang ramal, yakni menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol. Namun dalam hal ini, tentu saja yang berbeda adalah asas-asas dan prosedurnya.

Menjelaskan-meramalkan-mengontrol inflasi, kita mempergunakan asas dan prosedur keilmuan. Sedangkan menjelaskan-meramalkan-mengontrol telapak tangan, kita mempergunakan asas dan prosedur perklinikan.

Nah, dengan demikian, kita tidak usah heran kalau dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan, orang tidak selalu datang berkonsultasi kepada ilmuwan, melainkan kepada tukang ramal. Keduanya memang melakukan fungsi dan kegunaan yang sama, meskipun dengan asas dan prosedur yang berbeda. Pilihan di antara keduanya memang sangat tergantung kepada kepercayaan kita masing-masing. Artinya, dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan, apakah kita mempercayai asas dan prosedur keilmuan atau perklinikan.

Tingkat kepercayaan seseorang dan masyarakat memang berbeda-beda : kepercayaan seseorang tergantung kepada pendidikannya (baik formal maupun non-formal), sedangkan kepercayaan masyarakat tergantung kepada kebudayaannya (baik tradisional maupun mutakhir).

Lalu bagaimana tingkat professional ilmuwan yang tidak bisa menjelaskan-meramalkan-dan-mengontrol masalah-masalah kehidupan kehidupan, melainkan sekedar menghafal ?

Mungkin bisa membantu musisi menciptakan syair lagu-lagunya dalam rangka memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan mengilmiahkan masyarakat !
Musik ? Ilmuwan ?

"....Humor mengajarkan toleransi. Dan seorang humoris, dengan senyum di bibirnya, sambil menghela nafas, kemungkinan besar akan mengangkat bahu daripada harus memaki-maki...."
(W. Somerset Maugham dalam The Summing Up)







Kerangka Pengkajian dan Pembahasan

Gaosur Rohim Tuesday, October 12, 2010 0 Comments
Blog Komunitas Filsafat ini hanyalah merupakan pengantar yang bersifat elementer, yang ditulis dengan bahasa populer sehari-hari. Tidak semua materi yang seharusnya tercakup dalam sebuah kajian filsafat ilmu dan kefilsafatan dibahas dalam blog ini. Sengaja dipilih hanya beberapa persoalan pokoknya saja yang seharusnya diketahui pada tahap elementer.

Pembahasan ini ditujukan kepada para pemula yang ingin mengetahui aspek kefilsafatan dari bidang keilmuan, dan bukan ditujukan kepada mereka yang ingin menjadikan filsafat ilmu dan kefilsafatan sebagai suatu bidang keahlian.

Pada dasarnya blog ini hanyalah mencoba membahas menganai aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis keilmuan sambil membandingkannya dengan beberapa pengetahuan lain. Dalam kaitan ini, maka akan dibahas tentang hakikat beberapa sarana berpikir ilmiah, yaitu Bahasa, Logika, Matematika, dan Statistika. Setelah itu, maka penulis akan membahas mengenai beberapa aspek yang berkaitan erat dengan kegiatan keilmuan, seperti aspek moral, sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Dan jika diperkenankan, penulis juga akan membahas mengenai struktur penelitian dan penulisan ilmiah. Dengan harapan agar dapat membantu mereka yang ingin berkarya dalam bidang keilmuan.

Tujuan utama dari blog Komunitas Filsafat yang bersifat pengantar dan elementer ini, bukanlah pendalaman yang bersifat teknis, melainkan pengenalan secara menyeluruh. Pembahasannya pun dilakukan secara populer dengan menjauhkan semungkin bisa aspek-aspek teknis yang terlalu sulit untuk dicerna dalam sebuah blog yang bersifat elementer ini.

Salah satu tujuan yang ingin dicapai dari blog Komunitas Filsafat ini ialah agar masyarakat (khususnya generasi muda) tergerak hatinya untuk mengenal dan mencintai kefilsafatan. Jadi, wajah filsafat yang biasanya kelihatan "angker" ingin dicoba diubah menjadi santai, rileks, dan menyenangkan.

Mengenai materi filsafat ilmu dan kefilsafatan yang terkandung dalam blog Komunitas Filsafat ini, merupakan kompromi ekletik dari berbagai aliran yang hidup dalam pemikiran filsafat.

Titik berat pembahasannya diletakkan pada kesamaan yang terdapat dalam berbagai aliran tersebut, dan bukan pada perbedaannya yang dapat melahirkan kontroversial. Untuk itu, tema pokok dari filsafat ilmu dan kefilsafatanlah yang ingin dikemukakan di sini, dan bukan variasi-variasi yang berkembang sekitar tema pokok tersebut. Untuk pembahasan filsafat yang bersifat elementer ini, pendekatan-pendekatan tersebut mungkin dapat dipertanggungjawabkan.


Ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan yang berkembang dengan sangat pesat. Dewasa ini, yang sering disebut sebagai kurun ilmu dan teknologi, hampir seluruh aspek kehidupan dipengaruhi oleh keberadaannya.


Ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan yang digumuli dalam kegiatan pendidikan. Tetapi apakah sebenarnya ilmu (science) itu ? Apakah ciri yang membedakannya dengan pengetahuan (knowledge) lainnya seperti seni dan agama ? Bagaimana cara kita melakukan penelitian secara ilmiah ? Sarana-sarana keilmuan apa saja yang harus dikuasai agar kita mampu melakukan kegiatan ilmiah dengan baik ?


Dengan bahasa yang sederhana, blog Komunitas Filsafat ini ingin mencoba membahas permasalahan-permasalahan tersebut. Dimulai dengan mengenali hakikat-hakikat ilmu dengan prosedur keilmuan dalam memproses pengetahuan ilmiahnya, juga akan membahas tentang Bahasa, Logika, Statistika, dan Metodologi Penelitian Ilmiah disamping dampak Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap moral dan kebudayaan. Untuk mereka yang sedang menulis skripsi/tesis/disertasi akan kami sertakan petunjuk-petunjuk praktis untuk melakukan penelitian dan pedoman menulis karya ilmiah.


Untuk semua itulah, maka blog Komunitas Filsafat ini kami persembahkan dengan segala kekurangannya. Dengan isi yang sederhana, dan kata-kata yang bersahaja, semoga blog ini dapat memberi manfaat sekedar menyikap tabir kefilsafatan dan menjenguk isi relungnya.


Ah, sekiranya filsafat...
Bisa dekat dengan kehidupan kita...
Dalam senda gurau dan kesungguhan...
Menatap bianglala...!







 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.