Showing posts with label Sejarah Filsafat Yunani. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Filsafat Yunani. Show all posts

Tentang Mitos dan Logos (Ikhtisar)

Gaosur Rohim Sunday, March 09, 2014 18 Comments
Tentang Mitos dan Logos (Ikhtisar)
Komunitas Filsafat - Pada tulisan sebelumnya sudah dikatakan bahwa mitologi merupakan faktor yang mendahului filsafat dan "seolah-olah" mempersiapkan ke arah timbulnya filsafat. Memang benar, filsuf-filsuf pertama menerima obyek penyelidikannya dari mitologi, yaitu alam semesta dan kejadian-kejadian yang setiap orang dapat menyaksikan di dalamnya. Mitologi Yunani memang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang alam semesta itu, tetapi jawaban-jawaban serupa itu justru diberikan dalam bentuk mite, yang meloloskan diri dari tiap-tiap kontrol pihak rasio.[1]


Mitos atau mite adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah masa lalu (masa lampau), yang mengandung penafsiran tentang alam semesta serta keberadaan makhluk di dalamnya, dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional (cerita kuno).[2] Pada umumnya, mitos menceritakan kejadian alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para mahkluk supranatural, dan sebagainya. Mitos bisa muncul dari catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan.

Sedangkan logos, termasuk konsep salah satu kunci dalam agama Yahudi. Kata logos dalam bahasa Ibrani, davar, sangat erat hubungannya dengan penciptaan, kristologi, soteriologi, dan teologi. Kata logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sabda, atau "buah pikiran" yang diungkapkan dengan perkataan, pertimbangan nalar, atau arti. Dalam bahasa Ibrani, davar berarti hal yang berada di belakang, yang berarti firman Tuhan, yang dianggap sejajar dengan sofia (hikmat), yaitu perantara (wasilah) Tuhan dengan makhluk ciptaannya.[3]

Sekitar abad ke-6 S.M. sudah mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Sejak saat itu manusia mulai mencari jawaban-jawaban rasional tentang masalah-masalah yang diajukan oleh alam semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mitos (mythos), dengan begitulah filsafat dilahirkan. Bisa dikatakan bahwa kata "logos" mempunyai arti yang lebih luas dibandingkan kata "rasio". Logos berarti baik kata (tuturan, bahasa) maupun juga rasio.

Meskipun filsafat lahir pada saat rasio mengalahkan mite, tetapi tidak berarti seluruh mitologi ditinggalkan begitu saja secara mendadak. Sebenarnya proses itu berlangsung secara berangsur-angsur saja. Seluruh filsafat Yunani dapat dianggap sebagai suatu pergumulan yang panjang antara mitos dan logos. Dan justru sebenarnya tidak sulit untuk menunjukkan pengaruh mitlogi atas filsuf-filsuf yang pertama. Namun demikian, pada abad ke-6 S.M., di negeri Yunani telah terjadi sesuatu yang benar-benar baru.[4]

Filsuf-filsuf pertama memandang dunia atas cara yang belum pernah dipraktekkan oleh orang lain. Mereka tidak lagi mencari keterangan tentang alam semesta dalam peristiwa-peristiwa mitis pada awal mula yang harus dipercaya begitu saja, sebab belum ada kemungkinan untuk membuktikan kebenarannya. Mereka tidak membatasi diri atas mite-mite yang telah diturunkan dalam tradisi, setinggi-tingginya ditambah dalam imajinasi puitis, seperti pada HESIODOS (750 S.M.). Mereka sudah mulai berpikir sendiri. Di belakang kejadian-kejadian yang dapat diamati oleh umum, mereka mencari suatu keterangan yang memungkinkan untuk dapat mengerti tentang kejadian-kejadian itu.

Tidak dapat disangkal lagi, keterangan-keterangan semacam itu bagi telinga kita sekarang ini sering kali agak "naif" kedengarannya. Tetapi yang terpenting adalah cara rasional dan logis yang mereka gunakan untuk mendekati problem-probem yang ditemui dalam alam semesta. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah pelangi (rainbow). Dalam masyarakat tradisional Yunani, pelangi adalah seorang "Dewi" yang bertugas sebagai pesuruh bagi dewa-dewa lain.[5] Tanggapan semacam ini dapat kita baca mengenai HOMEROS (850 S.M.), misalnya. Tetapi XENOPHANES (570-480 S.M.), salah seorang di antara filsuf-filsuf pertama, mengatakan bahwa pelangi merupakan suatu awan.

Kira-kira satu abad sesudahnya, ANAXAGORAS (499-428 S.M.) sudah mengerti bahwa pelangi disebabkan oleh pantulan matahari dalam awan-awan. Dan justru karena cara pendekatan seperti itulah yang bersifat rasional, dan dapat dibuktikan oleh siapa saja, terbukalah kemungkinan untuk mendebatkan hasil-hasilnya secara leluasa dan untuk umum. Satu jawaban akan menampilkan pertanyaan-pertanyaan lain, dan kritik atas suatu keterangan akan menuntut timbulnya keterangan lain, sehingga dalam suasana rasional ini perkembangan dan kemajuan ilmiah menjadi sangat mungkin.

Kalau kita katakan bahwa filsafat lahir karena logos telah mengatakan mitos, berarti sekali lagi harus kita tekankan bahwa kata filsafat di sini meliputi filsafat maupun ilmu pengetahuan, sebagaimana keduanya sekarang dibedakan dalam terminologi modern. Bagi orang Yunani, filsafat merupakan suatu pandangan rasional tentang segala-galanya. Baru berangsur-angsur dalam sejarah kebudayaan, berbagai ilmu satu demi satu melepaskan diri dari filsafat, supaya memperoleh otonominya.

Dari sebab itu, filsuf-filsuf selanjutnya seperti RENE DESCRATES alias CARTESIUS (1596-1650), IMMANUEL KANT (1724-1804), GEORGE W. F. HEGEL (1770-1831), EDMUND HUSSERL (1859-1938), dan ilmuwan-ilmuwan lainnya seperti ISAAC NEWTON (1642-1727), MAX PLANCK (-), ALBERT EINSTEIN (1879-1955) mempunyai leluhur-leluhur yang sama di negeri Yunani. Bangsa Yunani mendapat kehormatan yang bukan kecil, bahwa merekalah yang "menelorkan" cara berpikir ilmiah. Kata J. Burnet: "it is an adequate description of science to say that it is thinking about the world in the Greek way....". Adalah suatu penggambaran tepat mengenai ilmu pengetahuan, bila dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah berpikir tentang dunia dengan gaya Yuanani.

Dengan demikian mereka termasuk pendasar pertama kultur barat, bahkan kultur sedunia, sebab cara pendekatan ilmiah semakin menjadi unsur hakiki dalam suatu kultur universal yang merangkun seluruh kebudayaan di seluruh dunia.


Demikian yang dapat kami rangkum mengenai Mitos dan Logos. Semoga ada manfaatnya serta dapat menambah wawasan kita. Jika Anda ingin menambahkan atau sekedar mengoreksi, silahkan tuangkan di kotak komentar. Kritik dan saran yang bersifat membangun, senantiasa kami terima dengan tangan terbuka.




1. Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales Ke Aristoteles (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 18.
2. Wikipedia: Ensiklopedia Bebas.
3. Ibid.
4. Bertens, op. cit., hlm. 17.
5. Bertens, loc. cit.



3 Faktor Lahirnya Filsafat di Yunani

Gaosur Rohim Sunday, February 16, 2014 12 Comments
3 Faktor Lahirnya Filsafat di Yunani
Suatu pandangan dunia dan umumnya suatu pandangan teoritis tidak pernah melayang-layang di udara. Setiap pemikiran teoritis mempunyai hubungan erat dengan lingkungan dimana pemikiran itu dijalankan. Ini benar juga bagi permulaan pemikian teoritis, yaitu lahirnya filsafat di Yunani pada abad ke-6 S.M. Agar tidak ada salah faham, di sini harus ditambahkan bahwa bagi seorang Yunani, filsafat tidak merupakan suatu ilmu di samping ilmu-ilmu lain, tetapi meliputi segala pengetahuan ilmiah.


Tanah Yunani adalah tempat persemaian dimana pemikiran ilmiah mulai tumbuh.[1] Kiranya sudah jelas bahwa lahirnya filsafat dan ilmu pengetahuan di Yunani tidak dapat dimengerti tanpa sekedar mengetahui sedikit kebudayaan Yunani. Dalam hal ini kita akan mencoba melukiskan beberapa ciri khas kebudayaan Yunani yang merupakan latar belakang bagi lahirnya filsafat di negeri itu.

Nama "filsafat" dan "filsuf" berasal dari kata-kata Yunani philosophia dan philosophos. Menurut bentuk kata, seorang philo-sophos adalah seorang "pecinta kebijaksanaan". Ada tradisi kuno yang mengatakan bahwa nama "filsuf" (philosophos) untuk pertama kalinya dalam sejarah dipakai/dipergunakan oleh PYTHAGORAS (-).[2] Tetapi kesaksian sejarah mengenai kehidupan dan aktivitas Pythagoras demikian tercampur dengan legenda-legenda, sehingga seringkali kebenaran tidak dapat dibedakan dari reka-rekaan saja.

Demikian juga mengenai hikayat yang mengisahkan bahwa nama "filsuf" ditemukan oleh Pythagoras. Yang pasti ialah bahwa dalam kalangan SOCRATES (470-399 S.M.) dan PLATO (427-347 S.M.), nama "filsafat" dan "filsuf" sudah lazim dipakai. Dalam dialog Plato yang berjudul Phaidros, misalnya, kita membaca: "Nama 'orang bijaksana' terlalu luhur untuk memanggil seorang manusia, dan lebih cocok untuk Tuhan. Lebih baik ia dipanggil philosophos, pecinta kebijaksanaan. Nama ini lebih berpatutan dengan makhluk insani".

Perkataan Plato ini juga serentak menunjukkan suatu aspek penting dari istilah philosophia. Menurut pandangan Yunani, seorang yang mempunyai kebijaksanaan sebagai milik definitif, sudah melampaui kemampuan insani. Orang yang demikian itu sudah melangkahi batas-batas yang ditentukan untuk nasibnya sebagai manusia.

Memiliki kebijaksanaan berarti mencapai suatu status adimanusiawi.[3] Itu sama saja dengan hybris (rasa sombong) yang selalu ditakuti dan dihindari orang-orang Yunani. Manusia harus menghormati batas-batas yang berlaku bagi status insaninya. Karena ia manusia, dan bukan Tuhan, ia harus puas dengan mengasihi kebijaksanaan. Kebijaksanaan tidak akan pernah menjadi milik manusia secara komplit dan definitif. Karena alasan-alasan itulah orang-orang Yunani lebih memilih nama "filsafat" (philosophia) dan "filsuf" (philosophos).

Bukan karena nama filsafat berasal dari bahasa Yunani, tetapi isi konsep yang ditunjukkan dengan nama ini merupakan suatu penemuan Yunani yang khas. Pada abad ke-6 S.M., telah terjadi apa yang sudah pernah dinamakan sebagai peristiwa ajaib Yunani (The Greek Miracle).[4] Lahirnya filsafat di tempat itu dan waktu itu, memang dapat disebut sebagai peristiwa ajaib, karena tidak mungkin memberi alasan-alasan yang menerangkan kejadian itu secara memuaskan. Namun demikian, ada beberapa faktor yang sudah mendahului dan seakan-akan sudah mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani. Ketiga faktor itu adalah mitologi, sastra Yunani, dan ilmu pengetahuan.


1. Mitologi
Pertama-tama, pada bangsa Yunani, seperti juga pada bangsa-bangsa sekitarnya, terdapat suatu mitologi yang kaya serta luas. Nah, mitologi ini dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat, karena mite-mite sudah merupakan percobaan untuk dimengerti. Mite-mite ini sudah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang hidup dalam hati manusia: Di mana dunia kita? Dari mana kejadian-kejadian dalam alam? Apa sebab matahari terbit, lalu terbenam lagi?

Melalui mite-kite ini, manusia mencari kejelasan tentang asal usul alam semesta dan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite yang pertama, yang mencari kejelasan tentang asal usul alam semesta sendiri biasanya disebut mite kosmogonis. Sedangkan mite yeng kedua, yang yang mencari kejelasan tentang asal usul serta sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta disebut mite kosmologis.

Yang khusus pada bangsa Yunani ialah bahwa mereka mengadakan beberapa usaha untuk menyusun mite-mite yeng diceritakan oleh rakyat menjadi suatu keseluruhan yang sistematis. Dalam usaha itu sudah tampaklah sifat rasional bangsa Yunani. Karena dengan mencari keseluruhan yang sistematis, mereka sudah menyatakan keinginan untuk mengerti hubungan mite-mite satu sama lain, dan menyingkirkan mite yang tidak dapat dicocokkan dengan mite lain. Salah satu usaha serupa itu adalah syair HESIODOS (-) yang berjudul Theogonia.

Kumpulan mite-mite lainnya ada dalam lingkungan Orfisme, suatu aliran religius yang konon katanya didirikan oleh penyair ORPHEUS (-). Dan juga di sini bisa dikatakan bahwa kumpulan mite-mite yang dikarang oleh PHEREKYDES (-) dari Syros. ARISTOTELES (-) menamai orang-orang seperti Hesiodos dan Pherekydes dengan gelar theologoi (teolog-teolog) dan membedakan mereka dengan filsuf-filsuf sebelumnya.


2. Sastra Yunani
Kesusasteraan Yunani juga dianggap sebagai persiapan yang mempengaruhi lahirnya filsafat di Yunani, asal saja kita memakai kata itu dalam arti seluas-luasnya, sehingga meliputi juga amsal-amsal, teka-teki, dongeng-dongeng, dan sebagainya. Kedua karya puisi HOMEROS (-) yang masing-masing berjudul Ilias dan Odyssea, mempunyai kedudukan yang sangat istimewa dalam kesusasteraan Yunani. Syair-syair ini lama juga digunakan sebagai semacam buku pendidikan untuk rakyat Yunani.

Dalam dialog Plato yang berjudul Politeia, Plato mengatakan bahwa Homeros telah mendidik seluruh Hellas.[5] Peranan syair-syair Homeros dalam kebudayaan Yunani kuno dapat dibandingkan dengan peranan wayang dalam kebudayaan Jawa dulu.[6] Kareana puisi Homeros pun banyak digemari oleh rakyat Yunani, untuk mengisi waktu luang, dan memang mempunyai nilai edukatif.

Banyak berabad-abad lamanya terdapat penyanyi-penyanyi (rhapsodes) yang bepergian dari satu kota ke kota lain dalam seluruh dunia Yunani untuk mendeklamasikan syair-syair Homeros itu. Para filsuf Yunani seringkali menyebut Homeros, biarpun mereka juga sering mengemukakan kritik atas puisinya, terlebih XENOPHANES (-) dan PLATO (427-347 S.M.). Aristoteles mengutip Homeros di samping filsuf-filsuf lainnya, terutama dalam hal Metafisika, seakan-akan ia ingin menggolongkan Homeros pada filsuf-filsuf itu.


3. Ilmu Pengetahuan
Akhirnya, sebagai faktor ketiga, yang dianggap sebagai faktor lahirnya filsafat di Yunani, ialah ilmu pengetahuan yang pada waktu itu sudah ada di Timur Kuno. Bangsa Yunani tentu berhutang budi kepada bangsa-bangsa lain dalam menerima beberapa unsur ilmu pengetahuan dari mereka.

Demikian juga ilmu ukur dan ilmu hitung, yang sebagian berasal dari Mesir. Dan Babylonia pasti ada pengaruhnya dalam ilmu astronomi di negeri Yunani. Namun, andil dari bangsa-bangsa lain dalam perkembangan ilmu pengetahuan Yunani tidak boleh dilebih-lebihkan.[7] Bangsa Yunani telah mengolah unsur-unsur tersebut yang tidak pernah disangka-sangka oleh bangsa Mesir dan Babylonia. Baru pada bangsa Yunani, ilmu pengetahuan bisa mendapat corak yang benar-benar ilmiah.

Sampai saat itu ilmu pengetahuan hanya dijalankan dalam konteks praktis. HERODOTOS (-), sejarawan Yunani yang sudah ternama sejak abad ke-5 S.M., menceritakan bahwa ilmu ukur memang berkembang di Mesir, karena di sana tiap tahun dirasakan keperluan untuk mengukur kembali tanah setelah banjir sungai Nil. Tidak mustahil jika Herodotos benar dengan pendapatnya itu.

Kalau begitu, gema asal usulnya masih kedengaran dalam nama yang dipakai orang Yunani untuk menunjukkan ilmu itu: geometria (pengukuran tanah). Tetapi pada orang Yunani, ilmu pengetahuan tidak dijalankan dalam suatu konteks praktis saja. Mereka mulai mempelajari ilmu pengetahuan dengan tidak "mencari untung" atau "tanpa pamrih" (disinterestedly).

Di negeri Yunani; ilmu pasti, astronomi, dan ilmu pengetahuan, pada umumnya mulai diprakekkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan demi keuntungan yang letaknya di luar ilmu pengetahuan itu. Kita tidak boleh melupakan bahwa orang Yunani hidup dalam kemasyarakatan yang sama sekali berbeda dengan lingkungan sosial dimana orang Timur Kuno hidup. Perbedaan ini mempunyai konsekuensi yang cukup besar untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Pada bangsa-bangsa Timur Kuno, ilmu pengetahuan dipraktekkan dalam istana-istana, atas perintah dan di bawah pengawasan raja-raja. Tetapi orang Yunani, pada abad ke-6 S.M. hidup dalam polis selaku orang merdeka, yang akan kita bahas di lain kesempatan. Baru bentuk sosial beginilah yang menciptakan suasana serasi dimana ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan semestinya.


Demikian yang dapat kami rangkum mengenai 3 Faktor Lahirnya Filsafat di Yunani. Semoga ada manfaatnya serta dapat menambah wawasan kita. Jika Anda ingin menambahkan atau sekedar mengoreksi, silahkan tuangkan di kotak komentar. Kritik dan saran yang bersifat membangun, senantiasa kami terima dengan tangan terbuka.




1. Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales Ke Aristoteles (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 13.
2. Ibid.
3. Ibid., hlm. 14.
4. Ibid.
5. Hellas adalah nama lain untuk negeri Yunani, sedangkan nama Hellen berarti seorang Yunani.
6. Bertens, loc. cit.
7. Bertens, op. cit., hlm. 16.



 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.