Showing posts with label Kolom Biografi. Show all posts
Showing posts with label Kolom Biografi. Show all posts

Sekelumit Biografi Plato

Gaosur Rohim Wednesday, February 23, 2011 15 Comments
Plato
Plato (Ο Πλάτων) adalah merupakan salah satu dari beberapa filsuf kelahiran Yunani. Selain Socrates dan Aristoteles, ia juga termasuk figur yang paling penting dalam tradisi Filsafat Barat. Plato adalah "murid" dari SOCRATES (470-399 S.M.), dan "guru" dari Irsathotholees atau ARISTOTELES (384-322 S.M.). Pemikiran-pemikiran Plato ini sebenarnya banyak sekali dipengaruhi oleh Socrates, gurunya.

Salah satu karya Plato yang paling terkenal dan "ngetop", tidak lain adalah Republik (Δημοκρατία), yang di dalamnya adalah berisi tentang uraian-uraian penting mengenai "garis besar" pandangannya terhadap "keadaan ideal". selain itu, Plato juga menuliskan tentang Hukum dan banyak Dialog, dimana yang selalu menjadi "peserta utamanya" tidak lain adalah Socrates, gurunya itu lho....!

Menurut riwayat, Plato ini dilahirakan pada tahun 427 S.M., dan wafat sekitar tahun 347 S.M.. Salah satu perumpamaan Plato yang sangat termasyhur adalah "perumpamaan tentang orang di dalam goa/gua". Bahkan, seorang orator dan negarawan Romawi Kuno, yakni MARCUS TULLIUS CICERO (106-43 S.M.) pernah mengatakan : "Plato scribend est mortuus....", (artinya kurang lebih : Plato meninggal ketika sedang menulis).


3 Ciri Khas Karya Plato :

1. Bersifat Socratic
Di dalam karya-karya Plato, yang memang telah ia tulis ketika masa mudanya, Plato ini selalu menampilkan tentang "kepribadian Socrates" serta karangan-karangan Socrates sebagai topik utama dalam rangka menyusun karya-karyanya itu.

2. Berbentuk Dialog
Pada kenyataanya, bahwa hampir seluruh karya-karya Plato itu dikemas dalam bentuk nada dialog. Bahkan dalam salah satu karyanya, ia mengemukakan pendapatnya bahwa : "Pena dan tinta itu dapat membekukan pemikiran-pemikiran sejati, yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu....".

Oleh karena itulah menurutnya : "....Jika suatu pemikiran itu perlu dituliskan, maka ulisan yang paling cocok dan yang paling baik adalah tulisan yang berbentuk dialog/tulisan yang dibuat dalam bentuk dialog....". Ya, isi kepala orang itu kan berbeda-beda. Jadi beda kepala, beda pula pemikirannya. Kalaupun sama, itu hanya merupakan kebetulan (ittifaqiah) saja; kalaupun berbeda, itu juga hanya merupakan perbedaan (ikhtilafiah) semata. Lalu, intinya apa ? Jangan diributkan !

3. Terdapat Banyak Mite
Biasanya, Plato mempergunakan mite-mite untuk menjelaskan dan menerangkan tentang ajaran-ajarannya, yang bersifat abstrak dan adiduniawi. Bahkan VERHAAK sampai-sampai menggolongkan tulisan-tulisan hasil karya Plato itu ke dalam "karya sastra", dan bukan ke dalam "karya ilmiah" yang sistematis. Alasannya karena 2 ciri yang terakhir itu, yakni banyak mite dan selalu berbentuk dialog.


Pandangan Plato Tentang Idea-idea
Seperti yang telah kita ketahui, bahwa salah satu warisan Plato yang terpenting dan pokok adalah ilmunya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea ini, sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan Socrates tentang definisi absolute.

Namun perlu kita ketahui, bahwa idea yang dimaksud oleh Plato ini, sama sekali bukan berarti idea yang dimaksud oleh orang-orang modern. Sebab idea yang dimaksud oleh orang-orang modern adalah gagasan atau tanggapan atau "gagasan pokok" dan sebagainya, yang hanya terdapat di dalam pemikiran saja. Tetapi idea yang dimaksud oleh Plato adalah : Idea yang tidak diciptakan oleh pemikiran manusia, idea yang tidak tergantung pada pemikiran manusia, idea yang bukan muncul dari hasil pemikiran manusia.

Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pemikiran manusialah yang tergantung pada idea. Idea ini merupakan "citra pokok" dan perdana realitas, non-material, abadi, dan tidak berubah. Sebab menurut Plato, idea itu "sudah ada" dan "berdiri sendiri" di luar pemikiran manusia.

Seluruh idea-idea itu sebenarnya saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya : Idea tentang 2 buah lukisan yang tidak dapat terlepas dari idea 2, sedangkan idea 2 itu sendiri tidak bisa terpisah dari ide genap. Namun pada akhirnya terdapat "puncak" yang paling tinggi di antara hubungan ide-ide tersebut. Nah, puncak inilah yang disebut sebagai ide yang indah, yakni ide yang melampaui seluruh ide yang ada.


Pandangan Plato Tentang Dunia Inderawi
Dunia inderawi adalah dunia yang mencakup keseluruhan benda-benda jasmani yang bersifat kongkrit, yang dapat dirasakan oleh panca indera kita. Dunia inderawi ini, tidak lain hanyalah suatu refleksi atau bayangan daripada dunia yang ideal.

Biasanya selalu terjadi perubahan dalam dunia inderawi ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini bersifat fana, dapat rusak, dapat hancur, dan dapat mati. (Ya, iyalah..., Tak ada yang abadi kecuali Tuhan! Dan satu-satunya kenyataan yang tak bisa kita hindari adalah kematian. Kalaupun ada di antara kita yang menganggap bisa, mau ngumpet kemana ? Mati-mati juga....!).


Pandangan Plato Tentang Dunia Idea
Dunia idea merupakan dunia yang hanya terdapat dalam rasio (akal), yang hanya terbuka bagi rasio kita. Maka dari itulah bagi mereka yang mau mendalami ilmu kalam (tauhid), amat sangat penting harus mengkaji terlebih dahulu ilmu akal ini (mantik). Sebab jika tidak..., wah, bisa-bisa "salah jalan" dan nyasar. Tidak menutupi kemungkinan jika kedepannya dia mengaku Nabi, atau Rosul, dsb. (Ya, seperti yang sedang "pop" dan ngetrend akhir-akhir ini).

Dalam dunia ide ini tidak ada perubahan (tidak seperti dunia inderawi), semua ide ini bersifat kekal (abadi), bahkan tak dapat diubah-ubah. Hanya ada satu ide yang "bagus", yang "indah". Dan di dalam dunia ide ini, semuanya sangat sempurna. hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pemikiran, hasil buah (tsamroh) intelektual. Misalnya seperti konsep mengenai "kebajikan" dan "kebenaran".


Pandangan Plato Tentang Karya Seni
Pandangan Plato mengenai karya seni ini sebenarnya dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikap Plato terhadap seni itu sangat jelas, seperti yang telah dituangkan dalam salah satu karyanya, yakni Republik (Politeia). Plato ini memandang negatif terhadap karya seni, ia menilai bahwa karya seni itu sebagai mimesis mimesos belaka.

Karena bagi Plato, bahwa karya seni itu adalah hanya "tiruan" dari realita yang sudah ada. (Dalam hal ini Saya sepertinya tidak sehaluan dengan Mas Plato ini). Realita yang ada itu adalah tiruan (mimesis) dari yang asli. Yang asli itu adalah hanya terdapat dalam ide. Jadi menurut Plato, ide itu jauh lebih unggul, lebih sempurna, lebih bagus, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.


Pandangan Plato Tentang Keindahan
Pemahaman Plato terhadap suatu keindahan, yang dipengaruhi oleh pemahamannya tentang dunia inderawi, sangat jelas digambarkan dalam salah satu karyanya, yakni Philebus. Plato mempunyai pandangan bahwa keindahan yang sesungguhnya adalah terletak pada dunia ide. (Tuuh, kan, ide lagi ?!).

Tetapi di sisi lain ia juga berpendapat bahwa kesederhanaan adalah merupakan "ciri khas" dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni. Namun, tetap saja keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu, dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.


Dialog-dialog Plato

Dialog Awal :
          1. Apologi
          2. Charmides
          3. Krito
          4. Euthyphro
          5. Alcibiades Awal
          6. Hippias Mayor
          7. Hippias Minor
          8. Ion
          9. Lakhes
          10. Lhycis

Dialog Awal-Pertengahan :
          1. Euthydemus
          2. Gorgias
          3. Menexenus
          4. Meno
          5. Protogoras

Dialog Pertengahan :
          1. Kratylus
          2. Phaedo
          3. Phaedrus
          4. Republik
          5. Simposium

Dialog Pertengahan-Akhir :
          1. Pharmenides
          2. Theaetetus

Dialog Akhir :
          1. Sang Sofis
          2. Sang Negarawan
          3. Thimaeus
          4. Kritias
          5. Philebus
          6. Hukum

Yang Diragukan Otentisitasnya :
          1. Klitophon
          2. Ephinomia
          3. Surat-surat
          4. Hipparchus
          5. Minos
          6. Para Kekasih yang Bersaing
          7. Alcibiades Kedua
          8. Theages


Semoga dapat menambah wawasan kita!







Sekelumit Biografi Socrates

Gaosur Rohim Sunday, February 06, 2011 5 Comments
Sokrates
SOCRATES (ΣΩΚΡΑΤΗΣ) adalah termasuk salah satu dari beberapa filsuf kelahiran Yunani. Ia juga merupakan salah satu figur yang paling penting dalam tradisi Filsafat Barat. Menurut beberapa sumber, Sokrates ini dilahirkan di kota Athena, Yunani, pada tahun 470 S.M. (tetapi sumber lain menyebutkan bahwa Socrates lahir pada tahun 469 S.M., bahkan ada pula yang menyebutkan 471 S.M.), dan wafat pada tahun 399 S.M.. Tidak ada perbedaan (ikhtilaf) mengenai tahun wafatnya Sokrates.

Sokrates merupakan generasi pertama dari 3 ahli "filsafat besar" kelahiran Yunani; yakni SOCRATES (470-399 S.M.), PLATO (427-347 S.M.), dan ARISTOTELES (384-322 S.M.). Sokrates lah yang mengajarkan kepada Plato. Hingga pada gilirannya, Plato juga mengajarkan kepada Irsathotholees alias Aristoteles. Dengan kata lain, Plato adalah murid Sokrates, dan Aristoteles adalah murid Plato. Jadi, nisbat antara Aristoteles dengan Sokrates adalah "cucu murid".


Riwayat Hidup
Sokrates adalah anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang pemahat patung dari batu (stone mason) bernama SOPHRONISCUS. Dan dari seorang ibu yang bernama PHAINARETE. Ibunda Sokrates, yakni Phainarete, adalah seorang perempuan yang berprofesi sebagai bidan. (Mungkin pernah masuk akbid, jadi Bd. Phainarete. hehe....).

Nah, dari sinilah Sokrates mulai "menanamkan" metode berfilsafatnya, yang selanjutnya dengan menggunakan "metode kebidanan". Sokrates beristeri seorang perempuan yang bernama XANTIPPE, dan dikaruniai 3 orang anak. (Setahu Saya, 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Tetapi Saya tak tahu namanya).

Secara historis, filsafat yang dibawakan Sokrates ini banyak "mengandung" dan "mengundang" pertanyaan. Mengapa? Sebab Sokrates sendiri juga tidak pernah diketahui menuliskan apa saja buah pikirannya. Namun, apa yang dikenal sebagai pemikiran Sokrates, pada dasarnya adalah berasal dari catatan-catatan yang dikumpulkan dan didokumentasikan oleh beberapa muridnya, yakni PLATO (427-347 S.M.), XENOPHONE (430-357 S.M.), dan beberapa murid Socrates lainnya.

Yang paling terpopuler, di antaranya adalah Sokrates dalam dialog Plato, di mana Plato ini selalu memakai nama gurunya itu sebagai "tokoh utama" dalam karya-karyanya (barangkali ta'dziman watakriman), sehingga sangat sulit untuk dapat membedakan dan memisahkan antara mana gagasan Sokrates yang sesungguhnya, dan mana gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Sokrates. Sedangkan nama Plato sendiri hanya muncul 3 kali dalam karya-karyanya sendiri, yakni 2 kali dalam Apologi dan 1 kali dalam Phaedrus. (Kendatipun demikian, jangan dii'tikadkan bahwa Plato cuma copy-paste dari gagasan-gagasan Sokrates).

Konon katanya, Sokrates dikenal sebagai seorang laki-laki yang tidak tampan, tidak ganteng, tidak keren, dan tidak macho. Ia juga selalu berpakaian yang sederhana dan apa adanya. Bahkan tidak pernah terlihat memakai alas kaki pada saat ia berkeliling mendatangi masyarakat Athena, Yunani, yang katanya untuk "mendiskusikan" soal filsafat.

Pada awalnya, Sokrates melakukan semua itu hanya didasari oleh satu motif religius, yakni untuk membenarkan dan meluruskan suatu permasalahan mengenai suara ghaib yang pernah didengar (dialami) oleh seorang kawannya dari Oracle Delphi, yang mengatakan bahwa : "Tak ada orang yang lebih bijak melainkan Socrates....". Nah, dikarenakan Sokrates ini merasa diri tidak bijak, maka dari itulah ia berkeliling sekitar Athena untuk membuktikan dan meluruskan kekeliruan tersebut. Ia mendatangi satu demi satu orang-orang yang dianggap bijak oleh masyarakat pada saat itu. Dan ia mengajak diskusi kepada mereka tentang berbagai masalah kebijaksanaan.

Berdasarkan metode berfilsafatnya, yang ia sebut-sebut sebagai metode kebidanan, Sokrates juga sebenarnya menggunakan analogi seorang bidan, yang membantu proses kelahiran seorang bayi. Dengan caranya Sokrates berfilsafat, yang membantu lahirnya pengetahuan melalui "diskusi panjang" dan mendalam.

Sokrates selalu mengejar definisi absolute tentang suatu permasalahan kepada orang-orang yang dianggapnya bijak tersebut. Ya, meskipun orang-orang yang diberikan pertanyaannya itu kerap kali "gagal" dalam melahirkan suatu definisi yang dimaksud. Hingga pada akhirnya, Sokrates sendiri "membenarkan" tentang suara ghaib itu, berdasarkan pengertian bahwa dirinya adalah yang paling bijak, karena dirinya mengetahui bahwa "dia tidak bijaksana". Sementara mereka yang merasa bijak, pada dasarnya adalah "tidak bijak", karena mereka "tidak tahu" kalau mereka adalah tidak bijaksana.

Cara berfilsafat Sokrates ini, menyebabkan timbulnya rasa "sakit hati" mereka terhadap Socrates. Karena setelah penyelidikan itu, maka akan tampak jelas bahwa mereka yang dianggapnya bijak oleh masyarakat, ternyata sama sekali "tidak mengetahui" apa yang sesungguhnya mereka duga itu mereka ketahui. Rasa sakit hati inilah yang akhirnya berujung pada kematian Sokrates melalui pengadilan, dengan tuduhan resmi merusak generasi muda. Sebuah tuduhan yang sebenarnya mudah dipatahkan dengan pembelaannya, sebagaimana termaktub dalam Apologi yang merupakan karya muridnya sendiri, yakni Plato.

Pada akhirnya, Socrates pun wafat dalam usia kira-kira 70 tahun (399 S.M.) dengan cara meminum racun, sebagaimana atas keputusan hakim yang diterimanya melalui pengadilan; dengan hasil voting bahwa 280 suara mendukung hukuman mati, dan 220 suara menolaknya. Namun apalah daya, secara matematis pun angka 280 itu lebih besar/lebih banyak dibandingkan angka 220. Jadi, tamatlah riwayat Sokrates.

Dengan bantuan dari para sahabat dekatnya, sebenarnya Sokrates masih dapat lari dari hukuman itu, sebagaimana termaktub dalam Krito. Namun Socrates tetap menolaknya, atas dasar "kepatuhannya" pada suatu kontrak yang telah ia jalani dengan hukum yang berlaku di kota Athena, Yunani.

Keberanian Sokrates dalam menghadapi maut semacam ini, digambarkan dengan indah dalam Phaedo, yang merupakan hasil karya muridnya, yakni Plato. Kematian Sokrates yang dianggap sebagai "ketidakadilan" dalam keputusan Majelis Hakim ini, menjadi salah satu peristiwa "peradilan paling bersejarah" dalam kalangan filosofis Barat.


Filosofi Socrates
Salah satu warisan pemikiran Sokrates yang paling penting adalah ada pada cara ia berfilsafat dengan mengejar suatu definisi absolute atas suatu permasalahan melalui suatu dialektika. Pengejaran pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi "pembuka jalan" bagi para filsuf generasi selanjutnya. Perubahan fokus filsafat dari mulai memikirkan alam hingga manusia, juga dikatakan sebagai salah satu "jasa" atas peninggalan Sokrates.

Manusia, menjadi salah satu obyek (maudhu) filsafat yang cukup penting, setelah sebelumnya banyak dilupakan oleh para pemikir tentang hakikat alam semesta. Pemikiran tentang manusia ini, menjadi "landasan" bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis di kemudian hari.


Pengaruh Socrates
Salah satu sumbangsih Socrates yang paling dianggap penting bagi pemikiran Filsafat Barat, tidak lain adalah "metode penyelidikannya" yang juga dikenal sebagai Methode Elenchos, yang memang telah banyak diterapkan untuk menguji suatu konsep moral yang bersifat pokok. Maka oleh sebab itulah, Sokrates dikenal sebagai "Bapak" dan "sumber etika" atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.







 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.