Tentang Mitos dan Logos (Ikhtisar)

Gaosur Rohim Sunday, March 09, 2014 20 Comments
Tentang Mitos dan Logos (Ikhtisar)
Komunitas Filsafat - Pada tulisan sebelumnya sudah dikatakan bahwa mitologi merupakan faktor yang mendahului filsafat dan "seolah-olah" mempersiapkan ke arah timbulnya filsafat. Memang benar, filsuf-filsuf pertama menerima obyek penyelidikannya dari mitologi, yaitu alam semesta dan kejadian-kejadian yang setiap orang dapat menyaksikan di dalamnya. Mitologi Yunani memang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang alam semesta itu, tetapi jawaban-jawaban serupa itu justru diberikan dalam bentuk mite, yang meloloskan diri dari tiap-tiap kontrol pihak rasio.[1]


Mitos atau mite adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah masa lalu (masa lampau), yang mengandung penafsiran tentang alam semesta serta keberadaan makhluk di dalamnya, dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional (cerita kuno).[2] Pada umumnya, mitos menceritakan kejadian alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi, kisah para mahkluk supranatural, dan sebagainya. Mitos bisa muncul dari catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan.

Sedangkan logos, termasuk konsep salah satu kunci dalam agama Yahudi. Kata logos dalam bahasa Ibrani, davar, sangat erat hubungannya dengan penciptaan, kristologi, soteriologi, dan teologi. Kata logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sabda, atau "buah pikiran" yang diungkapkan dengan perkataan, pertimbangan nalar, atau arti. Dalam bahasa Ibrani, davar berarti hal yang berada di belakang, yang berarti firman Tuhan, yang dianggap sejajar dengan sofia (hikmat), yaitu perantara (wasilah) Tuhan dengan makhluk ciptaannya.[3]

Sekitar abad ke-6 S.M. sudah mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Sejak saat itu manusia mulai mencari jawaban-jawaban rasional tentang masalah-masalah yang diajukan oleh alam semesta. Logos (akal budi, rasio) mengganti mitos (mythos), dengan begitulah filsafat dilahirkan. Bisa dikatakan bahwa kata "logos" mempunyai arti yang lebih luas dibandingkan kata "rasio". Logos berarti baik kata (tuturan, bahasa) maupun juga rasio.

Meskipun filsafat lahir pada saat rasio mengalahkan mite, tetapi tidak berarti seluruh mitologi ditinggalkan begitu saja secara mendadak. Sebenarnya proses itu berlangsung secara berangsur-angsur saja. Seluruh filsafat Yunani dapat dianggap sebagai suatu pergumulan yang panjang antara mitos dan logos. Dan justru sebenarnya tidak sulit untuk menunjukkan pengaruh mitlogi atas filsuf-filsuf yang pertama. Namun demikian, pada abad ke-6 S.M., di negeri Yunani telah terjadi sesuatu yang benar-benar baru.[4]

Filsuf-filsuf pertama memandang dunia atas cara yang belum pernah dipraktekkan oleh orang lain. Mereka tidak lagi mencari keterangan tentang alam semesta dalam peristiwa-peristiwa mitis pada awal mula yang harus dipercaya begitu saja, sebab belum ada kemungkinan untuk membuktikan kebenarannya. Mereka tidak membatasi diri atas mite-mite yang telah diturunkan dalam tradisi, setinggi-tingginya ditambah dalam imajinasi puitis, seperti pada HESIODOS (750 S.M.). Mereka sudah mulai berpikir sendiri. Di belakang kejadian-kejadian yang dapat diamati oleh umum, mereka mencari suatu keterangan yang memungkinkan untuk dapat mengerti tentang kejadian-kejadian itu.

Tidak dapat disangkal lagi, keterangan-keterangan semacam itu bagi telinga kita sekarang ini sering kali agak "naif" kedengarannya. Tetapi yang terpenting adalah cara rasional dan logis yang mereka gunakan untuk mendekati problem-probem yang ditemui dalam alam semesta. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah pelangi (rainbow). Dalam masyarakat tradisional Yunani, pelangi adalah seorang "Dewi" yang bertugas sebagai pesuruh bagi dewa-dewa lain.[5] Tanggapan semacam ini dapat kita baca mengenai HOMEROS (850 S.M.), misalnya. Tetapi XENOPHANES (570-480 S.M.), salah seorang di antara filsuf-filsuf pertama, mengatakan bahwa pelangi merupakan suatu awan.

Kira-kira satu abad sesudahnya, ANAXAGORAS (499-428 S.M.) sudah mengerti bahwa pelangi disebabkan oleh pantulan matahari dalam awan-awan. Dan justru karena cara pendekatan seperti itulah yang bersifat rasional, dan dapat dibuktikan oleh siapa saja, terbukalah kemungkinan untuk mendebatkan hasil-hasilnya secara leluasa dan untuk umum. Satu jawaban akan menampilkan pertanyaan-pertanyaan lain, dan kritik atas suatu keterangan akan menuntut timbulnya keterangan lain, sehingga dalam suasana rasional ini perkembangan dan kemajuan ilmiah menjadi sangat mungkin.

Kalau kita katakan bahwa filsafat lahir karena logos telah mengatakan mitos, berarti sekali lagi harus kita tekankan bahwa kata filsafat di sini meliputi filsafat maupun ilmu pengetahuan, sebagaimana keduanya sekarang dibedakan dalam terminologi modern. Bagi orang Yunani, filsafat merupakan suatu pandangan rasional tentang segala-galanya. Baru berangsur-angsur dalam sejarah kebudayaan, berbagai ilmu satu demi satu melepaskan diri dari filsafat, supaya memperoleh otonominya.

Dari sebab itu, filsuf-filsuf selanjutnya seperti RENE DESCRATES alias CARTESIUS (1596-1650), IMMANUEL KANT (1724-1804), GEORGE W. F. HEGEL (1770-1831), EDMUND HUSSERL (1859-1938), dan ilmuwan-ilmuwan lainnya seperti ISAAC NEWTON (1642-1727), MAX PLANCK (-), ALBERT EINSTEIN (1879-1955) mempunyai leluhur-leluhur yang sama di negeri Yunani. Bangsa Yunani mendapat kehormatan yang bukan kecil, bahwa merekalah yang "menelorkan" cara berpikir ilmiah. Kata J. Burnet: "it is an adequate description of science to say that it is thinking about the world in the Greek way....". Adalah suatu penggambaran tepat mengenai ilmu pengetahuan, bila dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah berpikir tentang dunia dengan gaya Yuanani.

Dengan demikian mereka termasuk pendasar pertama kultur barat, bahkan kultur sedunia, sebab cara pendekatan ilmiah semakin menjadi unsur hakiki dalam suatu kultur universal yang merangkun seluruh kebudayaan di seluruh dunia.


Demikian yang dapat kami rangkum mengenai Mitos dan Logos. Semoga ada manfaatnya serta dapat menambah wawasan kita. Jika Anda ingin menambahkan atau sekedar mengoreksi, silahkan tuangkan di kotak komentar. Kritik dan saran yang bersifat membangun, senantiasa kami terima dengan tangan terbuka.




1. Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales Ke Aristoteles (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 18.
2. Wikipedia: Ensiklopedia Bebas.
3. Ibid.
4. Bertens, op. cit., hlm. 17.
5. Bertens, loc. cit.



3 Faktor Lahirnya Filsafat di Yunani

Gaosur Rohim Sunday, February 16, 2014 14 Comments
3 Faktor Lahirnya Filsafat di Yunani
Suatu pandangan dunia dan umumnya suatu pandangan teoritis tidak pernah melayang-layang di udara. Setiap pemikiran teoritis mempunyai hubungan erat dengan lingkungan dimana pemikiran itu dijalankan. Ini benar juga bagi permulaan pemikian teoritis, yaitu lahirnya filsafat di Yunani pada abad ke-6 S.M. Agar tidak ada salah faham, di sini harus ditambahkan bahwa bagi seorang Yunani, filsafat tidak merupakan suatu ilmu di samping ilmu-ilmu lain, tetapi meliputi segala pengetahuan ilmiah.


Tanah Yunani adalah tempat persemaian dimana pemikiran ilmiah mulai tumbuh.[1] Kiranya sudah jelas bahwa lahirnya filsafat dan ilmu pengetahuan di Yunani tidak dapat dimengerti tanpa sekedar mengetahui sedikit kebudayaan Yunani. Dalam hal ini kita akan mencoba melukiskan beberapa ciri khas kebudayaan Yunani yang merupakan latar belakang bagi lahirnya filsafat di negeri itu.

Nama "filsafat" dan "filsuf" berasal dari kata-kata Yunani philosophia dan philosophos. Menurut bentuk kata, seorang philo-sophos adalah seorang "pecinta kebijaksanaan". Ada tradisi kuno yang mengatakan bahwa nama "filsuf" (philosophos) untuk pertama kalinya dalam sejarah dipakai/dipergunakan oleh PYTHAGORAS (-).[2] Tetapi kesaksian sejarah mengenai kehidupan dan aktivitas Pythagoras demikian tercampur dengan legenda-legenda, sehingga seringkali kebenaran tidak dapat dibedakan dari reka-rekaan saja.

Demikian juga mengenai hikayat yang mengisahkan bahwa nama "filsuf" ditemukan oleh Pythagoras. Yang pasti ialah bahwa dalam kalangan SOCRATES (470-399 S.M.) dan PLATO (427-347 S.M.), nama "filsafat" dan "filsuf" sudah lazim dipakai. Dalam dialog Plato yang berjudul Phaidros, misalnya, kita membaca: "Nama 'orang bijaksana' terlalu luhur untuk memanggil seorang manusia, dan lebih cocok untuk Tuhan. Lebih baik ia dipanggil philosophos, pecinta kebijaksanaan. Nama ini lebih berpatutan dengan makhluk insani".

Perkataan Plato ini juga serentak menunjukkan suatu aspek penting dari istilah philosophia. Menurut pandangan Yunani, seorang yang mempunyai kebijaksanaan sebagai milik definitif, sudah melampaui kemampuan insani. Orang yang demikian itu sudah melangkahi batas-batas yang ditentukan untuk nasibnya sebagai manusia.

Memiliki kebijaksanaan berarti mencapai suatu status adimanusiawi.[3] Itu sama saja dengan hybris (rasa sombong) yang selalu ditakuti dan dihindari orang-orang Yunani. Manusia harus menghormati batas-batas yang berlaku bagi status insaninya. Karena ia manusia, dan bukan Tuhan, ia harus puas dengan mengasihi kebijaksanaan. Kebijaksanaan tidak akan pernah menjadi milik manusia secara komplit dan definitif. Karena alasan-alasan itulah orang-orang Yunani lebih memilih nama "filsafat" (philosophia) dan "filsuf" (philosophos).

Bukan karena nama filsafat berasal dari bahasa Yunani, tetapi isi konsep yang ditunjukkan dengan nama ini merupakan suatu penemuan Yunani yang khas. Pada abad ke-6 S.M., telah terjadi apa yang sudah pernah dinamakan sebagai peristiwa ajaib Yunani (The Greek Miracle).[4] Lahirnya filsafat di tempat itu dan waktu itu, memang dapat disebut sebagai peristiwa ajaib, karena tidak mungkin memberi alasan-alasan yang menerangkan kejadian itu secara memuaskan. Namun demikian, ada beberapa faktor yang sudah mendahului dan seakan-akan sudah mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani. Ketiga faktor itu adalah mitologi, sastra Yunani, dan ilmu pengetahuan.


1. Mitologi
Pertama-tama, pada bangsa Yunani, seperti juga pada bangsa-bangsa sekitarnya, terdapat suatu mitologi yang kaya serta luas. Nah, mitologi ini dapat dianggap sebagai perintis yang mendahului filsafat, karena mite-mite sudah merupakan percobaan untuk dimengerti. Mite-mite ini sudah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang hidup dalam hati manusia: Di mana dunia kita? Dari mana kejadian-kejadian dalam alam? Apa sebab matahari terbit, lalu terbenam lagi?

Melalui mite-kite ini, manusia mencari kejelasan tentang asal usul alam semesta dan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung di dalamnya. Mite yang pertama, yang mencari kejelasan tentang asal usul alam semesta sendiri biasanya disebut mite kosmogonis. Sedangkan mite yeng kedua, yang yang mencari kejelasan tentang asal usul serta sifat kejadian-kejadian dalam alam semesta disebut mite kosmologis.

Yang khusus pada bangsa Yunani ialah bahwa mereka mengadakan beberapa usaha untuk menyusun mite-mite yeng diceritakan oleh rakyat menjadi suatu keseluruhan yang sistematis. Dalam usaha itu sudah tampaklah sifat rasional bangsa Yunani. Karena dengan mencari keseluruhan yang sistematis, mereka sudah menyatakan keinginan untuk mengerti hubungan mite-mite satu sama lain, dan menyingkirkan mite yang tidak dapat dicocokkan dengan mite lain. Salah satu usaha serupa itu adalah syair HESIODOS (-) yang berjudul Theogonia.

Kumpulan mite-mite lainnya ada dalam lingkungan Orfisme, suatu aliran religius yang konon katanya didirikan oleh penyair ORPHEUS (-). Dan juga di sini bisa dikatakan bahwa kumpulan mite-mite yang dikarang oleh PHEREKYDES (-) dari Syros. ARISTOTELES (-) menamai orang-orang seperti Hesiodos dan Pherekydes dengan gelar theologoi (teolog-teolog) dan membedakan mereka dengan filsuf-filsuf sebelumnya.


2. Sastra Yunani
Kesusasteraan Yunani juga dianggap sebagai persiapan yang mempengaruhi lahirnya filsafat di Yunani, asal saja kita memakai kata itu dalam arti seluas-luasnya, sehingga meliputi juga amsal-amsal, teka-teki, dongeng-dongeng, dan sebagainya. Kedua karya puisi HOMEROS (-) yang masing-masing berjudul Ilias dan Odyssea, mempunyai kedudukan yang sangat istimewa dalam kesusasteraan Yunani. Syair-syair ini lama juga digunakan sebagai semacam buku pendidikan untuk rakyat Yunani.

Dalam dialog Plato yang berjudul Politeia, Plato mengatakan bahwa Homeros telah mendidik seluruh Hellas.[5] Peranan syair-syair Homeros dalam kebudayaan Yunani kuno dapat dibandingkan dengan peranan wayang dalam kebudayaan Jawa dulu.[6] Kareana puisi Homeros pun banyak digemari oleh rakyat Yunani, untuk mengisi waktu luang, dan memang mempunyai nilai edukatif.

Banyak berabad-abad lamanya terdapat penyanyi-penyanyi (rhapsodes) yang bepergian dari satu kota ke kota lain dalam seluruh dunia Yunani untuk mendeklamasikan syair-syair Homeros itu. Para filsuf Yunani seringkali menyebut Homeros, biarpun mereka juga sering mengemukakan kritik atas puisinya, terlebih XENOPHANES (-) dan PLATO (427-347 S.M.). Aristoteles mengutip Homeros di samping filsuf-filsuf lainnya, terutama dalam hal Metafisika, seakan-akan ia ingin menggolongkan Homeros pada filsuf-filsuf itu.


3. Ilmu Pengetahuan
Akhirnya, sebagai faktor ketiga, yang dianggap sebagai faktor lahirnya filsafat di Yunani, ialah ilmu pengetahuan yang pada waktu itu sudah ada di Timur Kuno. Bangsa Yunani tentu berhutang budi kepada bangsa-bangsa lain dalam menerima beberapa unsur ilmu pengetahuan dari mereka.

Demikian juga ilmu ukur dan ilmu hitung, yang sebagian berasal dari Mesir. Dan Babylonia pasti ada pengaruhnya dalam ilmu astronomi di negeri Yunani. Namun, andil dari bangsa-bangsa lain dalam perkembangan ilmu pengetahuan Yunani tidak boleh dilebih-lebihkan.[7] Bangsa Yunani telah mengolah unsur-unsur tersebut yang tidak pernah disangka-sangka oleh bangsa Mesir dan Babylonia. Baru pada bangsa Yunani, ilmu pengetahuan bisa mendapat corak yang benar-benar ilmiah.

Sampai saat itu ilmu pengetahuan hanya dijalankan dalam konteks praktis. HERODOTOS (-), sejarawan Yunani yang sudah ternama sejak abad ke-5 S.M., menceritakan bahwa ilmu ukur memang berkembang di Mesir, karena di sana tiap tahun dirasakan keperluan untuk mengukur kembali tanah setelah banjir sungai Nil. Tidak mustahil jika Herodotos benar dengan pendapatnya itu.

Kalau begitu, gema asal usulnya masih kedengaran dalam nama yang dipakai orang Yunani untuk menunjukkan ilmu itu: geometria (pengukuran tanah). Tetapi pada orang Yunani, ilmu pengetahuan tidak dijalankan dalam suatu konteks praktis saja. Mereka mulai mempelajari ilmu pengetahuan dengan tidak "mencari untung" atau "tanpa pamrih" (disinterestedly).

Di negeri Yunani; ilmu pasti, astronomi, dan ilmu pengetahuan, pada umumnya mulai diprakekkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan demi keuntungan yang letaknya di luar ilmu pengetahuan itu. Kita tidak boleh melupakan bahwa orang Yunani hidup dalam kemasyarakatan yang sama sekali berbeda dengan lingkungan sosial dimana orang Timur Kuno hidup. Perbedaan ini mempunyai konsekuensi yang cukup besar untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Pada bangsa-bangsa Timur Kuno, ilmu pengetahuan dipraktekkan dalam istana-istana, atas perintah dan di bawah pengawasan raja-raja. Tetapi orang Yunani, pada abad ke-6 S.M. hidup dalam polis selaku orang merdeka, yang akan kita bahas di lain kesempatan. Baru bentuk sosial beginilah yang menciptakan suasana serasi dimana ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan semestinya.


Demikian yang dapat kami rangkum mengenai 3 Faktor Lahirnya Filsafat di Yunani. Semoga ada manfaatnya serta dapat menambah wawasan kita. Jika Anda ingin menambahkan atau sekedar mengoreksi, silahkan tuangkan di kotak komentar. Kritik dan saran yang bersifat membangun, senantiasa kami terima dengan tangan terbuka.




1. Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales Ke Aristoteles (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 13.
2. Ibid.
3. Ibid., hlm. 14.
4. Ibid.
5. Hellas adalah nama lain untuk negeri Yunani, sedangkan nama Hellen berarti seorang Yunani.
6. Bertens, loc. cit.
7. Bertens, op. cit., hlm. 16.



Struktur Pengetahuan Ilmiah (Bag. 3)

Gaosur Rohim Sunday, January 26, 2014 5 Comments
Struktur Pengetahuan Ilmiah (3)
Penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui dinamakan penelitian murni (pure research) atau penelitian dasar (basic research). Sedangkan penelitian yang bertujuan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidupan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan (applied research). Dengan menguasai pengetahuan ini, maka manusia mengembangkan teknologi atau peralatan yang berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan dalam kehidupannya.


Konsep-konsep yang bersifat teoritis seperti telah disebutkan sebelumnya, karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kentara kegunaan praktisnya. Secara logis, hal ini tidak sulit untuk dimengerti, sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitan langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata;[1] padahal kehidupan kita sehari-hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut.

Kegunaan praktis dari sebuah konsep yang bersifat teoritis, baru dapat dikembangkan jika konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis. Dan dari pengertian inilah kita sering mendengar konsep dasar (basic concepts) dan konsep terapan (concept applied) yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar (basic science) dan ilmu terapan (applied science) serta penelitian dasar (basic research) dan penelitian terapan (applied research).

Pengertian yang membedakan antara pernyataan yang bersifat dasar dan terapan ini harus kita miliki dengan baik, sebab kalau tidak, kita mungkin melakukan pilihan yang baik untuk jangka pendek, namun kurang baik untuk jangka panjang.[2] Misalnya, seringkali sebuah negara dalam kebijaksanaan pengembangan ilmu dan teknologinya terlalu menitikberatkan kepada penelitian dan ilmu terapan dengan melupakan pengembangan penelitian dan ilmu dasar.

Secara sepintas, hal ini memang menguntungkan, sebab penelitian dan ilmu terapan secara langsung mempunyai manfaat praktis yang berupa pemecahan-pemecahan masalah yang bersifat kongkrit. Namun kalau hal ini dilihat dalam perspektif jangka panjang, maka kemandegan dalam pengembangan ilmu-ilmu dasar akan mempunyai pengaruh yang serius, apalagi bila hal ini menyebabkan berkurangnya minat masyarakat untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Di berbagai negara sudah banyak terlihat tanda-tanda mengenai stagnasi di bidang ilmu-ilmu dasar ini.

Dalam ilmu-ilmu sosial pada umumnya maka pengembangan huum-hukum ilmiah sulit sekali dilakukan, dan pada hakikatnya "telah ditinggalkan".[3] Untuk tujuan meramalkan, ilmu-ilmu sosial mengunakan metode proyeksi, pendekatan struktural, analisis kelembagaan atau tahap-tahap perkembangan.[4] Kalau hal ini kita kembalikan kepada hakikat manusia yang demikian kompleks dengan serbaneka peranannya dalam masyarakat, serta variasi yang besar antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, maka gejala ini tidak begitu mengherankan.

Namun hal ini tidak begitu berarti bahwa metode ilmiah dari ilmu-ilmu sosial (social sciences) berbeda dengan metode ilmiah dari ilmu-ilmu alam (natural sciences). Keduanya tetap menggunakan metode ilmiah yang sama, namun dengan tahap penerapan dan teknik-teknik operasional yang berbeda. Batu-batuan koral akan mempunyai karakteristik yang sama, apakah dia berbeda di Gunung Papandayan (Garut) atau Ricky Mountain (USA), namun yang jelas, tukang yang mengambil batu-batuannya akan berbeda. Demikian juga teknik verifikasi untuk menentukan jenis batu-batuan apa yang ada di Planet Mars akan berbeda dengan teknik verifikasi bahwa tukang pengambil batu di Gunung Papandayan Garut adalah orang Cibatu.

Di samping hukum, teori keilmuan juga mengenal kategori pernyataan yang disebut prinsip. Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu, yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi, misalnya hukum sebab-akibat sebuah gejala.[5] Dalam ilmu Ekonomi kita mengenal prinsip ekonomi, dan dalam ilmu Fisika kita mengenal prinsip kekekalan energi. Dengan prinsip-prinsip inilah kita mampu menjelaskan kejadian-kejadian yang terjadi dala ilmu ekonomi dan fisika. Beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan apa yang disebut postulat dalam menyusun teorinya.

Postulat adalah asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. Kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disahkan lewat sebuah proses yang disebut metode keilmuan. Postulat ilmiah ditetapkan tanpa melalui prosedur ini, namun ditetapkan secara begitu saja. Secara filsafati sebenarnya eksistensi postulat ini tidak sulit untuk dimengerti, mengapa kehadirannya menyimpang dari prosedur yang ada, sebab bukankah sebuah argumentasi harus didasarkan kepada sesuatu? Seperti jika kita ingin mengelilingi sebuah lingkaran, maka kita harus mulai dari sebuah titik; dan postulat adalah ibarat titik dalam lingkaran, yang eksistensinya kita tetapkan secara sembarang.

Meskipun demikian, harus ada alasan yang kuat dalam menetapkan sebuah postulat. Seperti kita memilih dari titik mana kita akan mengelilingi sebuah lingkaran, tentu saja kita mempunyai alasan mengapa kita mulai dari titik B dan bukan dari titik A. Namun sebagai postulat, maka kita tidak perlu membuktikan bahwa titik B adalah benar dan titik A adalah salah, tetapi sekedar menjelaskan bahwa jika kita mulai dari titik A (yang koordinatnya membentuk sudut nol derajat dengan sumbu vertikal lingkaran), maka kita akan berhenti pada sebuah titik tertentu yang letaknya di sebelah Utara bila dilihat dari pusat lingkaran.

Tentu saja jika kita mulai dari titik yang lain, maka akan berakhir pada titik yang berbeda. Di sini kita dapat menyimpulkan bahwa pada hakikatnya postulat adalah anggapan yang ditetapkan secara sembarang dengann kebenaran yang tidak dibuktikan. Sebuah postulat dapat diterima apabila ramalan yang bertumpu kepada postulat terebut kebenarannya dapat dibuktikan.

Bila postulat dalam pengajuannya tidak memerlukan bukti tentang kebenarannya, maka hal ini berlainan dengan asumsi yang harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. Asumsi harus berbentuk pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji. Seorang yang memegang prinsip "biar ngebut asal yahut", tentu akan sangat berbeda jalan pikirannya dengan seorang yang memegang prinsip "biar lambat asal selamat". Bukankah tidak tepat menerapkan prinsip "berani karena benar" untuk menghadapi bus kota yang secara serampangan membabat?

Pada awal perkembangan ilmu, ketika listrik masih sekedar "keanehan" yang dipertunjukkan dalam sirkus, ada orang yang bertanya kepada MICHAEL FARADAY (-), "Apakah gunanya listrik?". Memang beberapa teori yang sifatnya mendasar tidak mempunyai kegunaan praktis secara langsung. Baru setelah teori tersebut diterapkan kepada masalah-masalah praktis maka dapat dirasakan manfaatnya.

Diperlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menerapkan penemuan-penemuan ilmiah yang baru kepada pemanfaatan yang berguna. Terdapat selang waktu selama 250 tahun antara percobaan yang pertama tentang magnet oleh WILLIAM GILBERT (-) dengan dikembangkannya teori elektromagnetik oleh JAMES CLERK MAXWELL (-) sekitar tahun 1870. Kemudian ada jangka waktu selama 50 tahun sebelumya percobaan MICHAEL FARADAY (-) tentang kawat yang mengantar arus listrik dapat dimanfaatkan secara komersil dalam pembuatan dinamo dan motor.

Penemuan HENRI BACQUEREL (-) tentang sinar-X baru dapat diterapkan dalam praktek setelah 25 tahun kemudian. Sedangkan proses pemecahan atom (nuclear fission) baru dapat dilakukan 11 tahun kemudian setelah teorinya diformulasikan. Dan 7 tahun setelah ditemukan kemungkinan pembuatan bom atom maka pada tahun 1945 dijatuhkan dua bom atom yang pertama di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, yang membuka babakan baru dalam peradaban manusia.[6]

Terdapat selang waktu yang makin lama makin pendek antara penemuan suatu teori ilmiah dengan penerapannya kepada masalah-masalah yang bersifat praktis. Dengan demikian, makin cepat manusia mengembangkan teknologi yang pada satu pihak ibarat "Dewi Penolong" yang penuh dengan berkah. Sedangkan di lain pihak, adalah "Fasisme dengan Senyuman".[7] Penerapan ilmu kepada teknologi memang tidak selalu merupakan rahmat bagi manusia, sebab di samping dapat digunakan untuk tujuan destruktif, juga dapat menimbulkan implikasi moral, sosial, dan kultural.[8]

Di samping Homo Sapiens (makhluk yang berpikir), manusia disebut juga Homo Faber (makhluk yang membuat peralatan), yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Berbeda dengan pengetahuan lainnya, seperti seni yang bersifat estetis, maka ilmu adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupannya.

Menarik sekali dalam kesempatan ini untuk menggarisbawahi pendapat yang dikemukakan MOCHTAR LUBIS bahwa perbedaan dan persamaan ilmu seni patut diketahui dengan seksama dalam rangka meningkatkan sikap ilmiah suatu bangsa dan mengingat sikap kita yang masih berorientasi kepada nilai estetis.[9] Dalam buku Nitisastra, yang diperkirakan Profesor Poerbacaraka ditulis pada akhir zaman Majapahit, disebutkan, bahwa salah satu musuh bagi orang muda dalam menuntut ilmu adalah "gila asmara".


Demikian yang dapat kami rangkum mengenai Struktur Pengetahuan Ilmiah (Bag. 3). Semoga ada manfaatnya serta dapat menambah wawasan kita. Jika Anda ingin menambahkan atau sekedar mengoreksi, silahkan tuangkan di kotak komentar. Kritik dan saran yang bersifat membangun, senentiasa kami terima dengan tangan terbuka.




1. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 151.
2. Peter R. Senn, Social Science and its Methods (Boston: Holbrook Press, 1971), hlm. 35.
3. Ibid., hlm. 26.
4. Suriasumantri, op. cit., hlm. 155.
5. Suriasumantri, op. cit., hlm. 159.
6. C.A. Coulson, Science, Technology and the Christian (Nashville: Abingdon, 1960), hlm. 25-26.
7. Azyumardi Azra, "Teknologi: Fasisme dengan Senyuman", Merdeka, 10 February 1982.
8. Suriasumantri, op. cit., hlm. 161.
9. Moctar Lubis, Manusia Indonesia (Jakarta: Yayasan Idayu, 1978), hlm. 38.



Struktur Pengetahuan Ilmiah (Bag. 2)

Gaosur Rohim Sunday, December 22, 2013 16 Comments
Struktur Pengetahuan Ilmiah 2
Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep, maka makin "teoritis" konsep tersebut. Pengertian teoritis di sini dikaitkan dengan "gejala fisik" yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud; artinya makin teoritis sebuah konsep, maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Diibaratkan pohon dengan akar, maka bila makin tinggi tingkat keumuman yang tinggi dicapai oleh sebuah konsep yang dicerminkan dengan pohon, maka makin dalam pula kita harus menjangkau akar tersebut. Konsep-konsep teoritis seperti gravitasi dan medan elektromagnetik merupakan penjelasan yang bersifat mendasar, yang mampu mengikat berbagai gejala-gejala fisik secara universal.

Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Dalam teori ilmu ekonomi mikro, misalnya, kita mengenal adanya hukum permintaan dan penawaran. Bila permintaan naik sedangkan penawaran tetap, maka harga akan naik. Sebaliknya, bila penawaran naik sedangkan permintaan tetap, maka harga pun akan turun. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab-akibat.

Seperti dalam hukum ekonomi tersebut, maka dapat kita lihat adanya hubungan sebab-akibat antara permintaan (demand), penawaran (offer), dan pembentukan harga (price formation). Pernyataan yang mencakup hubungan antara sebab-akibat ini, atau dengan kata lain hubungan kasualita, memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. Apa yang akan terjadi dalam pembentukan harga beras waktu panen, misalnya, akan dapat kita ramalkan dengan hukum ini.

Penawaran yang meningkat disebabkan banyaknya beras yang ditawarkan oleh penjual pada waktu panenan, akan menyebabkan harga beras menjadi turun bila permintaan konsumen terhadap beras pada waktu itu adalah tetap. Sedangkan hal yang sebaliknya terjadi pada waktu paceklik, dimana penawaran yang menurun disebabkan karena berkurangnya persediaan beras di pasaran akan menyebabkan harga beras menjadi menggila. Jika kita tidak menginginkan perubahan harga seperti ini, maka kita harus melakukan usaha untuk mengontrol pembentukan harga tersebut, agar lebih sesuai dengan kehendak kita.

Misalnya agar harga beras pada waktu panen tidak menurun, maka pemerintah harus mampu membeli beras sebanyak-banyaknya (sebanyak mungkin), seperti yang dilakukan Badan Urusan Logistik Nasional (BULOG), sehingga keseimbangan antara permintaan dan penawaran tidak terlalu mengalami perubahan. Hal yang sama diklakukan oleh BULOG pada waktu paceklik, adalah dengan melakukan "dropping" beras pada waktu penawaran beras di pasaran menjadi menurun.

Demikianlah dengan mengetahui hubungan permintaan dengan penawaran, maka kita dapat menjelaskan mekanisme pembentukan harga (price formation), yang dengan berdasarkan penjelasan ini, selanjutnya kita dapat meramalkan pembentukan harga. Dan dengan berdasarkan ramalan ini, kita dapat melakukan upaya untuk mengontrol naik turunnya harga. Secara mudah kita dapat mengatakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang mengapa suatu gejala-gejala terjadi, sedangkan hukum memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang apa yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum semacam ini, merupakan "alat" yang dapat kita gunakan untuk mengontrol berbagai gejala alam (natural phenomena). Kebijaksanaan ekonomi yang dilaksanakan BULOG dalam mempertahankan kestabilan harga beras.

Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi, atau secara idealnya, harus bersifat universal. Jika hukum permintaan dan penawaran hanya berlaku buat padi dan terbatas di daerah Karawang saja1), misalnya, maka pengetahuan ini dianggap kurang fungsional sebagai teori ilmiah. Mengapa demikian?

  • Pertama, hal ini disebabkan cuma berlaku untuk padi, namun tidak untuk hamburger, televisi, dan lain-lain yang semuanya merupakan benda ekonomi.
  • Kedua, pernyataan itu hanya berlaku untuk daerah Karawang saja, dan tentunya tidak berlaku untuk daerah-daerah selain Karawang.


Pengetahuan tentang Goyang Karawang, yang memang sudah khas Karawang, mungkin berguna dalam diskusi yang tidak bersifat ilmiah2), namun pengetahuan ilmiah tentang pembentukan harga padi yang terbatas di daerah Karawang saja, kurang bersifat fungsional. Namun hal ini jangan kita artikan bahwa pengetahuan ilmiah mengenai kasus pembentukan harga padi di daerah Karawang ini sama sekali tidak ada nilainya, yang penting untuk kita ingat adalah bahwa demi kepraktisan ilmu tidak merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat khusus, tetapi pengetahuan yang bersifat umum, yang sudah disimpulkan dari berbagai macam kasus.

Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini, maka dalam sejarah perkembangan ilmu, kita sering melihat berbagai contoh dimana teori-teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dalam suatu teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori-teori tersebut. Sejarah perkembangan Fisika, misalnya, kita mengenal teori tentang "jatuh bebas" (bukan jatuh bangun), yang telah didemonstrasikan oleh GALILEO GALILEI (1564-1642), yakni dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari Menara Pisa, Italia. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori IRSATHOTHOLES alias ARISTOTELES (384-322 S.M.) yang menyatakan bahwa setiap benda yang lebih berat akan jatuh ke tanah dengan lebih cepat.

GALILEO GALILEI (1564-1642), dengan demonstrasinya yang bersifat teatrik, sekali pukul menjatuhkan teori ARISTOTELES (384-322 S.M.) yang "dianggapnya" tidak benar itu. Sebab bagi Galileo: benda-benda, tanpa memandang beratnya, akan jatuh ke tanah dengan waktu yang sama.

NICOLAUS COPERNICUS (1473-1543), mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi, melainkan bumi yang mengelilingi matahari (katanya). Sebenarnya teori ini merupakan "perombakan" terhadap teori lama yang dikemukakan oleh PTOLEMAEUS (150 S.M.) dari Alexandria, Mesir, yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet-plenetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit-orbit yang berbentuk lingkaran.

Teori Copernicus ini kemudian diperkuat oleh JOHANES KEPLER (1571-1630), yang mendasarkan diri kepada data yang dikumpulkan TYCHO BRANHE3) (1546-1601), menyatakan pada tahun 1609 bahwa orbit planet-planet dalam mengelilngi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dikatakan oleh PTOLEMAEUS (150 S.M.) maupun NICOLAUS COPERNICUS (1473-1543), malainkan berbentuk elips. Makin berantakan saja!

Akhirnya, ISAAC NEWTON (1642-1727) pada tahun 1686 menerbitkan buku yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, yang merupakan teori yang mempersatukan antara teori Galileo, Copernicus, dan Kepler. Teori Newton menyatakan bahwa "semua gerak, baik yang terjadi di langit maupun di bumi, tunduk kepada hukum-hukum yang sama". Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hukum-hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini, yang sudah kita pelajari sejak kita duduk di SMP.

Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan kepada teori-teori sebelumnya yang bersifat sektoral diakui oleh Newton sendiri, dan menyatakan: "Jika saya mampu melihat jauh, maka hal ini disebabkan oleh sebab saya berdiri di pundak para jenius terdahulu."4)

Seperti kita ketahui, dalam mempersatukan teori-teori Fisika yang sudah ditemukan, sebelumnya Newton mengemukakan teori tentang daya tarik atau gravitasi. Episode yang terkenal mengisahkan Newton,5) waktu sedang duduk di bawah pohon apel, melihat buah apel yang jatuh ke tanah. Mengapa buah apel itu jatuh ke tanah, pikir Newton. Masalah ini kemudian dihubungkan dengan teori GALILEO GALILEI (1564-1642) yang menyatakan bahwa buah nangka yang jauh lebih berat dari buah apel, bila terjatuh dari ketinggian yang sama, maka akan sampai ke tanah dalam waktu yang bersamaan.

Mengapa hal itu terjadi demikian, sebab bila kita pikirkan sepintas lalu, maka kita lebih mudah sependapat dengan Aristoteles yang menyatakan bahwa buah nangka akan lebih cepat sampai ke tanah disebabkan buah nangka lebih berat dari buah apel? Lalu mengapa benda-benda langit seperti bintang, bumi, dan matahari tidak berjatuhan seperti buah apel, melainkan bergerak dalam "trayek" tertentu yang berbentuk orbit?

Sebelum Newton, sebenarnya tentu sudah banyak manusia yang melihat buah apel jatuh ke tanah, sudah banyak pula yang mempertanyakan mengapa buah apel itu jatuh, demikian juga sudah banyak manusia yang memberikan penjelasan mengapa uah apel itu jatuh, namun baru seorang jenius yang bernama ISAAC NEWTON (1642-1727) itulah yang memformulasikan sebuah teori tentang gaya gravitasi, yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi apel, namun juga bagi seluruh benda, baik yang berada di bumi maupun di langit. Berdasarkan teori ini, maka dapat kita susun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal, yang secara keseluruhan dapat membentuk suatu sistem teori keilmuan.

Ilmu teoritis, meminjam perkataan MORITZ SCHLICK (-), terdiri dari sebuah sistem pernyataan.6) Sistem yang terdiri atas pernyataan-pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten, jelas membutuhkan konsep-konsep yang dapat mempersatukan, dan konsep-konsep yang mempersatukan tersebut adalah teori.


Semoga ada manfaatnya!







1. Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 147.
2. Ibid.
3. Ibid., hlm. 149.
4. "If I have seen further, it is by standing on the shoulder of the giants."
5. Suriasumantri, loc. cit.
6. Moritz Schlick, "The Task of the Philosophy of Nature," Philosophy of Science, ed. Joseph J. Kockelmans (New York: The Free Press, 1986), hlm. 456.







Struktur Pengetahuan Ilmiah (Bag. 1)

Gaosur Rohim Saturday, November 30, 2013 6 Comments
Struktur Pengetahuan Ilmiah 1
Pengetahuan yang diproses berdasarkan metode ilmiah merupakan pengetahuan yang "memenuhi syarat-syarat keilmuan", dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Pengetahuan ilmiah ini diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan, dan dari karakter inilah maka ilmu sering dikonotasikan sebagai disiplin. Disiplin inilah yang memungkinkan ilmu berkembang relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Ilmu dapat diibaratkan sebagai "piramida terbalik" dengan perkembangan pengetahuannya yang bersifat kumulatif, dimana penemuan pengetahuan ilmiah yang satu memungkinkan penemuan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang lainnya.

Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal, diakui sebagai pernyataan pengetahuan ilmiah yang baru, yang dapat memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada. Sekranya pengetahuan ilmiah yang baru ini kemudian ternyata salah, disebabkan kelengahan dalam salah satu langkah dalam proses penemuannya, maka cepat atau lambat kesalahan ini akan segera diketahui, dan pengetahuan tersebut akan dibuang dari khazanah keilmuan.1)

Metode ilmiah mempunyai mekanisme "umpan balik" yang bersifat korektif, yang memungkinkan upaya keilmuan menemukan kesalahan yang mungkin diperbuatnya. Sebaliknya, bila ternyata bahwa sebuah pengetahuan ilmiah yang baru itu adalah benar, maka pernyataan yang terkandung dalam pengetahuan ini dapat digunakan sebagai premis baru dalam kerangka pemikiran yang menghasilkan hipotesis-hipotesis baru, yang bila kemudian ternyata dibenarkan dalam proses pengujian akan menghasilkan pengetahuan-pengetahauan ilmiah baru pula.

Pada dasarnya, ilmu dibangun secara "bertahap" dan sedikit demi sedikit", dimana para ilmuwan memberikan sumbangannya menurut kemampuannya masing-masing. Tidaklah benar bila ada anggapan bahwa "ilmu diembangkan hanya oleh para jenius saja", yang bergerak dalam bidang keilmuan. Ilmu, secara kuantitatif dikembangkan oleh masyarakat keilmuan secara keseluruhan, meskipun secara kualitatif beberapa orang jenius seperti ISAAC NEWTON (1642-1727) atau ALBERT EINSTEIN (1879-1955), merumuskan landasan-landasan baru yang bersifat mendasar.

Ilmu, pada dasarnya merupakan "kumpulan pengetahuan" yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada.2) Sekiranya kita mengetahui bahwa banjir disebabkan karena hutan yang ditebang sampai gundul, misal;nya, maka penjelasan semacam ini akan memungkinkan kita melakukan upaya untuk mencegah timbulnya banjir. Penjelasan keilmuan memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi, dan berdasarkan ramalan tersebut, kita bisa melakukan upaya untuk mengontrol agar ramalan tersebut menjadi kenyataan atau tidak.

Pengetahuan tentang kaitan antara "hutan gundul" dengan "banjir", memungkinkan kita untuk bisa meramalkan apa yang akan terjadi sekiranya hutan-hutan terus ditebang sampai tidak tumbuh lagi. Jika kita tidak menginginkan timbulnya banjir, sebagaimana diramalkan oleh penjelasan tadi, maka kita harus melakukan "kontrol" agar hutan-hutan tidak dibiarkan menjadi gundul.

Demikian juga, jika kita mengetahui bahwa hutan-hutan tidak ditebang bila ada pengawasan, maka untuk mencegah banjir, kita harus melakukan kontrol agar kegiatan pengawasan dilakukan, agar dengan demikian hutan dibiarkan tumbuh subur dan tidak mengakibatkan banjir. Jadi, pengetahuan ilmiah pada hakikatnya mempunyai tiga fungsi, yakni menjelaskan, meramalkan dan mengontrol.

Secara garis besar, ada empat jenis pola penjelasan, yakni deduktif, probabilistik, fungsional atau teleologis, dan genetik.

  1. Deduktif menggunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan (natijah) secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya.
  2. Probabilistik merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus, yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif, tetapi penjelasan yang bersifat peluang, seperti "kemungkinan", "kemungkinan besar", atau "hampir dapat dipastikan", dan sebagainya.
  3. Fungsional atau Teleologis merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan, yang mempunyai karakteristik atau arah perkembangan tertentu.
  4. Genetik menggunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang akan muncul kemudian.


Dalam mencari penjelasan mengenai tingkah laku seorang dewasa, misalnya, maka ilmu jiwa (psychology) memberikan penjelasan genetik dengan mengkaitkannya pada pengalaman orang tersebut sewaktu masih kanak-kanak. Tidak satu pun dari pola-pola tersebut yang mampu menjelaskan secara keseluruhan suatu kajian keilmuan. Dan oleh sebab itu lah, dipergunakan pola yang berbeda untuk menjelaskan masalah yang berbeda pula.

Teori, merupakan "pengetahuan ilmiah" yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.3) Misalnya dalam ilmu Ekonomi, dikenal yang namanya teori Ekonomi Makro dan teori Ekonomi Mikro. Sedangkan dalam ilmu Fisika, dikenal teori Mekanika Newton dan teori Relativitas Einstein. Sebenarnya tujuan akhir dari tiap-tiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten, namun hal ini baru dicapai oleh beberapa disiplin keilmuan saja, seperti Fisika.

Fisika Teoritis (Theoretical Physics), merupakan disiplin keilmuan yang benar-benar mencerminkan penjelasan teoritis dari gejala-gejala fisik, namun bahkan disiplin keilmuan seperti Fisika Teoritis ini pun, yang dapat dianggap sebagai disiplin keilmuan yang termasuk paling maju, belum merupakan suatu teori yang utuh dan konsisten.

Fisika Toeritis  terdiri dari berbagai teori yang dikembangkan oleh ISAAC NEWTON (1642-1727), JAMES CLERK MAXWELL (-), ALBERT EINSTEIN (1879-1955), SCHRODINGER (-) dan ahli-ahli fisika lainnya; yang dalam sektornya masing-masing dapat memberikan penjelasan teoritis secara ilmiah, namun secara keseluruhan teori-teori tersebut belum membentuk sebuah teori yang utuh. Einstein mencoba mengembangkan teori yang bersifat menyeluruh ini, namun dia terburu meninggal sebelum upayanya berhasil (1955). Seperti halnya dalam teori evolusi, maka Fisika sebenarnya masih mencari mata rantai yang hilang (missing link)4), untuk dapat menyatukan keseluruhan teori-teori fisika yang ada.

Bila pada Fisika saja keadaannya sudah seperti ini, maka dapat kita bayangkan bagaimana situasi perkembangan penjelasan teoritis pada disiplin-disiplin keilmuan dalam bidang sosial. Ilmu sosial pada kenyataannya terdiri dari berbagai teori yang tergabung dalam suatu disiplin keilmuan yang satu sama lainnya belum membentuk suatu perspektif teoritis yang bersifat umum.

Teori-teori ini sering mempergunakan postulat dan asumsi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Mungkin inilah yang menyebabkan MAX PLANCK (-) menganggap ilmu Ekonomi itu sulit, dan mengalihkan bidang studinya ke Fisika. Sedangkan BERTRAND RUSSELL (-) berpendapat sebaliknya, Ekonomi baginya dianggap terlalu mudah, mungkin inilah yang menyebabkan dia beralih kepada Filsafat dan Matematika.


Semoga ada manfaatnya!







1. Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 141.
2. Ibid., hlm. 142.
3. Ibid., hlm. 143.
4. Ibid.







Sarana Berpikir Ilmiah

Gaosur Rohim Sunday, October 27, 2013 10 Comments
Sarana Berpikir Ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara cermat dan teratur. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi siapa saja yang sedang melakukan kegiatan ilmiah. Tanpa kita menguasai hal ini, maka kegiatan ilmiah yang baik tidak dapat dilakukan.


Perbedaan utama antara manusia dan binatang adalah terletak pada "kemampuan manusia untuk mengambil jalan melingkar" dalam mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari obyek yang diinginkannya, atau membuang benda yang dianggap menghalanginya.

Dengan demikian, sering kita melihat seekor monyet yang menjangkau secara sia-sia benda yang dia inginkan. Sedangkan manusia, yang paling primitif sekali pun, sudah tahu bagaimana cara menggunakan bandringan, laso, atau melempar dengan batu. Manusia sering disebut sebagai Homo Faber (makhluk yang membuat alat); dan kemampuannya "membuat alat" itu dimungkinkan oleh pengetahuan. Sedangkan berkembangnya pengetahuan tersebut membutuhkan alat-alat.1)

Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan "alat yang dapat membantu kegiatan ilmiah" dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu, diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah, maka sebelum kita mengkaji sarana-sarana berpikir ilmiah ini, seyogyanga kita sudah mengetahui (menguasai) langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut.

Dengan jalan ini, maka kita akan sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya, sebab sarana merupakan alat yang dapat membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Atau dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.2)

Sarana berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri. Artinya, kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu. Dalam hal ini, kita harus memperhatikan dua hal, yakni:

  1. Pertama, sarana ilmiah "bukan merupakan ilmu", dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan "kumpulan pengetahuan" yang bisa kita dapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti kita ketahui, bahwa salah satu karakteristik dalam ilmu, misalnya, adalah penggunaan berpikir induktif dan deduktif untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Sarana berpikir ilmiah tidak menggunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih tuntas, dapat dikatakan bahwa sarana berpikir ilmiah mempunyai "metode tersendiri" dalam mendapatkan pengetahuannya, yang berbeda dengan metode ilmiah.
  2. Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah "untuk memungkinkan kita dalam melakukan penelaahan ilmiah secara lebih baik". Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan "untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa memecahkan masalah kita sehari-hari".

Dalam hal ini, maka sarana berpikir ilmiah merupakan "alat bagi cabang-cabang pengetahuan" untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode ilmiah.3) Atau secara lebih sederhana, sarana berpikir ilmiah ini merupakan "alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik". Jelaslah sekarang, kiranya mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri, yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab salah satu fungsi sarana ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu sendiri.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik, maka kita membutuhkan sarana yang berupa Bahasa (γλώσσα), Logika (λογική), Matematika (μαθηματικά), dan Statistika (στατιστική). Bahasa, dalam hal ini merupakan alat komunikasi verbal, yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah, dimana bahasa merupakan "alat berpikir" dan "alat komunikasi" untuk menyampaikan suatu jalan pikiran kepada orang lain.4) Ditinjau dari pola berpikirnya (mindset), maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, maka sudah barang tentu penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika, mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses berpikir deduktif ini. Sedangkan Statistika, juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam berpikir induktif.

Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah, menurut Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya, Filsafat Ilmu, sangat mengharuskan kita untuk menguasai metode penelitian ilmiah, yang pada hakikatnya adalah merupakan "pengumpulan fakta untuk menerima atau menolak" terhadap sebuah hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik, harus diiringi oleh penguasaan sarana berpikir ilmiah ini dengan baik pula.

Salah satu langkah terbaik ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar akan peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah tersebut. Berdasarkan pemikiran ini, maka tidak sulit untuk dimengerti bahwa mengapa mutu kegiatan keilmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan jika sarana berpikir ilmiahnya memang kurang dikuasai. Bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan penalaran yang cermat tanpa menguasai "struktur bahasa" yang tepat? Demikian juga, bagaimana seseorang bisa melakukan generalisasi tanpa menguasai statistika?

Memang benar, tidak semua masalah membutuhkan analisis statistik, namun hal ini bukan berati bahwa kita tidak peduli terhadap statistika sama sekali, dan berpaling kepada cara-cara yang justru "tidak bersifat ilmiah". Seperti dikatakan JOHN G. KEMENY (-), Sering kita melakukan rasionalisasi untuk membela kekurangan kita (beladiri.com, ceritanya); atau bahkan kompensasi, dengan menggunakan kata-kata yang muluk (mulek) untuk menutupi ketidaktahuan kita.5)

Untuk seorang tiran, maka dalih apa pun jadilah, menurut dongeng Aesop tentang Serigala dan Anak Domba, dan memang tidak ada penalaran yang lebih mudah selain berdalih untuk tiran yang bernama kebodohan.
Logis, kan?


Semoga ada manfatnya!







1. Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 165.
2. Ibid.
3. Suriasumantri, op. cit., hlm. 167.
4. Suriasumantri, op. cit., hlm. 167.
5. John G. Kemeny, A Philosopher Looks at Science (New York: Van Nostrand, 1959), hlm. 10.







Metode Ilmiah (Part. 5)

Gaosur Rohim Sunday, September 29, 2013 4 Comments
Metode Ilmiah 5
Teori ilmiah masih merupakan penjelasan yang bersifat sebagian, sesuai dengan tahap perkembangan keilmuan yang masih sedang berjalan. Demikian juga dalam jalur suatu perkembangan yang belum dapat dipastikan bahwa kebenaran yang sekarang diterima oleh kalangan ilmiah akan benar pula di masa yang akan datang. Sejarah ilmu telah mencatat betapa banyak kebenaran ilmiah di masa lalu yang sekarang ini tidak dapat diterima lagi karena manusia telah menemukan kebenaran lain yang ternyata lebih dapat diandalkan. Sifat pragmatis dalam ilmu inilah yang sebenarnya merupakan kelebihan dan sekaligus kekurangan dari hakikat ilmu. Sifat pragmatis dari ilmu adalah cocok dengan perkembangan peradaban manusia, dimana telah terbukti secara nyata mengenai peranan ilmu dalam membangun peradaban tersebut.


Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan-batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin, nature, and limits of human knowledge).1) Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, dan lebih fundamental lagi berkaitan dengan "kriteria bagi penilaian" terhadap kebenaran dan kepalsuan. Adalah tepat apabila epistemologi dihubungkan dengan metodologi.

Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana suatu pengetahuan disusun dari bahan-bahan yang diperoleh, yang dalam prosesnya adalah menggunakan metode ilmiah. Metode adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang dan mantap, sistematik dan logis.2)

Pada dasarnya metode ilmiah dilandasi :
  • 1. Kerangka pemikiran yang logis;
  • 2. Penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dan kerangka pemikiran;
  • 3. Verifikasi tehadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara faktual.

Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya, Filsafat Ilmu mengetengahkan akronim metode ilmiah yang dikenal sebagai logico-hipotetoco-verifikasi. Kerangka pemikiran yang logis mengandung argumentasi yang dalam menjabarkan penjelasannya mengenai suatu gejala bersifat rasional. Dalam hal itu hipotesis sebagai deduksi dari suatu kerangka pemikiran merupakan "dugaan sementara", yang untuk pembuktiannya dibutuhkan pengujian, sedangkan verifikasi berarti penilaian secara objektif terhadap suatu pernyataan yang hipotesis. RICHARD L. LANIGAN (-) mengatakan bahwa dalam prosesnya yang progresif dari kognisi menuju afeksi yang selanjutnya menuju konasi, epistemologi berpijak pada salah satu atau lebih teori kebenaran.

Ilmu, terlepas dari berbagai kekurangannya, dapat memberikan jawaban positif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi manusia pada suatu waktu tertentu. Ilmu, memandang kebenaran sebagai tujuan yang mungkin dapat dicapai, namun tidak akan pernah sepenuhnya tangkapan kita itu sampai. Ibarat sebuah asimtot, maka lengkungan kurva mencoba menjamah, namun tidak pernah bersinggungan. Meskipun kita mempelajari metafisika sedalam-dalamnya, namun kita tidak pernah tahu mengenai hakikat realitas yang sesungguhnya. Meskipun kita bersikap se-obyektif mungkin, namun persepsi kita tidak akan pernah lepas dari berbagai faktor subyektivitas.

Tiap langkah kita dalam menempuh (menemukan) pengetahuan yang benar, tentu selalu diintai oleh kekeliruan yang mungkin terjadi. Seperti pernah dikatakan oleh pujangga HASAN MUSTAPA (1849-1930)3): ".... Manusia itu jarang betulnya, kalaupun betul hanya sekedar kebetulan; manusia itu jarang salahnya, kalaupun salah hanya sekedar kesalahan ...."4) Mungkin dalam situasi seperti inilah maka menonjol sekali sikap moral dan intelektual seorang ilmuwan terhadap kebenaran. Kegiatan ilmuwan pada jiwanya merupakan "komitmen moral dan intelektual" untuk mencoba mendekati kebenaran dengan cara yang sejujur-jujurnya.5)

Dalam perspektif inilah, maka penelitian terhadap ilmu tidaklah ditentukan oleh kesahihan (keabsahan) teorinya sepanjang zaman, tetapi terletak dalam kemampuan memberikan jawaban terhadap pemasalahan-permasalahan manusia dalam tahap peradaban tertentu. Merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa pada kurun masa kini kita mempergunakan berbagai kemudahan yang dikembangkan oleh ilmu dan teknologi, misalnya sarana angkutan seperti mobil dan pesawat terbang. Sarana angkutan yang bersifat fungsional tersebut, dalam kehidupan masa kini dikembangkan berdasarkan pengetahuan ilmiah yang kebenarannya diakui pada masa kini. Di kemudian hari, mungkin saja harus diciptakan sarana angkutan lain yang memerlukan teori lain pula untuk mengembangkannya.

Sarana angkutan seperti yang dikhayalkan dalam film Star Trek, dimana zat ditransportasikan ke tempat lain, dengan mengubahnya menjadi energi, tentu saja membutuhkan teori-teori lain yang sekarang dipelajari dan diterapkan dalan industri otomotif dan pesawat terbang. Pada waktu itu mungkin kita telah meninggalkan teori-teori yang dewasa ini kita anggap benar. Hal ini tidak perlu kita risaukan, sebab justru teori-teori yang hidup sekarang inilah yang bersifat fungsional dalam kehidupan kita.

Banyak sorang jenius yang buah pikirannya mendahului zamannya, yang meskipun buah pikirannya itu lebih maju dari pengetahuan sebelumnya, ternyata harus menunggu saat yang tepat untuk menjadikan gagasannya itu bermanfaat. Seperti halnya kita mengenakan baju, maka peradabanlah yang mengembangkan pengetahuan yang cocok untuk zamannya. Namun masalah semacam ini menjadi sangat lain bila dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat asasi (mendasar), dimana manusia membutuhkan adanya kemutlakan, dan bukan kesementaraan yang bersifat relatif. Dalam mempertanyakan eksistensi dirinya, tujuan hidupnya, serta berbagai hal yang bersifat asasi lainnya, maka manusia tentu membutuhkan pegangan hidup yang lebih mantap.

Dalam keadaan seperti itu, maka ilmu dengan segala atributnya tidak dapat memberikan "jalan keluar", dan manusia tentu harus berpaling kepada sumber lain, yaitu agama. Ilmu tidak berwenang menjawabnya, sebab hal semacam ini berada di luar bidang penelaahannya. Secara ontologis, ilmu membatasi dirinya hanya dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Di luar bidang empiris, ilmu tidak bisa mengatakan apa-apa.6) Sedangkan dalam batas kewewenangnya ini pun, ilmu bukan sesuatu tanpa cela, disebabkan penalaran dan pancaindera manusia yang jauh dari kesempurnaan. Kemajuan manusia tidak bisa diukur hanya dengan perluasan pengetahuan kita, tetapi juga harus diukur dengan bertambahnya kesadaran akan ketidaktahuan kita, yang akan membukakan berbagai kemungkinan yang sampai saat ini mungkin belum terbayangkan.7)

Demikian juga ilmu, yang makin terspesialisasikan, menyebabkan bidang pengkajian suatu disiplin keilmuan makin sempit, yang ditambah lagi dengan berbagai pembatasan dalam pengkajiannya; seperti postulat, asumsi, dan prinsip menciptakan lingkup penglihatan keilmuan makin bertambah sempit pula. Hal semacam inilah yang menimbulkan gejala deformation professionalle,8) yakni perubahan bentuk sebuah wujud dilihat dari kacamata profesional.

Bentuk yang bersifat artifisial ini berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya, disebabkan karena keterbatasan ilmu dalam menangkap sebuah wujud secara keseluruhan. Jadi pada hakikatnya penglihatan ilmu bersifat sempit dan sektoral, yang mendorong manusia untuk melakukan pendekatan multi-disipliner terhadap suatu permasalahan. Pendekatan ini menyebabkan berkembangnya sarana berpikir yang merupakan "kerangka yang mengikat berbagai disiplin keilmuan" dalam melakukan penelaahan bersama, di antaranya adalah Cara Berpikir Sistem.9) Berpikir menurut sistem ini bukanlah merupakan disiplin keilmuan baru, melainkan "sarana berpikir" yang membantu proses pengkajian kita, seperti juga Bahasa, Logika, Matematika, dan Statistika.

Ketidakpuasan kita terhadap lingkup analisis keilmuan yang sempit dan sektoral, janganlah diarahkan untuk mengaburkan batas-batas disiplin keilmuan yang makin lama memang makin terspesialisasikan, tetapi dengan jalan mengikatnya secara federatif dalam suatu pendekatan multi-disipliner. dengan demikian, maka kita tidak mengembangkan teori keilmuan baru, tetapi sarana-sarana berpikir baru. (Penjelasan selanjutnya dalam Sarana Berpikir Ilmiah).

Spesialisasi, meminjam perkataan WILLIAM BARRET (-), adalah harga yang kita bayar untuk kemajuan pengetahuan.10) Pendekatan sistem yang berkembang menjadi paradigma keilmuan setelah Perang Dunia II diharapkan oleh para pengembangnya menjadi "kerangka keilmuan" (the Skeleton of Science)11) yang mampu mengikat berbagai disiplin keilmuan.

Demikianlah kita telah melihat berbagai keterbatasan yang dipunyai ilmu, yang walaupun demikian, kekurangan ini bukan merupakan alasan untuk menolak "eksistensi ilmu" dalam kehidupan kita. Sebab terlepas dari segala keterbatasannya, ilmu merupakan pengetahuan yang telah menunjukkan keampuhannya dalam membangun kemajuan peradaban seperti yang kita lihat sekarang ini. Kekurangan dan kelebihan ilmu, harus kita gunakan sebagai "pedoman" untuk meletakkan ilmu dalam tempat yang sewajarnya (kecuali Isnad Majazi 'Aqli), sebab dengan sikap itulah, kita dapat memanfaatkan kegunaannya semaksimal mungkin bagi kemashlahatan bersama.

Mengatasi segalanya, harus kita sadari bahwa ilmu hanyalah sekedar alat, dan semuanya tergantung kepada kita apakah kita mempergunakan alat itu dengan benar atau tidak. Menolak kehadiran ilmu dengan picik, berarti kita menutup mata terhadap semua kemajuan masa kini, dimana hampir semua aspek kehidupan modern sangat dipengaruhi oleh produk ilmu dan teknologi. Sebaliknya, dengan jalan "mendewa-dewakan" ilmu, hal ini pun menunjukkan bahwa di sini kita gagal untuk mendapatkan pengertian mengenai hakikat ilmu yang sesungguhnya.

Mereka yang memang benar-benar berilmu adalah mereka yang mengetahui kelebihan dan kekurangan ilmu (sebab setiap ilmu tentu mempunyai Mabadi 'Asyroh masing-masing), di atas dasar itu mereka tentu akan menerima ilmu sebagaimana adanya, mencintai dengan bijaksana, serta menjadikan ilmu bagian dari kepribadiannya dalam kehidupannya. Tanpa kesadaran ini, maka kita hanya kembali kepada ketidaktahuan dan kegersangan.

Knowledge is not happines, and science
But and exchange of ignorance for that
Which is another kind of ignorance ....
(Byron dalam Manfred).


Semoga ada manfaatnya....!!!







1. Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 324.
2. Ibid.
3. Seorang pujangga yang banyak menulis dalam bahasa Sunda. Lahir di Cikajang pada tahun 1849, dan meninggal di Bandung pada tahun 1930.
4. Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 136.
5. Ibid., hlm. 138.
6. Ibid., hlm. 139.
7. Ibid., hlm. 139.
8. William Barret, Irrational Man (New York: Doubleday, 1982), hlm. 5.
9. Jujun Suparjan Suriasumantri, Systems Thinking (Bandung: Binacipta, 1981), hlm. 3.
10. Barret, op. cit., hlm. 6.
11. Kenneth Boulding, "General Systems Theory-The Skeleton of Science", Management Systems, ed. Peter P. Schoderbek dalam Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 140.








Entri Populer

 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.