Komunitas Filsafat™ » Beranda Filsafat » - » Metode Ilmiah (Part. 4)

Metode Ilmiah (Part. 4)

Gaosur Rohim Sunday, August 25, 2013 4 Comments
Metode Ilmiah (Part. 4)
Penelitian merupakan pencerminan secara konkrit kegiatan keilmuan dalam memproses pengetahuannya. Metodologi penelitian ilmiah dan hakikatnya merupakan "operasionalisasi" dalam metode keillmuan. Atau dengan kata lain, struktur berpikir yang melatarbelakangi langkah-langkah dalam penelitian ilmiah adalah metode keilmuan. Dengan demikian, maka penguasaan metode ilmiah merupakan persyaratan untuk dapat memahami jalan pikiran yang ada dalam langkah-langkah penelitian.


Metode ilmiah itu penting, bukan saja dalam proses penemuan pengetahuan, namun lebih-lebih lagi dalam mengkomunikasikan penemuan ilmiah tersebut kepada masyarakat ilmuwan. Sebuah laporan penelitian ilmiah, mempunyai sistematika cara berpikir tertentu yang tercermin dalam "format dan tekniknya". Perbedaan utama dari metode ilmiah bila dibandingkan dengan metode-metode pengetahuan lainnya adalah terletak pada hakikat metode ilmiah yang bersifat sistematik dan eksplisit.1)

Sifat eksplisit ini memungkinkan terjadinya memungkinkan terjadinya komunkasi yang intensif dalam kalangan masyarakat ilmuwan. Ilmu ditemukan secara individual, namun dimanfaatkan secara sosial.2) Ilmu merupakan pengetahuan milik umum (public knowledge), dimana teori ilmiah yang ditemukan secara individual dikaji, diulangi, dan dimanfaatkan secara komunal. Karakteristik ini mengharuskan seorang ilmuwan untuk menguasai sarana komunikasi ilmiah dengan baik, yang memungkinkan komunikasi eksplisit antar-ilmuwan secara intensif.

Penemuan mesin cetak, misalnya, merupakan "momentum" yang sangat mendorong perkembangan ilmu. Ilmu dapat maju dengan cepat pada masyarakat yang telah mempunyai tradisi komunikasi tertulis yang mantap. Semangat ilmiah seperti kehidupan yang mengalir, dimana tiap-tiap ilmuwan berhutang budi kepada ilmuwan-ilmuwan lainnya.3) (Ilmuwan-ilmuwan sebelumnya).

Dapat kita simpulkan bahwa ilmu merupakan "kumpulan pengetahuan" yang disusun secara konsisten, dan kebenarannya telah teruji secara empiris. Dalam hal ini, harus kita sadari bahwa proses pembuktian dalam ilmu tidaklah bersifat absolute. Seandainya sekarang kita dapat mengumpulkan fakta-fakta yang dapat mendukung hipotesis kita, maka bukan berarti bahwa untuk selamanya kita akan mendapatkan hal yang sama. Mungkin saja suatu waktu, baik secara kebetulan maupun karena disebabkan kemajuan dalam peralatan pengujian, maka kita akan mendapatkan fakta yang menolak hipotesis kita yang selama ini kita anggap benar. Jadi, pada hakikatnya suatu hipotesis dapat kita terima kebenarannya selama tidak didapatkan fakta-fakta yang menolak hipotesis tersebut.

Hal ini membawa dimensi baru kepada hakikat ilmu, yakni sifat pragmatis dalam ilmu. Ilmu sama sekali tidak bertujuan untuk mencari kebenaran yang absolute, tetapi kebenaran yang bermanfaat untuk seluruh ummat manusia dalam tahap perkembangan tertentu. Hipotesis-hipotesis yang sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya, dan mempunyai manfaat bagi kehidupan kita, kita anggap sebagai pengetahuan yang sahih (valid) dalam keluarga keilmuan. Bahwa hipotesis ini di kemudian hari ternyata tidak benar, bagi kita hal itu tidaklah terlalu penting selama hipotesis ini mempunyai kegunaan (manfaat). Seperti ucapan Santayana, maka dalam ilmu pun bila kita menemukan kebenaran baru, kita tidak boleh "menyalahkan pendahulu-pendahulu itu, kita cuma mengucapkan selamat jalan ...."4)

Metode ilmiah tidak bisa diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu. Matematika dan Bahasa, misalnya, tidak mempergunakan metode ilmiah dalam menyusun tubuh pengetahuannya, sebab Matematika bukanlah ilmu5), tetapi pengetahuan yang termasuk ke dalam Sarana Berpikir Ilmiah.6) Demikian juga halnya dengan bidang Sastra yang termasuk ke dalam Humaniora, yang jelas tidak menggunakan metode ilmiah dalam menyusun tubuh pengetahuannya.

Namun meskipun demikian, beberapa aspek dalam pengetahuan-pengetahuan tersebut dapat mampu menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiannya, misalnya aspek pengajaran Bahasa, Sastra, dan Matematika. Dalam hal ini, maka masalah tersebut dapat dimasukkan ke dalam disiplin ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah berbagai aspek dalam proses balajar-mengajar. Beberapa disiplin ilmu sosial telah mengembangkan teknik-teknik tersendiri dalam melakukan penelitian ilmiah, misalnya Antropologi dan Sosiologi. Teknik-teknik yang bersifat khusus ini biasanya dikembangkan untuk meneliti aspek-aspek tertentu yang bersifat eksploratoris, yang bertujuan untuk "menemukan pola" atau struktur secara keseluruhan. Penelitian ilmiah yang lebih bersifat kualitatif itu, biasanya diikuti oleh penelitian yang bersifat kuantitatif dengan penerapan metode ilmiah sepenuhnya.7)

Bagi pendidikan keilmuan, maka aspek-aspek filsafat ilmu sebaiknya dikaitkan secara langsung dengan dengan kegiatan berpikir ilmiah pada umumnya, dan kegiatan penelitian pada khususnya. Langkah-langkah penelitian yang mencakup apa yang diteliti, bagaimana penelitian dilakukan, serta untuk apa hasil penelitian tersebut digunakan, adalah "koheren" dengan landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis keilmuan. Dengan demikian, maka pengetahuan filsafati yang bersifat potensial secara konkrit memperkuat kemampuan kita dalam melakukan kegiatan ilmiah secara operasional.

Demikianlah secara singkat telah kita bahas hakikat metode ilmiah yang alur-alur berpikirnya tercermin dalam langkah-langkah tetentu. Alur berpikir keilmuan inilah yang paling penting, sebab ilmu pada kenyataannya yang paling asasi adalah "produk kegiatan berpikir" melalui suatu cara berpikir tertentu. Langkah-langkah dalam metode ilmiah ini, janganlah kita tafsirkan secara mati dan menjadi "hafalan baru". Ada baiknya dalam hal ini kita memperhatikan peringatan yang pernah diberikan oleh LEONARD K. NASH (-) dalam bukunya The Nature of the Natural Sciences bahwa terdapat bahaya yang potensial mengintai di balik mitos yang bernama metode, yakni bahwa ilmuwan akan memperlakukannya secara terlalu bersungguh-sungguh!8).

Dengan metode ilmiah sebagai paradigma, maka ilmu dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya dapat dikatakan berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor yang mendorong perkembangan ini adalah "faktor sosial dalam komunikasi ilmiah", dimana penemuan individual segera dapat diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuwan lainnya. Tersedia berbagai alat komunikasi tertulis dalam bentuk majalah, buletin, jurnal, mikro film, dan berbagai media massa lainnya yang sangat menunjang intensitas dan efektivitas komunikasi ini. Suatu penemuan baru (new discovery) di dalam sebuah negara, misalnya, segera dapat diketahui oleh ilmuwan-ilmuwan di negara-negara lainnya. Penemuan ini segera dapat diteliti kebenarannya oleh kalangan ilmiah di mana saja, sebab prosedur untuk menilai kesahihan (keabsahan) pernyataan yang dikandung oleh pengetahuan tersebut sama-sama telah diketahui oleh seluruh masyarakat ilmuwan.9)

Sampai pada pertengahan Abad ke-17, komunikasi ilmiah antar-ilmuwan dilakukan secara korespondensi pribadi, serta publikasi makalah atau pamflet sewaktu-waktu.10) Baru pada sekitar tahun 1654, The Royal Society didirikan di London, yang disusul oleh Academie Francaise yang didirikan di Paris pada tahun 1663. Laporan penemuan ilmiah dari The Royal Society muncul untuk pertama kalinya pada tahun 1664. Setelah ini maka komunikasi dan kerja sama antar-ilmuwan dalam bentuk kelembagaan, himpunan dan penerbitan jurnal berkembang dengan sangat pesat.11)

Berbagai percobaan ilmiah dapat diulang oleh ilmuwan lainnya yang berhasrat, dan jika dalam pengulangan tersebut didapatkan hasil yang sama, serta-merta ilmuwan itu menerima dan mendukung kebenaran yang dimaksud. Akhirnya, seluruh kalangan ilmuwan akan menerima kebenaran ilmiah itu, dan dengan demikian dunia keilmuan menganggap permasalahan mengenai hal tersebut telah selesai, dan ilmu mendapat pengetahuan baru yang diterima oleh seluruh ilmuwan.

Dengan demikian, maka ilmu berkembang dengan cepat dalam dinamika yang dipercepat, karena penemuan yang satu akan menyebabkan penemuan-penemuan yang lainnya. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya, akan segera menjadi teori ilmiah, yang kemudian akan digunakan sebagai premis dalam mengembangkan hipotesis-hipotesis selanjutnya. Secara kumulatif, maka teori ilmiah berkembang seperti "piramida yang terbalik", yang pada kenyataannnya "makin lama makin tinggi". Diperkirakan ilmu berkembang dua kali lipat pada tiap jangka waktu sepuluh tahun.

Ilmu juga bersifat konsisten, karena penemuan yang satu didasarkan kepada penemuan-penemuan sebelumnya. Sebenarnya hal ini tidak seluruhnya benar, karena sampai saat ini belum satu pun dari seluruh disiplin keilmuan yang telah berhasil menyusun satu teori yang konsisten dan menyeluruh. Bahkan dalam Fisika, yang memang merupakan prototipe bidang keilmuan yang relatif paling maju, satu teori yang mencakup segenap dunia fisik kita belum dapat dirumuskan. Usaha untuk mempersatukan seluruh konsep-konsep Fisika dalam sebuah teori yang koheren, sampai sekarang belum berhasil dilaksanakan.


Semoga ada manfaatnya !







1. Jacob Bronowski, The Common Sense of Science (Harvard University Press, 1957), hlm. 240.
2. Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 131.
3. Dikutip dalam Frederick Mayer, Philosophy of Education for Our Time (New York: The Odeyssey Press, 1958), hlm. 19.
4. Ibid., hlm. 10-11.
5. Suriasumantri, op. cit., hlm. 132.
6. Pembahasan selanjutnya dalam Sarana Berpikir Ilmiah.
7. Suriasumantri, op. cit., hlm. 133.
8. Leonard K. Nash, The Nature of the Natural Sciences (Boston: Little & Brown, 1963), hlm. 168.
9. Suriasumantri, op. cit., hlm. 134.
10. John Ziman, Public Knowledge: The Social Dimension of Science (Cambridge: Cambridge University Press, 1968), hlm. 104.
11. Hugh F. Kearney (ed.), Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 134.








4 comments:

Komentar, kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami terima dengan tangan terbuka.
Komentar Anda akan dianggap SPAM jika:
- Menyematkan Link Aktif
- Mengandung dan/atau Menyerang SARA
- Mengandung Pornografi

Tidak ada CAPTCHA dan Moderasi Komentar di sini.

Entri Populer

 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.