Home » » Teori "Kriteria" Kebenaran

Teori "Kriteria" Kebenaran


Berpikir merupakan salah satu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar berdasarkan kriteria kebenaran. Apa yang disebut benar bagi tiap-tiap orang, adalah belum tentu sama. Benar bagi kita, "belum tentu" bagi mereka. Benar bagi mereka, "belum tentu" bagi kita. Karenanya, proses kegiatan berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar, itu pun berbeda-beda.


Dapat dikatakan bahwa tiap jalan pikiran itu pasti mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran. Dan kriteria kebenaran inilah yang merupakan "landasan" bagi proses penemuan kebenaran tersebut. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa penalaran juga merupakan suatu proses penemuan kebenaran, dimana tiap-tiap jenis penalaran tersebut mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing.

Alkisah...,
Seorang anak kecil yang baru masuk Sekolah Dasar, setelah 3 hari berselang, dia mogok tidak mau belajar. Kedua orang tuanya berupaya membujuk rayu dia dengan berbagai macam cara. Mulai dari iming-imingan gula-gula, sampai ancaman sapu lidi, semuanya sia-sia. Tetapi setelah didesak, akhirnya dia mau berterus terang bahwa dia sudah kehilangan hasratnya untuk belajar, sebab ternyata ibu gurunya adalah seorang pembohong.

"Coba ceritakan, bagaimana ibu gurumu berbohong...?!", pinta orang tuanya sambil tersenyum.
"Tiga hari yang lalu, dia mengatkan bahwa 3 + 4 = 7. Dua hari yang lalu, dia mengatakan bahwa 5 + 2 = 7. dan kemarin, dia mengatakan bahwa 1 + 6 = 7. Bukankah semua itu tidak benar...?, jawab sang anak dengan polosnya.

Permasalahan yang sederhana ini, membawa kita kepada apa yang disebut sebagai Teori Kebenaran. Apakah persyaratannya agar suatu jalan pikiran itu bisa menghasilkan kesimpulan (natijah) yang benar ?

Tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar. Ya, termasuk anak kecil tadi, yang dengan pikiran kekanak-kanakannya, yang dengan kepolosannya, mempunyai kriteria kebenaran tersendiri. Bagi kita, mungkin tidak sulit untuk menerima kebenaran (secara matematis) bahwa 3 + 4 = 7; 5 + 2 = 7; dan 1 + 6 = 7, sebab secara deduktif dapat kita buktikan bahwa ketiga pernyataan tersebut adalah benar. Mengapa hal seperti ini bisa dikatakan benar ? Sebab pernyataan dan kesimpulan (natijah) yang ditariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan (natijah) terdahulu yang telah dinyatakan/dianggap benar. Teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria semacam ini, disebut teori koherensi.

Secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa dengan teori koherensi, suatu pernyataan bisa dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menyatakan bahwa "semua manusia pasti akan mati", adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa "si Fulan adalah manusia" dan "si Fulan pasti akan mati", adalah benar pula, sebab pernyataan yang kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.

Matematika, misalnya, adalah salah satu bentuk pengetahuan yang metode penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. Sistem Matematika, disusun di atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap/dinyatakan benar, yakni aksioma. Dengan menggunakan beberapa aksioma, maka dapat tersusun suatu teorema. Nah, di atas teorema, maka dikembangkan kaidah-kaidah (القواعد) Matematika, yang secara keseluruhan merupakan suatu sistem yang konsisten.

Seorang filsuf yang pernah menimba ilmu kepada SOCRATES (470-399 S.M.), yakni PLATO (427-347 S.M.), dan yang pernah menimba ilmu kepada Plato, yakni Irsathotholees alias ARISTOTELES (384-322 S.M.), keduanya mengembangkan teori koherensi berdasarkan "pola pemikiran" yang digunakan EUCLID (325-265 S.M.) dalam menyusun ilmu ukur-nya.

Paham (aliran) lain adalah kebenaran yang berdasarkan kepada teori korespondensi, dimana exponen utamanya tidak lain adalah BERTRAND RUSSELL (1872-1970). Bagi mereka yang menganut teori korespondensi ini, maka suatu pernyataan adalah benar jika materi-materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu "berkorespondensi" dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

Kita ambil contoh yang paling sederhana saja. Misalnya : Jika seseorang menyatakan bahwa Ibu Kota Republik Indonesia adalah Jakarta, maka pernyataan itu adalah "benar", sebab pernyataan tersebut sesuai dengan obyek yang bersifat faktual, yakni Jakarta, yang memang menjadi ibu kota Republik Indonesia. Tetapi jika orang lain mengatakan bahwa Ibu Kota Republik Indonesia adalah Manado, maka pernyataan itu adalah "tidak benar", sebab tidak terdapat obyek yang faktual yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini, maka secara faktual bahwa Ibu Kota Republik Indonesia adalah bukan Manado, melainkan Jakarta.

Kedua teori kebenaran ini, yakni Teori Koherensi dan Teori Korespondensi, keduanya digunakan dalam Cara Berpikir Ilmiah. Penalaran teoretis yang berdasarkan logika deduktif, jelas menggunakan teori koherensi ini. Sedangkan proses pembuktian secara empiris dalam bentuk pengumpulan fakta-fakta yang mendukung suatu pernyataan tertentu, biasanya menggunakan teori kebenaran yang lain, yang disebut sebagai Teori Kebenaran Pragmatis.

Teori pragmatis ini pertama kali dicetuskan oleh CHARLES S. PEIRCE (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul How to Make Our Ideas Clear. Kemudian teori ini dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat, yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika. Inilah salah satu yang menyebabkan bahwa filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Ahli-ahli filsafat ini, di antaranya adalah WILLIAM JAMES (1842-1910), JOHN DEWEY (1859-1952), GEORGE HERBERT MEAD (1863-1931), C. I. LEWIS (?), dan lain-lain.

Bagi seorang pragmatis, maka kebenaran suatu pernyataan itu diukur berdasarkan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Artinya, suatu pernyataan bisa dikatakan benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia, atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.

Misalnya, jika seseorang menyatakan sebuah teori X dalam pendidikan, dan dengan teori X tersebut dapat dikembangkan teknik Y untuk meningkatkan kemampuan belajar, maka teori X tersebut bisa dianggap benar, sebab teori X tersebut adalah fungsional serta mempunyai kegunaan praktis.

Pragmatisme bukanlah aliran filsafat yang mempunyai doktrin-doktrin filsafati, tetapi teori dalam penentuan kriteria kebenaran. Kaum pragmatis ini, berpaling kepada metode ilmiah sebagai metode yang dipakai untuk mencari pengetahuan tentang alam ini, yang dianggapnya fungsional dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alamiah.

"....demikian juga kaum Pragmatis percaya kepada agama, sebab agama bersifat fungsionil dalam memberikan pegangan moral. Dan percaya kepada demokrasi, sebab demokrasi bersifat fungsional dalam memberikan konsensus masyarakat....". (Jujun Suparjan Suriasumantri dalam Filsafat Ilmu) hal. 59.

Dilihat dari segi perspektif waktu, kriteria pragmatisme ini juga banyak digunakan oleh para ilmuwan untuk menentukan kebenaran ilmiah. Secara historis, maka pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar, suatu waktu "mungkin" tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah semacam ini, biasanya ilmuwan yang bersifat pragmatis : "Selama pernyataan itu bersifat fungsional dan mempunyai kegunaan, maka pernyataan tersebut dianggap benar. Dan jika pernyataan tersebut tidak bersifat demikian, mungkin karena perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan....".

Pengetahuan ilmiah itu memang tidak berumur panjang. Seperti diungkapkan sebuah pengumpulan pendapat di kalangan ahli-ahli Fisika, bahwa teori tentang pertikel tidak akan berumur lebih dari 4 tahun. Mengenai ilmu-ilmu lainnya yang agak kurang berhasil dalam menentukan hal-hal baru, seperti Embriologi, sebuah revisi dapat diharapkan bahwa tiap kurun waktu 15 (lima belas) tahun. (Selengkapnya bacalah buku Joseph J. Schwab yang berjudul The Teaching of Science as Enguiry, hal. 20).1)

Kesimpulan :
1. Teori Koherensi
Mereka yang menganut teori ini, maka suatu pernyataan bisa dianggap/dikatakan benar jika pernyataan tersebut bersifat koheren, atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang memang dianggap benar. Exponen utamanya adalah PLATO (427-347 S.M.), dan IRSATHOTHOLEES alias ARISTOTELES (384-322 S.M.).

2. Teori Korespondensi
Mereka yang menganut teori ini, maka suatu pernyataan bisa dianggap/dinyatakan benar apabila materi-materi yang terkandung dalam pernyataan tersebut mempunyai hubungan (berkorespondesi) dengan suatu obyek (maudhu') yang dituju oleh pernyataan tersebut. Exponen utamanya adalah BERTRAND RUSSELL (1872-1970).

3. Teori Pragmatis
Mereka yang menganut teori ini, maka suatu pernyataan bisa dianggap/dinyatakan benar jika pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia, dacn mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan sehari-hari, atau konsekuensi dari pernyataan tersebut mempunyai fungsi dan kegunaan praktis. Exponen utamanya adalah CHARLES S. PEIRCE (1839-1914), yang kemudian dikembangkan oleh WILLIAM JAMES (1842-1910), JOHN DEWEY (1859-1952), GEORGE HERBERT MEAD (1863-1931), C. I. LEWIS (?), dan lain-lain.


Semoga ada manfaatnya....!!!







1. Joseph J. Schwab, The Teaching of Science as Enguiry (Cambridge: Harvard University Press, 1962), hlm. 20.







2 Tanggapan:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Komentar, kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami terima dengan lapang dada dan tangan terbuka.

Tidak ada CAPTCHA dan Moderasi Komentar di sini.

- Jangan SPAM!
- Jangan menyertakan link aktif!
- Jangan melamun!

 
TOS - Disclaimer - Privacy Policy.
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
All Rights Reserved.
Template by Creating Website.
Edited by Gaosur Rohim.
Powered by Blogger™.