Showing posts with label Pengetahuan Ilmiah. Show all posts
Showing posts with label Pengetahuan Ilmiah. Show all posts

Struktur Pengetahuan Ilmiah (Bag. 3)

Gaosur Rohim Sunday, January 26, 2014 3 Comments
Struktur Pengetahuan Ilmiah (3)
Penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui dinamakan penelitian murni (pure research) atau penelitian dasar (basic research). Sedangkan penelitian yang bertujuan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidupan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan (applied research). Dengan menguasai pengetahuan ini, maka manusia mengembangkan teknologi atau peralatan yang berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan dalam kehidupannya.


Konsep-konsep yang bersifat teoritis seperti telah disebutkan sebelumnya, karena sifatnya yang mendasar sering tidak langsung kentara kegunaan praktisnya. Secara logis, hal ini tidak sulit untuk dimengerti, sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitan langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata;[1] padahal kehidupan kita sehari-hari adalah berhubungan dengan gejala yang bersifat konkret tersebut.

Kegunaan praktis dari sebuah konsep yang bersifat teoritis, baru dapat dikembangkan jika konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis. Dan dari pengertian inilah kita sering mendengar konsep dasar (basic concepts) dan konsep terapan (concept applied) yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar (basic science) dan ilmu terapan (applied science) serta penelitian dasar (basic research) dan penelitian terapan (applied research).

Pengertian yang membedakan antara pernyataan yang bersifat dasar dan terapan ini harus kita miliki dengan baik, sebab kalau tidak, kita mungkin melakukan pilihan yang baik untuk jangka pendek, namun kurang baik untuk jangka panjang.[2] Misalnya, seringkali sebuah negara dalam kebijaksanaan pengembangan ilmu dan teknologinya terlalu menitikberatkan kepada penelitian dan ilmu terapan dengan melupakan pengembangan penelitian dan ilmu dasar.

Secara sepintas, hal ini memang menguntungkan, sebab penelitian dan ilmu terapan secara langsung mempunyai manfaat praktis yang berupa pemecahan-pemecahan masalah yang bersifat kongkrit. Namun kalau hal ini dilihat dalam perspektif jangka panjang, maka kemandegan dalam pengembangan ilmu-ilmu dasar akan mempunyai pengaruh yang serius, apalagi bila hal ini menyebabkan berkurangnya minat masyarakat untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Di berbagai negara sudah banyak terlihat tanda-tanda mengenai stagnasi di bidang ilmu-ilmu dasar ini.

Dalam ilmu-ilmu sosial pada umumnya maka pengembangan huum-hukum ilmiah sulit sekali dilakukan, dan pada hakikatnya "telah ditinggalkan".[3] Untuk tujuan meramalkan, ilmu-ilmu sosial mengunakan metode proyeksi, pendekatan struktural, analisis kelembagaan atau tahap-tahap perkembangan.[4] Kalau hal ini kita kembalikan kepada hakikat manusia yang demikian kompleks dengan serbaneka peranannya dalam masyarakat, serta variasi yang besar antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain, maka gejala ini tidak begitu mengherankan.

Namun hal ini tidak begitu berarti bahwa metode ilmiah dari ilmu-ilmu sosial (social sciences) berbeda dengan metode ilmiah dari ilmu-ilmu alam (natural sciences). Keduanya tetap menggunakan metode ilmiah yang sama, namun dengan tahap penerapan dan teknik-teknik operasional yang berbeda. Batu-batuan koral akan mempunyai karakteristik yang sama, apakah dia berbeda di Gunung Papandayan (Garut) atau Ricky Mountain (USA), namun yang jelas, tukang yang mengambil batu-batuannya akan berbeda. Demikian juga teknik verifikasi untuk menentukan jenis batu-batuan apa yang ada di Planet Mars akan berbeda dengan teknik verifikasi bahwa tukang pengambil batu di Gunung Papandayan Garut adalah orang Cibatu.

Di samping hukum, teori keilmuan juga mengenal kategori pernyataan yang disebut prinsip. Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu, yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi, misalnya hukum sebab-akibat sebuah gejala.[5] Dalam ilmu Ekonomi kita mengenal prinsip ekonomi, dan dalam ilmu Fisika kita mengenal prinsip kekekalan energi. Dengan prinsip-prinsip inilah kita mampu menjelaskan kejadian-kejadian yang terjadi dala ilmu ekonomi dan fisika. Beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan apa yang disebut postulat dalam menyusun teorinya.

Postulat adalah asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. Kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disahkan lewat sebuah proses yang disebut metode keilmuan. Postulat ilmiah ditetapkan tanpa melalui prosedur ini, namun ditetapkan secara begitu saja. Secara filsafati sebenarnya eksistensi postulat ini tidak sulit untuk dimengerti, mengapa kehadirannya menyimpang dari prosedur yang ada, sebab bukankah sebuah argumentasi harus didasarkan kepada sesuatu? Seperti jika kita ingin mengelilingi sebuah lingkaran, maka kita harus mulai dari sebuah titik; dan postulat adalah ibarat titik dalam lingkaran, yang eksistensinya kita tetapkan secara sembarang.

Meskipun demikian, harus ada alasan yang kuat dalam menetapkan sebuah postulat. Seperti kita memilih dari titik mana kita akan mengelilingi sebuah lingkaran, tentu saja kita mempunyai alasan mengapa kita mulai dari titik B dan bukan dari titik A. Namun sebagai postulat, maka kita tidak perlu membuktikan bahwa titik B adalah benar dan titik A adalah salah, tetapi sekedar menjelaskan bahwa jika kita mulai dari titik A (yang koordinatnya membentuk sudut nol derajat dengan sumbu vertikal lingkaran), maka kita akan berhenti pada sebuah titik tertentu yang letaknya di sebelah Utara bila dilihat dari pusat lingkaran.

Tentu saja jika kita mulai dari titik yang lain, maka akan berakhir pada titik yang berbeda. Di sini kita dapat menyimpulkan bahwa pada hakikatnya postulat adalah anggapan yang ditetapkan secara sembarang dengann kebenaran yang tidak dibuktikan. Sebuah postulat dapat diterima apabila ramalan yang bertumpu kepada postulat terebut kebenarannya dapat dibuktikan.

Bila postulat dalam pengajuannya tidak memerlukan bukti tentang kebenarannya, maka hal ini berlainan dengan asumsi yang harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. Asumsi harus berbentuk pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji. Seorang yang memegang prinsip "biar ngebut asal yahut", tentu akan sangat berbeda jalan pikirannya dengan seorang yang memegang prinsip "biar lambat asal selamat". Bukankah tidak tepat menerapkan prinsip "berani karena benar" untuk menghadapi bus kota yang secara serampangan membabat?

Pada awal perkembangan ilmu, ketika listrik masih sekedar "keanehan" yang dipertunjukkan dalam sirkus, ada orang yang bertanya kepada MICHAEL FARADAY (-), "Apakah gunanya listrik?". Memang beberapa teori yang sifatnya mendasar tidak mempunyai kegunaan praktis secara langsung. Baru setelah teori tersebut diterapkan kepada masalah-masalah praktis maka dapat dirasakan manfaatnya.

Diperlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menerapkan penemuan-penemuan ilmiah yang baru kepada pemanfaatan yang berguna. Terdapat selang waktu selama 250 tahun antara percobaan yang pertama tentang magnet oleh WILLIAM GILBERT (-) dengan dikembangkannya teori elektromagnetik oleh JAMES CLERK MAXWELL (-) sekitar tahun 1870. Kemudian ada jangka waktu selama 50 tahun sebelumya percobaan MICHAEL FARADAY (-) tentang kawat yang mengantar arus listrik dapat dimanfaatkan secara komersil dalam pembuatan dinamo dan motor.

Penemuan HENRI BACQUEREL (-) tentang sinar-X baru dapat diterapkan dalam praktek setelah 25 tahun kemudian. Sedangkan proses pemecahan atom (nuclear fission) baru dapat dilakukan 11 tahun kemudian setelah teorinya diformulasikan. Dan 7 tahun setelah ditemukan kemungkinan pembuatan bom atom maka pada tahun 1945 dijatuhkan dua bom atom yang pertama di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, yang membuka babakan baru dalam peradaban manusia.[6]

Terdapat selang waktu yang makin lama makin pendek antara penemuan suatu teori ilmiah dengan penerapannya kepada masalah-masalah yang bersifat praktis. Dengan demikian, makin cepat manusia mengembangkan teknologi yang pada satu pihak ibarat "Dewi Penolong" yang penuh dengan berkah. Sedangkan di lain pihak, adalah "Fasisme dengan Senyuman".[7] Penerapan ilmu kepada teknologi memang tidak selalu merupakan rahmat bagi manusia, sebab di samping dapat digunakan untuk tujuan destruktif, juga dapat menimbulkan implikasi moral, sosial, dan kultural.[8]

Di samping Homo Sapiens (makhluk yang berpikir), manusia disebut juga Homo Faber (makhluk yang membuat peralatan), yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Berbeda dengan pengetahuan lainnya, seperti seni yang bersifat estetis, maka ilmu adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupannya.

Menarik sekali dalam kesempatan ini untuk menggarisbawahi pendapat yang dikemukakan MOCHTAR LUBIS bahwa perbedaan dan persamaan ilmu seni patut diketahui dengan seksama dalam rangka meningkatkan sikap ilmiah suatu bangsa dan mengingat sikap kita yang masih berorientasi kepada nilai estetis.[9] Dalam buku Nitisastra, yang diperkirakan Profesor Poerbacaraka ditulis pada akhir zaman Majapahit, disebutkan, bahwa salah satu musuh bagi orang muda dalam menuntut ilmu adalah "gila asmara".


Demikian yang dapat kami rangkum mengenai Struktur Pengetahuan Ilmiah (Bag. 3). Semoga ada manfaatnya serta dapat menambah wawasan kita. Jika Anda ingin menambahkan atau sekedar mengoreksi, silahkan tuangkan di kotak komentar. Kritik dan saran yang bersifat membangun, senentiasa kami terima dengan tangan terbuka.




1. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 151.
2. Peter R. Senn, Social Science and its Methods (Boston: Holbrook Press, 1971), hlm. 35.
3. Ibid., hlm. 26.
4. Suriasumantri, op. cit., hlm. 155.
5. Suriasumantri, op. cit., hlm. 159.
6. C.A. Coulson, Science, Technology and the Christian (Nashville: Abingdon, 1960), hlm. 25-26.
7. Azyumardi Azra, "Teknologi: Fasisme dengan Senyuman", Merdeka, 10 February 1982.
8. Suriasumantri, op. cit., hlm. 161.
9. Moctar Lubis, Manusia Indonesia (Jakarta: Yayasan Idayu, 1978), hlm. 38.



Struktur Pengetahuan Ilmiah (Bag. 2)

Gaosur Rohim Sunday, December 22, 2013 15 Comments
Struktur Pengetahuan Ilmiah 2
Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep, maka makin "teoritis" konsep tersebut. Pengertian teoritis di sini dikaitkan dengan "gejala fisik" yang dijelaskan oleh konsep yang dimaksud; artinya makin teoritis sebuah konsep, maka makin jauh pernyataan yang dikandungnya bila dikaitkan dengan gejala fisik yang tampak nyata. Diibaratkan pohon dengan akar, maka bila makin tinggi tingkat keumuman yang tinggi dicapai oleh sebuah konsep yang dicerminkan dengan pohon, maka makin dalam pula kita harus menjangkau akar tersebut. Konsep-konsep teoritis seperti gravitasi dan medan elektromagnetik merupakan penjelasan yang bersifat mendasar, yang mampu mengikat berbagai gejala-gejala fisik secara universal.

Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Dalam teori ilmu ekonomi mikro, misalnya, kita mengenal adanya hukum permintaan dan penawaran. Bila permintaan naik sedangkan penawaran tetap, maka harga akan naik. Sebaliknya, bila penawaran naik sedangkan permintaan tetap, maka harga pun akan turun. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab-akibat.

Seperti dalam hukum ekonomi tersebut, maka dapat kita lihat adanya hubungan sebab-akibat antara permintaan (demand), penawaran (offer), dan pembentukan harga (price formation). Pernyataan yang mencakup hubungan antara sebab-akibat ini, atau dengan kata lain hubungan kasualita, memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. Apa yang akan terjadi dalam pembentukan harga beras waktu panen, misalnya, akan dapat kita ramalkan dengan hukum ini.

Penawaran yang meningkat disebabkan banyaknya beras yang ditawarkan oleh penjual pada waktu panenan, akan menyebabkan harga beras menjadi turun bila permintaan konsumen terhadap beras pada waktu itu adalah tetap. Sedangkan hal yang sebaliknya terjadi pada waktu paceklik, dimana penawaran yang menurun disebabkan karena berkurangnya persediaan beras di pasaran akan menyebabkan harga beras menjadi menggila. Jika kita tidak menginginkan perubahan harga seperti ini, maka kita harus melakukan usaha untuk mengontrol pembentukan harga tersebut, agar lebih sesuai dengan kehendak kita.

Misalnya agar harga beras pada waktu panen tidak menurun, maka pemerintah harus mampu membeli beras sebanyak-banyaknya (sebanyak mungkin), seperti yang dilakukan Badan Urusan Logistik Nasional (BULOG), sehingga keseimbangan antara permintaan dan penawaran tidak terlalu mengalami perubahan. Hal yang sama diklakukan oleh BULOG pada waktu paceklik, adalah dengan melakukan "dropping" beras pada waktu penawaran beras di pasaran menjadi menurun.

Demikianlah dengan mengetahui hubungan permintaan dengan penawaran, maka kita dapat menjelaskan mekanisme pembentukan harga (price formation), yang dengan berdasarkan penjelasan ini, selanjutnya kita dapat meramalkan pembentukan harga. Dan dengan berdasarkan ramalan ini, kita dapat melakukan upaya untuk mengontrol naik turunnya harga. Secara mudah kita dapat mengatakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang mengapa suatu gejala-gejala terjadi, sedangkan hukum memberikan kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang apa yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum semacam ini, merupakan "alat" yang dapat kita gunakan untuk mengontrol berbagai gejala alam (natural phenomena). Kebijaksanaan ekonomi yang dilaksanakan BULOG dalam mempertahankan kestabilan harga beras.

Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi, atau secara idealnya, harus bersifat universal. Jika hukum permintaan dan penawaran hanya berlaku buat padi dan terbatas di daerah Karawang saja1), misalnya, maka pengetahuan ini dianggap kurang fungsional sebagai teori ilmiah. Mengapa demikian?

  • Pertama, hal ini disebabkan cuma berlaku untuk padi, namun tidak untuk hamburger, televisi, dan lain-lain yang semuanya merupakan benda ekonomi.
  • Kedua, pernyataan itu hanya berlaku untuk daerah Karawang saja, dan tentunya tidak berlaku untuk daerah-daerah selain Karawang.


Pengetahuan tentang Goyang Karawang, yang memang sudah khas Karawang, mungkin berguna dalam diskusi yang tidak bersifat ilmiah2), namun pengetahuan ilmiah tentang pembentukan harga padi yang terbatas di daerah Karawang saja, kurang bersifat fungsional. Namun hal ini jangan kita artikan bahwa pengetahuan ilmiah mengenai kasus pembentukan harga padi di daerah Karawang ini sama sekali tidak ada nilainya, yang penting untuk kita ingat adalah bahwa demi kepraktisan ilmu tidak merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat khusus, tetapi pengetahuan yang bersifat umum, yang sudah disimpulkan dari berbagai macam kasus.

Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini, maka dalam sejarah perkembangan ilmu, kita sering melihat berbagai contoh dimana teori-teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dalam suatu teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori-teori tersebut. Sejarah perkembangan Fisika, misalnya, kita mengenal teori tentang "jatuh bebas" (bukan jatuh bangun), yang telah didemonstrasikan oleh GALILEO GALILEI (1564-1642), yakni dengan menjatuhkan dua benda yang berbeda beratnya dari Menara Pisa, Italia. Sampai waktu itu orang masih percaya kepada teori IRSATHOTHOLES alias ARISTOTELES (384-322 S.M.) yang menyatakan bahwa setiap benda yang lebih berat akan jatuh ke tanah dengan lebih cepat.

GALILEO GALILEI (1564-1642), dengan demonstrasinya yang bersifat teatrik, sekali pukul menjatuhkan teori ARISTOTELES (384-322 S.M.) yang "dianggapnya" tidak benar itu. Sebab bagi Galileo: benda-benda, tanpa memandang beratnya, akan jatuh ke tanah dengan waktu yang sama.

NICOLAUS COPERNICUS (1473-1543), mengembangkan teori baru bahwa bukan matahari yang berputar mengelilingi bumi, melainkan bumi yang mengelilingi matahari (katanya). Sebenarnya teori ini merupakan "perombakan" terhadap teori lama yang dikemukakan oleh PTOLEMAEUS (150 S.M.) dari Alexandria, Mesir, yang mengemukakan bahwa bumi adalah pusat dari jagat raya dengan planet-plenetnya yang berputar mengelilinginya dalam orbit-orbit yang berbentuk lingkaran.

Teori Copernicus ini kemudian diperkuat oleh JOHANES KEPLER (1571-1630), yang mendasarkan diri kepada data yang dikumpulkan TYCHO BRANHE3) (1546-1601), menyatakan pada tahun 1609 bahwa orbit planet-planet dalam mengelilngi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang dikatakan oleh PTOLEMAEUS (150 S.M.) maupun NICOLAUS COPERNICUS (1473-1543), malainkan berbentuk elips. Makin berantakan saja!

Akhirnya, ISAAC NEWTON (1642-1727) pada tahun 1686 menerbitkan buku yang berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, yang merupakan teori yang mempersatukan antara teori Galileo, Copernicus, dan Kepler. Teori Newton menyatakan bahwa "semua gerak, baik yang terjadi di langit maupun di bumi, tunduk kepada hukum-hukum yang sama". Dengan teori ini maka Newton mengembangkan hukum-hukumnya sebagaimana yang kita kenal sekarang ini, yang sudah kita pelajari sejak kita duduk di SMP.

Bahwa Newton berhasil menemukan teorinya yang bersifat universal didasarkan kepada teori-teori sebelumnya yang bersifat sektoral diakui oleh Newton sendiri, dan menyatakan: "Jika saya mampu melihat jauh, maka hal ini disebabkan oleh sebab saya berdiri di pundak para jenius terdahulu."4)

Seperti kita ketahui, dalam mempersatukan teori-teori Fisika yang sudah ditemukan, sebelumnya Newton mengemukakan teori tentang daya tarik atau gravitasi. Episode yang terkenal mengisahkan Newton,5) waktu sedang duduk di bawah pohon apel, melihat buah apel yang jatuh ke tanah. Mengapa buah apel itu jatuh ke tanah, pikir Newton. Masalah ini kemudian dihubungkan dengan teori GALILEO GALILEI (1564-1642) yang menyatakan bahwa buah nangka yang jauh lebih berat dari buah apel, bila terjatuh dari ketinggian yang sama, maka akan sampai ke tanah dalam waktu yang bersamaan.

Mengapa hal itu terjadi demikian, sebab bila kita pikirkan sepintas lalu, maka kita lebih mudah sependapat dengan Aristoteles yang menyatakan bahwa buah nangka akan lebih cepat sampai ke tanah disebabkan buah nangka lebih berat dari buah apel? Lalu mengapa benda-benda langit seperti bintang, bumi, dan matahari tidak berjatuhan seperti buah apel, melainkan bergerak dalam "trayek" tertentu yang berbentuk orbit?

Sebelum Newton, sebenarnya tentu sudah banyak manusia yang melihat buah apel jatuh ke tanah, sudah banyak pula yang mempertanyakan mengapa buah apel itu jatuh, demikian juga sudah banyak manusia yang memberikan penjelasan mengapa uah apel itu jatuh, namun baru seorang jenius yang bernama ISAAC NEWTON (1642-1727) itulah yang memformulasikan sebuah teori tentang gaya gravitasi, yang menjelaskan peristiwa tersebut dengan penjelasan yang bukan saja berlaku bagi apel, namun juga bagi seluruh benda, baik yang berada di bumi maupun di langit. Berdasarkan teori ini, maka dapat kita susun penjelasan yang konsisten mengenai berbagai hal yang bersifat universal, yang secara keseluruhan dapat membentuk suatu sistem teori keilmuan.

Ilmu teoritis, meminjam perkataan MORITZ SCHLICK (-), terdiri dari sebuah sistem pernyataan.6) Sistem yang terdiri atas pernyataan-pernyataan agar terpadu secara utuh dan konsisten, jelas membutuhkan konsep-konsep yang dapat mempersatukan, dan konsep-konsep yang mempersatukan tersebut adalah teori.


Semoga ada manfaatnya!







1. Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 147.
2. Ibid.
3. Ibid., hlm. 149.
4. "If I have seen further, it is by standing on the shoulder of the giants."
5. Suriasumantri, loc. cit.
6. Moritz Schlick, "The Task of the Philosophy of Nature," Philosophy of Science, ed. Joseph J. Kockelmans (New York: The Free Press, 1986), hlm. 456.







Struktur Pengetahuan Ilmiah (Bag. 1)

Gaosur Rohim Saturday, November 30, 2013 4 Comments
Struktur Pengetahuan Ilmiah 1
Pengetahuan yang diproses berdasarkan metode ilmiah merupakan pengetahuan yang "memenuhi syarat-syarat keilmuan", dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Pengetahuan ilmiah ini diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan, dan dari karakter inilah maka ilmu sering dikonotasikan sebagai disiplin. Disiplin inilah yang memungkinkan ilmu berkembang relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Ilmu dapat diibaratkan sebagai "piramida terbalik" dengan perkembangan pengetahuannya yang bersifat kumulatif, dimana penemuan pengetahuan ilmiah yang satu memungkinkan penemuan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang lainnya.

Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal, diakui sebagai pernyataan pengetahuan ilmiah yang baru, yang dapat memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada. Sekranya pengetahuan ilmiah yang baru ini kemudian ternyata salah, disebabkan kelengahan dalam salah satu langkah dalam proses penemuannya, maka cepat atau lambat kesalahan ini akan segera diketahui, dan pengetahuan tersebut akan dibuang dari khazanah keilmuan.1)

Metode ilmiah mempunyai mekanisme "umpan balik" yang bersifat korektif, yang memungkinkan upaya keilmuan menemukan kesalahan yang mungkin diperbuatnya. Sebaliknya, bila ternyata bahwa sebuah pengetahuan ilmiah yang baru itu adalah benar, maka pernyataan yang terkandung dalam pengetahuan ini dapat digunakan sebagai premis baru dalam kerangka pemikiran yang menghasilkan hipotesis-hipotesis baru, yang bila kemudian ternyata dibenarkan dalam proses pengujian akan menghasilkan pengetahuan-pengetahauan ilmiah baru pula.

Pada dasarnya, ilmu dibangun secara "bertahap" dan sedikit demi sedikit", dimana para ilmuwan memberikan sumbangannya menurut kemampuannya masing-masing. Tidaklah benar bila ada anggapan bahwa "ilmu diembangkan hanya oleh para jenius saja", yang bergerak dalam bidang keilmuan. Ilmu, secara kuantitatif dikembangkan oleh masyarakat keilmuan secara keseluruhan, meskipun secara kualitatif beberapa orang jenius seperti ISAAC NEWTON (1642-1727) atau ALBERT EINSTEIN (1879-1955), merumuskan landasan-landasan baru yang bersifat mendasar.

Ilmu, pada dasarnya merupakan "kumpulan pengetahuan" yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada.2) Sekiranya kita mengetahui bahwa banjir disebabkan karena hutan yang ditebang sampai gundul, misal;nya, maka penjelasan semacam ini akan memungkinkan kita melakukan upaya untuk mencegah timbulnya banjir. Penjelasan keilmuan memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi, dan berdasarkan ramalan tersebut, kita bisa melakukan upaya untuk mengontrol agar ramalan tersebut menjadi kenyataan atau tidak.

Pengetahuan tentang kaitan antara "hutan gundul" dengan "banjir", memungkinkan kita untuk bisa meramalkan apa yang akan terjadi sekiranya hutan-hutan terus ditebang sampai tidak tumbuh lagi. Jika kita tidak menginginkan timbulnya banjir, sebagaimana diramalkan oleh penjelasan tadi, maka kita harus melakukan "kontrol" agar hutan-hutan tidak dibiarkan menjadi gundul.

Demikian juga, jika kita mengetahui bahwa hutan-hutan tidak ditebang bila ada pengawasan, maka untuk mencegah banjir, kita harus melakukan kontrol agar kegiatan pengawasan dilakukan, agar dengan demikian hutan dibiarkan tumbuh subur dan tidak mengakibatkan banjir. Jadi, pengetahuan ilmiah pada hakikatnya mempunyai tiga fungsi, yakni menjelaskan, meramalkan dan mengontrol.

Secara garis besar, ada empat jenis pola penjelasan, yakni deduktif, probabilistik, fungsional atau teleologis, dan genetik.

  1. Deduktif menggunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan (natijah) secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya.
  2. Probabilistik merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus, yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif, tetapi penjelasan yang bersifat peluang, seperti "kemungkinan", "kemungkinan besar", atau "hampir dapat dipastikan", dan sebagainya.
  3. Fungsional atau Teleologis merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan, yang mempunyai karakteristik atau arah perkembangan tertentu.
  4. Genetik menggunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang akan muncul kemudian.


Dalam mencari penjelasan mengenai tingkah laku seorang dewasa, misalnya, maka ilmu jiwa (psychology) memberikan penjelasan genetik dengan mengkaitkannya pada pengalaman orang tersebut sewaktu masih kanak-kanak. Tidak satu pun dari pola-pola tersebut yang mampu menjelaskan secara keseluruhan suatu kajian keilmuan. Dan oleh sebab itu lah, dipergunakan pola yang berbeda untuk menjelaskan masalah yang berbeda pula.

Teori, merupakan "pengetahuan ilmiah" yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.3) Misalnya dalam ilmu Ekonomi, dikenal yang namanya teori Ekonomi Makro dan teori Ekonomi Mikro. Sedangkan dalam ilmu Fisika, dikenal teori Mekanika Newton dan teori Relativitas Einstein. Sebenarnya tujuan akhir dari tiap-tiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten, namun hal ini baru dicapai oleh beberapa disiplin keilmuan saja, seperti Fisika.

Fisika Teoritis (Theoretical Physics), merupakan disiplin keilmuan yang benar-benar mencerminkan penjelasan teoritis dari gejala-gejala fisik, namun bahkan disiplin keilmuan seperti Fisika Teoritis ini pun, yang dapat dianggap sebagai disiplin keilmuan yang termasuk paling maju, belum merupakan suatu teori yang utuh dan konsisten.

Fisika Toeritis  terdiri dari berbagai teori yang dikembangkan oleh ISAAC NEWTON (1642-1727), JAMES CLERK MAXWELL (-), ALBERT EINSTEIN (1879-1955), SCHRODINGER (-) dan ahli-ahli fisika lainnya; yang dalam sektornya masing-masing dapat memberikan penjelasan teoritis secara ilmiah, namun secara keseluruhan teori-teori tersebut belum membentuk sebuah teori yang utuh. Einstein mencoba mengembangkan teori yang bersifat menyeluruh ini, namun dia terburu meninggal sebelum upayanya berhasil (1955). Seperti halnya dalam teori evolusi, maka Fisika sebenarnya masih mencari mata rantai yang hilang (missing link)4), untuk dapat menyatukan keseluruhan teori-teori fisika yang ada.

Bila pada Fisika saja keadaannya sudah seperti ini, maka dapat kita bayangkan bagaimana situasi perkembangan penjelasan teoritis pada disiplin-disiplin keilmuan dalam bidang sosial. Ilmu sosial pada kenyataannya terdiri dari berbagai teori yang tergabung dalam suatu disiplin keilmuan yang satu sama lainnya belum membentuk suatu perspektif teoritis yang bersifat umum.

Teori-teori ini sering mempergunakan postulat dan asumsi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Mungkin inilah yang menyebabkan MAX PLANCK (-) menganggap ilmu Ekonomi itu sulit, dan mengalihkan bidang studinya ke Fisika. Sedangkan BERTRAND RUSSELL (-) berpendapat sebaliknya, Ekonomi baginya dianggap terlalu mudah, mungkin inilah yang menyebabkan dia beralih kepada Filsafat dan Matematika.


Semoga ada manfaatnya!







1. Jujun Suparjan Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Sinar Harapan, 1990), hlm. 141.
2. Ibid., hlm. 142.
3. Ibid., hlm. 143.
4. Ibid.







 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.