Komunitas Filsafat™ » Beranda Filsafat » » Ruang Lingkup Penjelajahan Ilmu

Ruang Lingkup Penjelajahan Ilmu

Gaosur Rohim Thursday, May 10, 2012 0 Comments
Ruang Lingkup Penjelajahan Ilmu
Pada dasarnya, ilmu membatasi ruang lingkup penjelajahannya pada batas-batas pengalaman manusia juga, disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya jika ilmu itu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, bagaimana kita dapat melakukan pembuktian secara metodologis? Bukankah hal semacam ini merupakan "kontradiksi" yang dapat menghilangkan kesahihan metode ilmiah?


Apakah batas yang merupakan ruang lingkup penjelajahan ilmu? Di mana ilmu berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan-pengetahuan lain? Apa saja yang menjadi "karakteristik" obyek ontologis ilmu yang membedakan antara ilmu yang satu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawaban paling sederhana atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah bahwa ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia, dan berhenti pada batas pengalaman manusia juga.

Mengapa ilmu itu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam "batas" pengalaman kita? Jawabannya terletak pada "fungsi" ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia, yakni sebagai "alat pembantu" manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Ilmu diharapkan membantu kita dalam memerangi penyakit, membangun jembatan, membuat irigasi, membangkitkan tenaga listrik, mendidik dan mengasuh anak, memeratakan pendapatan nasional, dan sebagainya.

Persoalan mengenai hari kemudian, tidak akan kita tanyakan kepada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab hanya agama lah yang mengkaji masalah-masalah seperti itu. (Pembahasan yang menarik mengenai kaitan antara Ilmu, Filsafat dan Agama, dapat dibaca buku karangan Endang S. Anshory yang berjudul Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya, 1979).1)

Ilmu tanpa bimbingan moral (agama) adalah buta. Kebutaan moral dari ilmu, mungkin bisa membawa manusia ke jurang malapetaka. Kira-kira 27 tahun ke belakang, ada kurang lebih 40. 000 kepala nuklir dengan kekuatan 1. 000. 000 kali bom Atom yang pernah dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Kekuatan ini cukup untuk menghancurkan bumi menjadi berkeping-keping. Tak banyak harapan kita untuk menemukan peradaban-peradaban di tengah galaksi-galaksi ini, jika mereka saling menghancurkan setelah mencapai fase-teknologi.

Ruang disiplin keilmuan kita kemudian menjadi kavling-kavling berbagai disiplin keilmuan. Sesuai dengan perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan, kavling-kavling ini "makin lama makin sempit". Kalau pada fase permulaan hanya ada Ilmu-Ilmu Alam (Natural Sciences/Natural Philosophy) dan Ilmu-Ilmu Sosial (Social Sciences/Moral Philosophy), maka dewasa ini ada lebih dari 665 cabang keilmuan.

Seperti juga halnya pemilik kavling yang sah, maka setiap ilmuwan juga "harus benar-benar tahu" mengenai batas-batas penjelajahan cabang keilmuannya masing-masing. Sering kita jumpai tendensi imperalistik dan seorang ilmuwan yang menuntut disiplin teritorial keilmuan lain. Hal semacam ini tentu saja tidak dibenarkan. Dan langkah pertama agar kita, merekakalian tidak menjadi tuan tanah yang "tamak bin rakus alias serakah", adalah dengan cara mengenal baik-baik batas-batas kavlingnya.

Nah, dengan mengenal batas-batas kavling kita ini, selain menunjukkan kematangan keilmuan dan ke-professional-an kita, juga dimaksudkan agar kita "mengenal tetangga-tetangga kita". Sebab dengan semakin sempitnya daerah penjelajahan suatu bidang keilmuan, maka sering sekali diperlukan "pandangan" dari disiplin-disiplin lain.

Saling "pandang-memandang" ini, atau kalau dalam bahasa protokolnya : pendekatan multi-disipliner, membuahkan pengetahuan tentang "tetangga-tetangga yang berdekatan". Artinya, harus jelas bagi semua : di mana disiplin seseorang itu berhenti, dan di mana disiplin seseorang itu mulai.

Jadi, tanpa adanya kejelasan tentang batas-batas ini, maka pendekatan (PDKT) multi-disipliner itu tidak aka bersifat konstruktif, tetapi akan berubah menjadi "sengketa" kavling antara yang satu dengan yang lainnya. (Yang sedang nge-trend belakangan ini).

Apalagi kalau masalah-masalah kavling ini dikaitkan dengan asumsi-asumsi yang dipakai oleh masing-masing disiplin keilmuan. Misalnya : Jika "X mengasumsikan Y" pada kavling orang lain, dimana dalam kavling tersebut berlaku "Y mengasumsikan X", kan semuanya jadi terbalik, bukan ? Bisa jadi sengketa kavling ini akan berubah menjadi "sengketa asumsi". Nah, sengketa semacam ini adalah kaliber Newton versus Einstein.

Ilmu berkembang dengan sangat pesat, demikian juga jumlah cabang-cabangnya. Hasrat untuk men-spesialisasi-kan diri pada suatu bidang kajian yang memungkinkan analisis, yang makin cermat dan seksama, menyebabkan obyek forma (obyek ontologis) dari disiplin keilmuan menjadi sangat terbatas. Diperkirakan sekarang ini ada sekitar 665 cabang keilmuan, yang kebanyakan belum dikenal oleh orang-orang awam seperti kita.

Pada dasarnya, cabang-cabang ilmu tersebut lahir dari 2 cabang utama; yakni Filsafat Alam yang kemudian berkembang menjadi rumpun Ilmu-Ilmu Alam (The Natural Sciences), dan Filsafat Moral yang kemudian berkembang menjadi rumpun Ilmu-Ilmu Sosial (The Social Sciences).

Ilmu-Ilmu Alam (The Natural Sciences) kemudian membagi diri menjadi 2 kelompok, yakni Ilmu Alam (The Physical Sciences) dan Ilmu Hayat (The Biological Sciences). Ilmu Alam bertujuan mempelajari tentang zat-zat yang membentuk alam semesta ini, yang kemudian berkembang lagi menjadi : Fisika (tentang massa, energi, dan lain-lain), Kimia (tentang substansi zat, dan lain-lain), Astronomi (tentang benda-benda langit, dan lain-lain), Ilmu Bumi (atau The Earth Science), dan sebagainya.

Tiap-tiap cabang itu kemudian membuat ranting-ranting baru masing-masing. Fisika, misalnya, berkembang menjadi : MekanikaHidrodinamikaBunyiCahayaPanasKelistrikan dan MagnetismeFisika Nuklir, dan Kimia Fisik. Sampai tahap ini maka kelompok ilmu-ilmu ini termasuk ke dalam ilmu-ilmu murni. Ilmu-ilmu murni kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan. Cabang-cabang tersebut kemudian berkembang menjadi banyak sekali. Kimia saja, misalnya, mempunyai sekitar 160 disiplin (bahkan lebih).

Ilmu murni merupakan "kumpulan" teori-teori ilmiah yang bersifat dasar dan teoretis, yang belum dikaitkan dengan masalah-masalah kehidupan yang bersifat praktis. Sedangkan ilmu terapan merupakan "aplikasi" ilmu murni kepada masalah-masalah kehidupan yang mempunyai manfaat/kegunaan praktis.

Ilmu-Ilmu Sosial (The Social Sciences) berkembang agak lambat dibandingkan ilmu-ilmu alam. Namun pada pokoknya terdapat cabang-cabang utama dalam ilmu-ilmu sosial ini, yakni Antropologi (tentang manusia dalam perspektif waktu dan tempat), Psikologi (tentang proses mental dan kelakuan manusia), Ekonomi (tentang manusia dalalm memenuhi kebutuhannya lewat proses pertukaran, dll), Sosiologi (tentang struktur organisasi sosial kemasyarakatan, dll), Ilmu Politik (tentang sistem dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara, dll), dan sebagainya.

Cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (social sciences) ini kemudian mempunyai cabang-cabang lagi. Antropologi, misalnya, terpecah menjadi : Arkeologi, Antropologi Fisik, Linguistik, Etnologi, Antropologi Sosial Kultural, dan sebagainya.

Dari ilmu-ilmu tersebut, yang dapat kita golongkan ke dalam ilmu murni meskipun tidak sepenuhnya, berkembang ilmu sosial terapan yang merupakan "aplikasi" berbagai konsep dari ilmu-ilmu sosial murni kepada suatu bidang telaahan sosial tertentu.

Pendidikan, misalnya, merupakan ilmu sosial "terapan" yang meng-aplikasi-kan konsep-konsep dari Psikologi, Antropologi, dan Sosiologi. Demikian juga Manajemen, merupakan ilmu sosial "terapan" yang meng-aplikasi-kan konsep-konsep dari Psikologi, Ekonomi, Antropologi, dan Sosiologi.

Di samping ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), pengetahuan mencakup juga Humaniora dan Matematika. Humaniora mencakup : Seni, Filsafat, Agama, Bahasa, dan Sejarah. Tetapi Sejarah kadang-kadang dimasukkan juga ke dalam ilmu-ilmu sosial (the social sciences), dan ini merupakan "kontroversi yang berkepanjangan", apakah Sejarah itu ilmu atau humaniora ?

Kebanyakan, keberatannya beberapa kalangan mengenai dimasukkannya Sejarah ke dalam kelompok ilmu-ilmu sosial itu terletak pada "penggunaan data-data sejarah" yang seringkali merupakan penuturan orang, yang siapa tahu, bisa saja orang itu adalah "PEMBOHONG". Mengenai Arkeologi, ini sudah tidak lagi dipermasalahkan, sudah tidak lagi diperdebatkan, sebab buktinya adalah "benda-benda sejarah" hasil penggalian dan penemuan.

Matematika, seperti akan kita bahas selanjutnya, bukan cuma merupakan ilmu, melainkan juga cara berpikir deduktif. Matematika itu merupakan "sarana berpikir" yang sangat penting dalam kegiatan berbagai disiplin keilmuan. Termasuk kepada kelompok pengetahuan yang "sudah tua" usianya, dan "paling pertama" berkembang.

EUCLID (330-275 S.M.) menulis elemen yang merupakan dasar-dasar ilmu ukur sampai sekarang. Studi Matematika dewasa ini, mencakup : Aritmatika, Geometri, Teori Bilangan, Aljabar, Trigonometri, Geometri Analitik, Persamaan Diferensial, Kalkulus, Topologi, Geometri Non-Euclid, Teori Fungsi, Probabilitas dan Statistika, Logika, dan Logika Matematis.


Semoga ada manfaatnya!






1. Endang S. Anshory, Ilmu, Filsafat dan Agama (Surabaya, 1979).




0 Comments:

Post a Comment

Komentar, kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami terima dengan tangan terbuka.
Komentar Anda akan dianggap SPAM jika:
- Menyematkan Link Aktif
- Mengandung dan/atau Menyerang SARA
- Mengandung Pornografi

Tidak ada CAPTCHA dan Moderasi Komentar di sini.

Entri Populer

 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.