Komunitas Filsafat™ » Beranda Filsafat » » Metafisika dan Beberapa Tafsirannya (1)

Metafisika dan Beberapa Tafsirannya (1)

Gaosur Rohim Tuesday, March 27, 2012 2 Comments
Metafisika dan Beberapa Tafsirannya (1)
Jika diibaratkan, pikiran adalah sebuah "roket" yang meluncur ke cakrawala, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika adalah sebagai "landasan" peluncurannya. Dunia yang sepintas lalu kelihatannya sangat nyata ini, ternyata banyak menimbulkan berbagai spekulasi filsafati tentang hakikatnya. Bidang telaah filsafati yang yang disebut metafisika ini, merupakan "tempat berpijak" dari setiap pemikiran filsafati, termasuk pemikiran ilmiah.


Dewasa ini, ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan, yang mempengaruhi "reproduksi" dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi, ilmu bukan saja bisa menimbulkan gejala-gajala dehumanisasi, namun bahkan ada kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. Dengan kata lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, tetapi mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. Atau dengan kata lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun menciptakan tujuan hidup itu sendiri.

Meminjam perkataan ahli Ilmu Jiwa yang terkenal, yakni CARL GUSTAV JUNG (-) dalam bukunya The Creative Process, bahwa : "bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust, melainkan Faust yang menciptakan Goethe...". (Carl Gustav Jung, "Psychology and Literature", The Creative Process), hlm. 222.

Dalam sajak Taufiq Ismail, tak henti-hentinya Fariruddin Attar terpesona menatap dunia, menjangkau jauh ke dalamnya :

Fariruddin Attar bangunlah pada malam hari
Dan dia memikirkan tentang dunia ini
Ternyata dunia ini
Adalah sebuah peti
Sebuah peti yang besar dan tertutup di atasnya
Dan kita manusia berputar-putar di dalamnya
Dunia sebuah peti yang besar
Dan kita terkurung di dalamnya
Dan kita berjalan di dalamnya
Dan kita bermenung di dalamnya
Dan kita berkembang biak di dalamnya
Dan kita membuat peti di dalamnya
Dan kita membuat peti
Di dalam peti ini....
(Taufiq Ismail Membaca Puisi, Taman Ismail Marjuki, 1980), hlm. 23.

Demikianlah manusia, terutama para pemikirnya. Seperti Fariruddin Attar dalam sajak Taufiq Ismail ini, tak henti-hentinya terpesona menatap dunia; menjangkau jauh ke dalamnya : apakah hakikat kenyataan ini sebenarnya ? Metafisika ini merupakan salah satu bidang telaah filsafati, yang dijadikan sebagai "tempat berpijak" dari segenap pemikiran filsafati, termasuk juga pemikiran ilmiah. Ibaratnya, pikiran manusia itu adalah seperti sebuah "roket" yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan. Maka, disadari atau tidak, rela ataupun tidak, metafisika inilah yang dijadikan "landasan" peluncurannya.


Beberapa Tafsiran Metafisika

Tafsiran yang paling pertama yang diberikan manusia terhadap alam ini, adalah bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat ghaib (supranatural). Dan wujud-wujud ini bersifat "lebih tinggi" atau "lebih kuasa" dibandingkan dengan alam yang nyata.

Animisme, adalah merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran-pemikiran supranaturalisme ini; dimana dalam hal ini mereka sangat mempercayai bahwa terdapat roh-roh yang bersifat ghaib yang terdapat dalam setiap benda. Misalnya seperti pohon, batu, air, tanah, dan sebagainya. Animisme ini termasuk salah satu aliran kepercayaan yang "paling tua" umurnya dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia, dan sampai sekarang pun masih banyak dipeluk oleh beberapa masyarakat di muka bumi ini. Sebagai lawan dari supranaturalisme, maka ada juga terdapat paham (aliran) yang disebut Naturalisme, yakni paham yang "menolak" pendapat bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat supranaturalisme ini.

Materialisme, merupakan aliran kepercayaan yang berdasarkan pemikiran-pemikiran yang bersifat naturalisme, berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan-kekuatan yang bersifat ghaib, melainkan oleh kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan diketahui. Dengan demikian, bagi mereka yang menganut paham Materialisme ini, hal seperti itu dapat dipelajari dan dapat diketahui.

Prinsip-prinsip Materialisme ini, pertama kali dikembangkan oleh DEMOCRITOS (460-370 S.M.). Ia mengembangkan teori tentang atom yang dipelajarinya dari gurunya, yakni LEUCIPPUS (). Bagi Democritos, bahwa unsur-unsur (anaashir) dasar dari alam ini adalah atom : "....Hanya berdasarkan kebiasaan saja bahwa manis itu manis, pahit itu pahit, panas itu panas, dingin itu dingin, warna itu warna. Dalam kenyataannya, hanya terdapat atom dan kehampaan. Artinya, obyek dari penginderaan sering dianggap nyata, padahal tidak demikian. Hanya atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata....". (Dikutip dari John Herman Randall dalam Philosophy An Introduction, 1969), hlm. 184.

Atau dengan kata lain; manis, pahit, panas, dingin, ataupun warna, adalah terminologi yang kita berikan kepada "gejala yang kita tangkap" melalui pancaindera. Nah, dari rangsangan pancaindera inilah kemudian disalurkan ke otak kita, hingga menghadirkan gejala-gejala tersebut.

Dengan demikian, maka gejala-gejala alam dapat didekati dari segi proses kimia-fisika. Selama diterapkan kepada zat-zat (dzatiah) yang mati seperti batuan atau karat besi, maka hal seperti ini tidak terlalu menimbulkan permasalahan.  Namun bagaimana dengan makhluk hidup, termasuk manusia itu sendiri ? Nah, di sinilah mereka yang menganut paham Mekanistik ditentang habis-habisan oleh mereka yang menganut paham Vitalistik.

Bagi kaum Mekanistik, mereka melihat gejala-gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya sekedar merupakan gejala kimia-fisika semata. Tetapi bagi kaum Vitalistik, justru hidup itu adalah "sesuatu yang unik", yang berbeda secara substantif dengan proses tersebut.

Lalu bagaimana dengan pikiran dan kesadaran itu sendiri ?
Secara fisiologis, otak manusia itu kan terdiri dari 10 sampai 15 biliun neuron. Neuron itu apa ? Sederhana saja, neuron adalah "sel syaraf yang yang merupakan dasar dari keseluruhan sistem syaraf". Cara bekerja otak ini merupakan obyek (maudhu) telaahan dari berbagai macam disiplin keilmuan; yakni seperti fisiologi, psikologi, kimia, matematika, fisika tekhnik, neuro-fisiologi, dan sebagainya.

Sudah menjadi kenyataan yang tidak perlu diperdebatkan lagi, bahwa proses berpikir manusia itu bisa menghasilkan pengetahuan tentang zat (dzatiah) maupun obyek yang ditelaahnya. Namun apakah kebenarannya hakikat pemikiran tersebut ? Apakah dia berbeda dengan zat (dzatiah) yang ditelaahnya ? Ataukah hanya "bentuk lain" dari zat (dzatiah) tersebut ?

Dalam hal ini, mereka yang menganut paham Monistik mempunyai pendapat yang "tidak membedakan" antara zat dengan pikiran (kesadaran). Mereka hanya membedakan dalam gejala-gejala yang disebabkan oleh suatu proses yang berlainan (bertolak belakang), namun mempunyai substansi yang sama. Ibarat zat dan energi, dalam teori Relativitas Einstein, bahwa "energi hanya merupakan bentuk lain dari zat". Dengan demikian, maka proses berpikir dianggap sebagai aktivitas elektrokimia dari otak.

Jadi, bagi mereka yang menganut paham Monoistik ini, bahwa yang membedakan antara robot dengan manusia itu adalah hanya terletak pada "komponen" dan "struktur" yang membangunnya, dan sama sekali bukan terletak pada substansinya, yang pada hakikatnya berbeda secara nyata.

Bagi kaum Monoistik, kalau komponen dan struktur robot sudah dapat menyamai manusia, maka robot itu pun bisa menjadi seperti manusia. Ya, seperti pekikan si Radius (sebuah/seorang robot yang jangkung dan bersemangat, dalam sebuah sandiwara yang terkenal karangan Karel Capek, yang berjudul : R.U.R. - Rossum's Universal Robots) :"....Robot-robot dari seluruh penjuru dunia ! Kekuasaan manusia telah jatuh, dan kekuasaan baru telah tumbuh. Pemerintahan robot-robot ! Majuuu jalan. G-R-A-K !...".

Namun pendapat kaum Monoistik yang demikian itu, ternyata ditolak mentah-mentah oleh kaum yang menganut paham Dualistik. Terminologi dualisme ini mula-mula dikembangkan oleh THOMAS HYDE (), sedangkan monoisme oleh CHRISTIAN WOLFF (1700-?).

Dalam metafisika, maka penafsiran kaum Dualistik ini adalah "membedakan" antara zat (dzatiah) dan pikiran (kesadaran). Bagi mereka, yang berbeda hanyalah sui generis-nya secara substantif. Filsuf yang menganut paham Dualistik ini di antaranya adalah Cartesius alias RENE DESCRATES (1959-1650), JOHN LOCKE (1632-1714), GEORGE BERKELEY (1685-1753), dan sebagainya.


Semoga bermanfaat!







2 comments:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tolong jangan menyematkan link aktif kalau komentarnya ingin abadi di sini!!!!

      Delete

Komentar, kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami terima dengan tangan terbuka.
Komentar Anda akan dianggap SPAM jika:
- Menyematkan Link Aktif
- Mengandung dan/atau Menyerang SARA
- Mengandung Pornografi

Tidak ada CAPTCHA dan Moderasi Komentar di sini.

Entri Populer

 
Copyright © 2008 - 2014 Komunitas Filsafat™.
TOS - Disclaimer - Privacy Policy - Sitemap XML - DMCA - All Rights Reserved.
Hak Paten Template pada Creating Website - Modifikasi oleh Gaosur Rohim.
Didukung oleh Blogger™.